Gus Sobih: Ramadan Momentum Kembali pada Keteraturan

Gus Sobih Adnan saat memberikan tausiyah pada acara Buka Puasa Bersama PT Cirebon Electric Power (Cirebon Power) bertema "Energi Silaturahmi, Energi Kebaikan" di Hotel Metland Cirebon, Kamis, 5 Maret 2025. IKHBAR/FSJ

Ikhbar.com: Ramadan menjadi pengingat penting bagi manusia untuk kembali pada keteraturan hidup yang sering terabaikan di tengah kesibukan sehari-hari.

Hal tersebut disampaikan salah satu pengasuh Pondok Pesantren Ketitang Cirebon, KH Sobih Adnan, dalam tausiyah pada acara Buka Puasa Bersama PT Cirebon Electric Power (Cirebon Power) bertema “Energi Silaturahmi, Energi Kebaikan” di Hotel Metland Cirebon, Kamis, 5 Maret 2026.

Sosok yang karib disapa Gus Sobih itu menilai kehidupan manusia berjalan dalam sebuah sistem yang menuntut ketertiban.

“Setiap hari kita hidup di tengah sistem yang menuntut ketertiban, menuntut keteraturan. Itu makanya, ada jadwal, ada target, dan ada tanggung jawab. Ada hal-hal yang harus selesai tepat waktu, karena banyak pihak bergantung padanya,” ujar founder sekaligus CEO Ikhbar Group tersebut.

Baca: Alam Semesta juga Berpuasa

Menurut dia, kelalaian terhadap satu bagian kecil dalam sistem tersebut dapat memicu dampak yang lebih luas. Ketidaktepatan dalam menjalankan tanggung jawab berpotensi menimbulkan kerugian bagi banyak pihak.

“Kita lalai satu bagian saja, dampaknya kadang-kadang jadi panjang. Efeknya juga bisa luar biasa,” kata dia.

Namun, dia mengingatkan disiplin tidak hanya berlaku dalam dunia kerja atau kehidupan sosial manusia. Alam semesta, menurutnya, telah lebih dahulu menunjukkan contoh keteraturan yang jauh lebih presisi.

“Gunung tetap berdiri di tempatnya, laut berhenti pada garis pantainya, dan matahari terbit serta tenggelam tanpa pernah terlambat. Seluruhnya berjalan dalam jalur yang telah ditentukan,” kata dia mencontohkan.

Gus Sobih mengutip pandangan Imam Abu al-Mawahib ‘Abd al-Wahhab bin Ahmad al-Sya‘rani dalam Al-Fath al-Mubin fi Jumlah min Asrar al-Din aw Asrar Arkan al-Islam yang menyatakan keteraturan tersebut sebagai bukti bahwa alam semesta juga berpuasa.

الْمَوْجُودَاتُ كُلُّهَا تَصُومُ

“Semua makhluk ada dalam keadaan puasa.”

Menurut penjelasan Imam al-Sya‘rani, puasa pada hakikatnya adalah imsak, yaitu menahan diri agar tidak keluar dari fungsi yang telah ditetapkan. Alam menjalankan “puasa” itu dengan caranya masing-masing.

“Gunung berpuasa dengan tetap kokoh di tempatnya. Laut berpuasa dengan menjaga batasnya. Matahari berpuasa dengan setia pada edarannya. Semua tetap berada pada jalur yang telah digariskan,” katanya.

Gus Sobih juga mengutip QS. Ali ‘Imran: 83. Allah Swt berfirman:

وَلَهُ أَسْلَمَ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ طَوْعًا وَكَرْهًا

“Kepada-Nya berserah diri apa yang ada di langit dan di bumi, dengan suka maupun terpaksa.”

Menurut Gus Sobih, manusia menjadi satu-satunya makhluk yang bisa keluar dari jalur tersebut karena memiliki kebebasan memilih. Dari kebebasan itu lahir tanggung jawab moral agar manusia tetap berada dalam batas yang benar.

“Alam tidak pernah keluar dari orbitnya. Manusia bisa. Alam tidak pernah melampaui fungsi penciptaannya. Manusia malah sering melebihi batas perannya,” ujarnya.

Baca: CEO Ikhbar.com: Skeptis Penting untuk Jaga Kewarasan di Era Banjir Informasi

Karena itu, Ramadan hadir setiap tahun sebagai pengingat bagi manusia untuk menyelaraskan kembali hidupnya dengan tatanan yang benar. Puasa melatih manusia berhenti sebelum melewati batas yang seharusnya tidak dilanggar.

“Saat menahan lapar, yang dilatih bukan sekadar fisik. Yang dilatih adalah kemampuan berhenti sebelum melewati batas. Berhenti sebelum dorongan emosi menguasai. Berhenti sebelum kepentingan pribadi menutup pertimbangan yang lebih luas,” kata Gus Sobih.

Dia menambahkan puasa merupakan latihan untuk kembali pada garis yang seharusnya dijalani manusia. Dalam kondisi tubuh yang lemah menjelang berbuka, manusia belajar bahwa kekuatan tidak selalu berarti bergerak atau berbicara.

“Kekuatan justru bisa diartikan sebagai kemampuan menahan diri,” ujarnya.

Di akhir tausiyah, Gus Sobih berharap Ramadan tidak berhenti sebagai rutinitas tahunan. Dia mengajak umat Islam menjadikan bulan suci tersebut sebagai kesempatan untuk kembali menata peran dan tanggung jawab dalam kehidupan.

“Ramadan adalah momentum menyelaraskan diri kembali dengan tatanan itu,” tuturnya.

Ikuti dan baca artikel kami lainnya di Google News.