Ikhbar.com: Waktu tidak pernah menunggu siapa pun. Pada titik itulah manusia kerap kalah, bahkan sebelum benar-benar bertanding.
Pesan tersebut mengemuka dalam khutbah Jumat pertama tahun 2026 di Masjid Agung Al-Imam Majalengka. Dari atas mimbar, Pengasuh Pondok Pesantren Al-Mizan Majalengka, Dr. KH Maman Imanulhaq, mengajak jemaah menengok kembali arah hidup melalui satu surat pendek yang menentukan, QS. Al-‘Ashr.
“Al-‘Ashr adalah surat yang sangat pendek, tetapi oleh para ulama disebut sebagai ringkasan ajaran Islam,” ujar Kiai Maman, Jumat, 2 Januari 2026.
Baca: Riwayat Kedekatan Gus Dur dan Kiai Maman
Kiai Maman mengutip pernyataan Imam Syafi‘i yang masyhur tentang kecukupan Surat Al-‘Ashr sebagai pedoman hidup bagi manusia.
“Allah membuka surat itu dengan sumpah yang tegas. Wa al-‘Ashr, demi waktu,” ucapnya.
Menurut Kiai Maman, sumpah tersebut menegaskan kedudukan waktu yang sangat penting dalam kehidupan manusia. Waktu menjadi modal utama yang tidak dapat diulang, tidak dapat dihentikan, dan terus bergerak membawa akibat.
Tokoh yang juga dikenal sebagai anggota DPR RI itu mengaitkan ayat tersebut dengan pepatah Arab lampau.
“Al-waqtu kas-saif, in lam taqtha‘hu qatha‘aka. Waktu seperti pedang. Jika tidak dimanfaatkan, waktu justru akan melukai manusia,” tutur Kiai Maman.
Setelah sumpah tersebut, Al-Qur’an menyampaikan pernyataan yang keras dan menyeluruh.
“Inna al-insaana lafii khusrin. Sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian,” lanjutnya.
Kiai Maman menjelaskan bahwa kerugian tersebut bersifat umum dan mencakup seluruh manusia. Secara fitrah, manusia terus kehilangan. Umur berkurang, tenaga melemah, dan kesempatan semakin menyempit.
“Manusia berada dalam kondisi merugi secara menyeluruh, kecuali mereka yang memenuhi syarat keselamatan,” kata Kiai Maman.
Dari titik itulah Kiai Maman memaparkan tiga jalan keselamatan. Jalan pertama adalah keimanan. Menurut Kiai Maman, iman tidak berhenti pada pengakuan lisan atau keyakinan yang bersifat abstrak.
“Iman adalah akidah yang kokoh serta menuntut tindakan nyata dan komitmen dalam kehidupan sosial,” ujarnya.
Iman membentuk cara pandang terhadap dunia secara utuh dan berkelindan dengan sikap hidup. Kiai Maman mengaitkan iman dengan amanah serta rasa aman.
“Iman melahirkan amanah, dan amanah menghadirkan keadaan yang aman,” ujar Kiai Maman.
Baca: Kiai Maman Ajak Generasi Muda Bersihkan Ruang Digital dari Kebencian
Ketika masyarakat dilanda dekadensi moral, kemerosotan akhlak, hingga kerusakan ekologis, kondisi tersebut dipandang sebagai tanda pengkhianatan terhadap iman. Ketidakamanan sosial, menurut Kiai Maman, tidak berdiri sebagai persoalan teknis semata, tetapi berakar pada krisis kepercayaan dan tanggung jawab.
Jalan kedua adalah kesalehan. Kesalehan tersebut tercermin dalam perilaku sehari-hari dan tidak berhenti pada ritual personal. Kesalehan sosial, kata Kiai Maman, tampak melalui kejujuran, kepedulian, serta keberpihakan pada kebaikan bersama. Tanpa perwujudan nyata, iman mudah berubah menjadi slogan yang kehilangan daya pengaruh.
Jalan ketiga adalah kesetiaan untuk saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran. Kiai Maman menegaskan bahwa keselamatan tidak mungkin diraih secara individual. Manusia membutuhkan jejaring moral, saling mengingatkan ketika menyimpang, dan saling menguatkan saat menghadapi ujian waktu.
Pada bagian akhir khutbah, Kiai Maman mengingatkan jemaah agar tidak menyalahkan waktu atas kegagalan dan kesempitan hidup. Kiai Maman mengutip hadis qudsi berikut.
أَنَا الدَّهْرُ فَلَا تَسُبُّوا الدَّهْرَ
“Aku adalah Penguasa waktu, maka janganlah kalian mencela waktu.” (HR Muslim)
Menurut Kiai Maman, Allah sepenuhnya mengatur dan menguasai waktu. Mencela waktu dipahami sebagai bentuk protes terhadap ketetapan dan kehendak-Nya.
“Yang perlu dikoreksi bukan waktu, melainkan cara manusia mengisi dan memanfaatkannya dengan baik,” pungkas Kiai Maman.