Ikhbar.com: Ramadan dikenal sebagai bulan diwajibkannya puasa. Namun, dalam Al-Qur’an, rangkaian ayat tentang puasa menyelipkan satu pesan yang berbicara khusus tentang doa.
Hal itu disampaikan Pengasuh Pondok Pesantren Al-Mizan Majalengka, Dr. KH Maman Imanulhaq, dalam program Kajian Ramadhan bertajuk “Ramadhan Bulan Doa” di PKB TV. Menurut Kiai Maman, penyisipan ayat tersebut menunjukkan bahwa Ramadan juga menjadi momentum penting untuk memperkuat hubungan manusia dengan Allah Swt melalui doa.
“Kalau kita membaca ayat-ayat yang berkaitan dengan puasa di bulan Ramadan, dari mulai Surah Al-Baqarah ayat 183 sampai 187 itu terselip satu ayat yang berkaitan dengan doa, yaitu dalam Surah Al-Baqarah 186. Maka beberapa ulama mengatakan bahwa Ramadan adalah bulan doa,” ujar Kiai Maman, dikutip pada Rabu, 11 Maret 2026.
Allah Swt berfirman:
وَاِذَا سَاَلَكَ عِبَادِيْ عَنِّيْ فَاِنِّيْ قَرِيْبٌ ۗ اُجِيْبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ اِذَا دَعَانِۙ فَلْيَسْتَجِيْبُوْا لِيْ وَلْيُؤْمِنُوْا بِيْ لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُوْنَ
“Apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Nabi Muhammad) tentang Aku, sesungguhnya Aku dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku.” (QS. Al-Baqarah: 186)

Baca: Kiai Maman Bagikan Ijazah Ayat Kursi untuk Perlindungan Diri
Inti ibadah
Menurut Kiai Maman, para ulama memandang posisi ayat tersebut sebagai penegasan bahwa puasa tidak sebatas menahan lapar dan dahaga. Ibadah ini juga membuka kesempatan bagi manusia untuk memperbanyak doa.
Sosok yang juga merupakan Anggota Komisi VIII DPR RI itu mengutip penjelasan ulama tafsir, termasuk Syekh Nawawi Al-Bantani, yang menyebut adanya beberapa riwayat mengenai sebab turunnya ayat tersebut. Salah satunya berkaitan dengan pertanyaan para sahabat kepada Nabi Muhammad Saw tentang cara berdoa.
Kala itu, para sahabat Nabi bertanya apakah perlu berteriak saat berdoa karena Tuhan dianggap jauh, atau cukup bermunajat karena Tuhan dekat. Pertanyaan tersebut dijawab melalui QS. Al-Baqarah: 186.
Kiai Maman juga mengingatkan bahwa dalam hadis Nabi Saw disebutkan kedudukan doa yang sangat penting dalam ibadah.
“Doa itu adalah inti dari ibadah,” kata Kiai Maman.
Baca: Mengapa Hasil tak Sesuai Harapan dan Doa? Ini Penjelasan Imam Al-Ghazali
Dekat bukan soal jarak
Dalam ayat tersebut terdapat kalimat “fa inni qarib” yang berarti “sesungguhnya Aku dekat”. Menurut Kiai Maman, kedekatan ini tidak boleh dipahami secara fisik karena Allah Swt tidak terikat oleh ruang dan tempat.
“Kalimat ‘inni qarib’ tidak menunjukkan bahwa Allah itu dekat secara jarak, tetapi cepat secara ijabah,” ujarnya.
Penjelasan tersebut juga berkaitan dengan hadis yang diriwayatkan dari Abu Musa al-Asy’ari. Dalam riwayat itu, Nabi Muhammad Saw menegur para sahabat yang berteriak ketika berdoa.
Nabi Saw bersabda:
إِنَّكُمْ لَا تَدْعُونَ أَصَمَّ وَلَا غَائِبًا وَلَكِنْ تَدْعُونَ سَمِيعًا بَصِيرًا
“Kalian tidak berdoa kepada Zat yang tuli dan tidak ada, tetapi kalian berdoa kepada Yang Maha Mendengar dan Maha Melihat.” (HR. Bukhari)
Pesan hadis tersebut menegaskan bahwa doa tidak memerlukan suara keras. Yang dibutuhkan adalah keyakinan bahwa Allah Swt mendengar setiap permohonan hamba-Nya.
Baca: 3 Jalan Keselamatan menurut Kiai Maman
Syarat doa dikabulkan
Kiai Maman menjelaskan bahwa ayat tersebut juga memuat syarat penting agar doa dikabulkan. Allah Swt menyatakan bahwa Dia mengabulkan doa orang yang sungguh-sungguh berdoa.
Namun, dalam praktiknya, tidak semua doa disertai kesungguhan.
“Aku (Allah) akan mengijabah doa kalau dia berdoa. Artinya tidak sedikit orang yang saat berdoa, sebenarnya dia tidak berdoa,” kata dia.
Kiai mencontohkan fenomena ibadah yang dilakukan secara formal tetapi tidak memberi dampak spiritual.
“Ada orang yang dia salat rajin tapi tidak dianggap salat. Atau ada orang yang berpuasa di Ramadan tetapi puasanya itu tidak mendapatkan apa-apa kecuali lapar dan dahaga.”
Menurut Kiai Maman, hal tersebut terjadi karena seseorang tidak memperbaiki sikap dan perilaku ketika berdoa.
Baca: Doa ketika Hasil tak Sesuai Harapan
Tauhid sebagai fondasi doa
Pada bagian akhir ayat tersebut, Kiai Maman menegaskan pentingnya keimanan sebagai landasan doa.
Allah Swt berfirman:
فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ
“Maka, hendaklah mereka memenuhi (perintah)-Ku dan beriman kepada-Ku agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” (QS. Al-Baqarah: 186)
Kiai Maman menjelaskan bahwa ayat tersebut menegaskan hubungan antara doa dan tauhid. Doa yang dipanjatkan kepada selain Allah akan kehilangan kekuatannya.
Tauhid, menurut Kiai Maman, berarti meyakini bahwa hanya Allah yang memiliki kekuasaan mutlak.
Kiai Maman juga mengingatkan bahwa banyak orang terlalu menggantungkan harapan pada harta, kekuasaan, atau keturunan. Padahal semua itu bersifat sementara.
“Tidak ada yang memiliki kekuasaan abadi kecuali Allah,” kata dia.
Kiai Maman mengingatkan bahwa manusia sering memohon sesuatu yang sebenarnya bukan kebutuhan utama.
“Jadi sekali lagi, kalau kita berdoa Allah tidak akan memberikan apa yang kita inginkan, tapi Allah yakin akan memberikan apa yang kita butuhkan,” pungkas Kiai Maman.