Kiai Zuhri Adnan: Siapkan Diri Tunaikan Misi Takwa di Bulan Puasa

Dewan Pakar LDNU PCNU Kab. Cirebon dan Pengasuh PP. Ketitang Cirebon, KH Ahmad Zuhri Adnan. IKHBAR/Doh

Ikhbar.com: Pengasuh Pondok Pesantren Ketitang Cirebon, KH Ahmad Zuhri Adnan, menegaskan bahwa puasa Ramadan harus dijalani sebagai proses pembentukan takwa, bukan sebagai kewajiban ritual tahunan semata. Menurut dia, takwa tercermin melalui perubahan sikap serta perilaku dalam kehidupan sehari-hari.

Pesan tersebut disampaikan Kiai Zuhri saat menyampaikan tausiyah pada Peringatan Isra Mikraj Nabi Muhammad Saw dan Targhib Ramadan yang diselenggarakan Paguyuban Alumni SMAN 1 Lemahabang (Pasmanla) Kabupaten Cirebon, di Taman Hutan Raya Ir. H. Djuanda, Cimenyan, Kabupaten Bandung, Sabtu, 31 Januari 2026.

Baca: Salat Adalah Jembatan Kemuliaan Rajab, Sya’ban, dan Ramadan

Dalam kesempatan itu, Kiai Zuhri mengutip QS. Al-Baqarah ayat 183 sebagai fondasi utama ibadah puasa:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ

“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”

Pendakwah yang merupakan alumnus Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, Jawa Timur, tersebut menjelaskan bahwa ayat itu menegaskan takwa sebagai tujuan puncak ibadah puasa. Karena itu, puasa tidak cukup dipahami sebagai menahan makan dan minum, melainkan latihan pengendalian diri secara menyeluruh.

Pengasuh PP Ketitang Cirebon, KH Ahmad Zuhri Adnan, saat menyampaikan tausiyah dalam Peringatan Isra Mikraj Nabi Muhammad Saw dan Targhib Ramadan, Paguyuban Alumni SMAN 1 Lemahabang (Pasmanla), di kawasan Taman Hutan Raya (Tahura) Ir. H. Djuanda, Cimenyan, Kabupaten Bandung, Sabtu, 31 Januari 2026. Dok IST

Ia menambahkan, seluruh kandungan Al-Qur’an pada hakikatnya bermuara pada pesan takwa. Kata takwa disebut ratusan kali dalam berbagai bentuk, yang menunjukkan posisinya sebagai inti ajaran Islam. Ramadan menjadi masa latihan intensif agar nilai takwa tetap terjaga setelah bulan puasa berakhir.

Kiai Zuhri kemudian menguraikan ciri orang bertakwa sebagaimana disebutkan Allah dalam QS. Ali ‘Imran ayat 134, yakni gemar berderma, mampu menahan amarah, serta memaafkan kesalahan orang lain.

“Puasa melatih empati. Orang yang berpuasa merasakan lapar, lalu hatinya lebih mudah tergerak untuk berbagi,” ujarnya.

Baca: 5 Keuntungan Mondok di Pesantren Ketitang Cirebon

Selain itu, puasa melatih pengendalian emosi sehingga seseorang tidak mudah tersulut amarah.

Kiai Zuhri menegaskan bahwa perubahan akhlak menjadi indikator utama keberhasilan Ramadan. Tanpa perubahan sikap, ibadah puasa berisiko kehilangan makna substansinya.

“Ramadan itu madrasah. Kalau setelahnya tidak ada perubahan, berarti pelatihannya tidak jalan,” pungkas Kiai Zuhri.

Ikuti dan baca artikel kami lainnya di Google News.