Lewat Artikel Berbahasa Inggris, Prof Rokhmin: Zakat Mestinya Mampu Cegah Ketimpangan Ekonomi Rakyat

Prof. Rokhmin Dahuri dan artikelnya yang berjudul “Ramadan values provide basis for just welfare distribution", di The Jakarta Post, Selasa, 24 Maret 2026. Dok IST

 

Ikhbar.com: Pakar Kelautan dan Perikanan, Prof. Dr. Ir. H. Rokhmin Dahuri, menegaskan bahwa nilai Ramadan, terutama melalui instrumen zakat, infak, dan sedekah (ZIS), dapat menjadi solusi konkret untuk menekan ketimpangan ekonomi di Indonesia.

Pandangan tersebut disampaikan Prof. Rokhmin dalam tulisannya yang dimuat dalam koran berbahasa Inggris, The Jakarta Post, edisi Selasa, 24 Maret 2026. Artikel berjudul “Ramadan values provide basis for just welfare distribution” itu menyoroti bahwa Indonesia sedang menghadapi tantangan serius, baik pada tingkat global maupun domestik.

Di dalam negeri, ketimpangan ekonomi masih menjadi persoalan besar. Prof. Rokhmin mengingatkan bahwa kesenjangan kekayaan di Indonesia tergolong tinggi sehingga memerlukan pendekatan yang mencakup aspek struktural sekaligus nilai.

“Peran nilai-nilai etika dan spiritual dalam membentuk perilaku ekonomi sering kali kurang mendapat perhatian,” tulis Anggota Komisi IV DPR RI tersebut.

Baca: Susunan Pengurus Baznas Pusat 2026-2031

Prof. Rokhmin menegaskan bahwa praktik Ramadan, terutama puasa, dapat menjadi landasan moral untuk mengatasi ketimpangan secara lebih menyeluruh.

Menurutnya, puasa merupakan proses pembentukan empati sosial.

“Dengan merasakan lapar dan menahan diri, individu, terutama yang lebih beruntung secara ekonomi, didorong memahami realitas kelompok miskin,” ujarnya.

Dari pengalaman tersebut, lanjutnya, tumbuh solidaritas yang dapat memengaruhi keputusan ekonomi agar lebih berkeadilan.

Pembina Pondok Pesantren Al-Muflihin, Gebang, Cirebon, itu juga menekankan pentingnya penguatan instrumen keuangan sosial Islam, seperti ZIS. Instrumen tersebut dinilai memiliki keunggulan karena bertumpu pada kesadaran moral dan spiritual, sehingga tingkat kepatuhannya cenderung lebih tinggi dibandingkan mekanisme konvensional.

“ZIS berfungsi sebagai mekanisme distribusi kekayaan secara sukarela yang berakar pada kewajiban moral dan keimanan,” tulisnya.

Baca: Prof. Rokhmin Bagikan 5 Cara Meningkatkan Etos Kerja ala Islam

Ia mengungkapkan bahwa potensi ZIS di Indonesia sangat besar, yakni sekitar Rp327 triliun per tahun. Namun, realisasi penghimpunannya masih jauh dari optimal.

“Baru sekitar 10 persen dari potensi tersebut yang berhasil dikumpulkan setiap tahun,” katanya.

Karena itu, Prof. Rokhmin menilai optimalisasi pengelolaan ZIS menjadi langkah strategis untuk mengurangi kemiskinan dan ketimpangan. Ia menyarankan agar dana tersebut tidak hanya disalurkan untuk kebutuhan konsumsi, tetapi juga diarahkan ke sektor produktif.

Artikel Prof. Rokhmin Dahuri berjudul “Ramadan values provide basis for just welfare distribution”, di The Jakarta Post, Selasa, 24 Maret 2026. Dok IST

“Selama Ramadan, lonjakan pemberian amal dapat diarahkan ke sektor produktif seperti pembiayaan usaha mikro, agribisnis, dan ekonomi biru,” tulis Menteri Kelautan dan Perikanan RI Periode 2001-2004 tersebut.

Baca: Prof. Rokhmin Bedah Fikih Ekonomi dan Keadilan bagi Nelayan Indonesia

Dengan pendekatan itu, penerima bantuan diharapkan dapat bertransformasi menjadi pemberi sehingga tercipta siklus ekonomi yang berkelanjutan.

Selain itu, ia juga menyoroti meningkatnya konsumsi selama Ramadan. Menurutnya, kondisi tersebut bertentangan dengan esensi puasa yang mengajarkan moderasi dan pengendalian diri.

“Nilai sejati puasa terletak pada upaya menumbuhkan moderasi dan mengurangi pemborosan,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa pola konsumsi yang lebih disiplin dapat berdampak luas, termasuk menekan pemborosan makanan serta membuka ruang bagi penguatan program sosial.

Prof. Rokhmin juga menepis anggapan bahwa puasa menurunkan produktivitas. Ia menilai Ramadan justru mendorong peningkatan kualitas kerja melalui nilai ihsan atau profesionalisme.

“Disiplin selama puasa, termasuk manajemen waktu dan pengendalian diri, justru dapat meningkatkan produktivitas,” tulisnya.

Baca: Prof. Rokhmin Beberkan Strategi Bangkitkan Ekonomi Mandiri Indonesia

Lebih lanjut, ia menekankan pentingnya integritas dalam aktivitas ekonomi, terutama di sektor pertanian, perikanan, serta usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Menurutnya, perilaku ekonomi yang etis akan meningkatkan daya saing sekaligus memperbaiki posisi kelompok berpenghasilan rendah.

Ia juga menggarisbawahi pentingnya praktik ekonomi yang adil, seperti pembayaran upah tepat waktu serta menghindari eksploitasi.

“Ajaran Islam menekankan keadilan dalam transaksi ekonomi dan melarang konsentrasi kekayaan yang berlebihan,” katanya.

Di bagian akhir, Prof. Rokhmin menegaskan bahwa nilai Ramadan sejalan dengan visi Indonesia Emas 2045. Namun, ia mengingatkan bahwa pertumbuhan ekonomi tidak cukup tanpa keadilan sosial.

“Ramadan menawarkan kerangka etika yang mencakup empati, redistribusi, moderasi, produktivitas, dan keadilan,” tulisnya.

Ikuti dan baca artikel kami lainnya di Google News.