Halalbihalal Dulur Cirebonan, Prof Rokhmin: Ekonomi Ciayumajakuning Butuh Pertumbuhan di Atas 7 Persen

Suasana acara Halalbihalal Paguyuban Dulur Cirebonan Ciayumajakuning di Ballroom Kementerian Kelautan dan Perikanan, Jakarta, Ahad (5/4/2026). Kegiatan ini dihadiri berbagai elemen masyarakat dari Cirebon, Indramayu, Majalengka, dan Kuningan. Dok IST

Ikhbar.com: Pertumbuhan ekonomi tinggi menjadi prasyarat bagi suatu wilayah untuk keluar dari jebakan kelas menengah dan mencapai pemerataan kesejahteraan. Tanpa laju di atas 7 persen per tahun, persoalan struktural seperti pengangguran dan kemiskinan sulit ditekan secara signifikan.

Ketua Umum Paguyuban Dulur Cirebonan, Prof. Dr. Ir. H. Rokhmin Dahuri menyampaikan bahwa pertumbuhan ekonomi tinggi merupakan kebutuhan yang harus dicapai. Dia menegaskan, suatu wilayah hanya dapat berkembang jika mampu menghasilkan pertumbuhan ekonomi yang tinggi, berkualitas, dan inklusif.

“Mampu menghasilkan pertumbuhan ekonomi yang tinggi, rata-rata lebih dari 7 persen per tahun, berkualitas, menyerap banyak tenaga kerja, inklusif, ramah lingkungan, dan berkelanjutan,” ujarnya dalam forum Halalbihalal Paguyuban Dulur Cirebonan di Ballroom Kementerian Kelautan dan Perikanan, Jakarta, Ahad, 5 April 2026.

Prof. Dr. Ir. H. Rokhmin Dahuri menyampaikan materi dalam acara Halalbihalal Paguyuban Dulur Cirebonan Ciayumajakuning di Ballroom Kementerian Kelautan dan Perikanan, Jakarta, Ahad (5/4/2026). Dalam kesempatan tersebut, dia menekankan pentingnya pertumbuhan ekonomi dan transformasi pembangunan daerah. Dok. IST

Baca: Prof. Rokhmin Sebut Ekonomi Berkeadilan Bagian dari Pelajaran Ramadan

Anggota Komisi IV DPR RI tersebut menjelaskan, pada 2024, tingkat kemiskinan provinsi ini berada di angka 7,46 persen. Sementara itu, koefisien Gini mencapai 0,421 dan termasuk tiga tertinggi secara nasional. Indeks pembangunan manusia tercatat 74,92, masih di bawah kategori wilayah maju yang mensyaratkan angka di atas 80.

Di wilayah Cirebon, Indramayu, Majalengka, dan Kuningan (Ciayumajakuning), kondisi serupa juga terlihat. Indramayu mencatat tingkat kemiskinan 11,93 persen, disusul Kuningan 11,88 persen, dan Cirebon 11 persen. Angka tersebut menunjukkan tekanan sosial ekonomi yang masih tinggi.

Prof Rokhmin menegaskan, pertumbuhan di bawah 7 persen belum mampu menyerap tenaga kerja secara luas.

“Akibatnya, pertumbuhan ekonomi cenderung tidak inklusif dan hanya dinikmati sebagian kelompok,” ungkap Menteri Kelautan dan Perikanan (2001-2004) tersebut.

Baca: Prof. Rokhmin Paparkan Potensi Blue Carbon ke DPR Inggris

Dalam konteks global yang penuh ketidakpastian, mulai dari konflik geopolitik hingga disrupsi teknologi, risiko stagnasi meningkat jika daerah tidak mampu mendorong pertumbuhan lebih tinggi. Ia mengingatkan, perlambatan ekonomi akan berdampak langsung pada kenaikan pengangguran dan kemiskinan.

Karena itu, ia mendorong pemerintah daerah di Ciayumajakuning untuk mengambil langkah konkret, terutama dalam memperkuat sektor produktif dan meningkatkan daya saing wilayah.

“Peningkatan daya saing dan pertumbuhan ekonomi yang tinggi, lebih dari 7 persen per tahun, menjadi kunci agar kesejahteraan masyarakat bisa tercapai secara adil,” pungkas Prof Rokhmin.

Ikuti dan baca artikel kami lainnya di Google News.