Ikhbar.com: Anggota Dewan Pengasuh Pondok Pesantren KHAS Kempek Cirebon, KH Ahmad Zaini Dahlan, menegaskan bahwa bekal ilmu menjadi faktor penting dalam menentukan kualitas ibadah pada bulan suci Ramadan. Menurutnya, puasa tidak cukup dijalankan secara formal, tetapi harus ditopang pemahaman dan kesiapan spiritual.
Ramadan, kata Kiai Ahmad, merupakan kesempatan untuk meningkatkan iman dan takwa. Karena itu, persiapan sebelum memasuki bulan suci perlu dilakukan secara serius, salah satunya melalui penguatan literasi keislaman.
Dalam konteks tersebut, Kiai Ahmad menyambut hadirnya buku “Peta Jalan Ramadan: Menata Ibadah, Keluarga, hingga Kepedulian terhadap Sesama” yang disusun tim redaksi Ikhbar.com. Buku ini diproyeksikan sebagai panduan praktis agar umat Islam dapat menjalankan puasa secara lebih terarah dan terukur.
“Buku ini bisa dijadikan sebagai bekal Ramadan, agar kita memiliki panduan dalam menjalankan aktivitas selama bulan puasa, mulai dari ibadah pribadi, kehidupan keluarga, hingga kepedulian sosial,” ujarnya dalam acara Launching Buku ‘Peta Jalan Ramadan’ dan Munggahan Puasa 1447 H di Pondok Pesantren Ketitang Cirebon, pada Sabtu, 14 Februari 2026.
Baca: Ikhbar.com Rilis Buku Panduan Ramadan Berbasis Keluarga dan Sosial
Kiai Ahmad kemudian menegaskan dasar teologis kewajiban puasa. Ia mengingatkan bahwa perintah tersebut ditujukan kepada orang-orang beriman, sehingga pelaksanaannya berkaitan langsung dengan komitmen keimanan.
“Kewajiban puasa ditujukan kepada orang beriman. Jika seseorang dengan sengaja meninggalkannya tanpa alasan syar’i, hal itu menunjukkan lemahnya komitmen iman. Tujuan puasa adalah membentuk pribadi yang bertakwa,” katanya.
Lebih jauh, Kiai Ahmad menjelaskan bahwa puasa memiliki karakter yang berbeda dari ibadah lain karena tidak tampak secara lahiriah. Di situlah letak ujian kejujuran dan integritas seorang Muslim.
“Ketika seseorang berpuasa dalam keadaan sendirian, tidak ada yang melihat selain Allah Swt. Jika ia benar-benar menjaga niatnya, ia akan tetap berpuasa hingga selesai. Dari situ tumbuh kesadaran bahwa Allah selalu mengawasi. Itulah inti takwa, dan itu yang hendak dibentuk melalui puasa,” jelasnya.
Pemahaman atas makna tersebut, lanjutnya, akan mendorong umat Islam menjalankan puasa secara lebih sadar dan berkualitas, bukan sekadar menahan lapar dan dahaga.
Baca: 5 Rekomendasi Buku Inspiratif dan Mencerahkan: Cocok Dibaca selama Ramadan!
Sejalan dengan itu, Kiai Ahmad menilai buku “Peta Jalan Ramadan” memuat pembahasan yang luas, mencakup dimensi spiritual, keluarga, dan sosial. Buku ini diharapkan dapat menjadi pegangan selama Ramadan agar ibadah tidak berjalan tanpa arah.
“Dengan hadirnya buku ini, umat Islam diharapkan dapat menjalani Ramadan secara lebih terarah, produktif, dan berdampak bagi diri sendiri maupun lingkungan sekitar,” pungkasnya.