Hidangan ‘Seribu’ Tangan

Di pesantren, bukber (buka bersama) seperti ini sebenarnya bukan sesuatu yang istimewa.
Ilustrasi. Olah Digital oleh IKHBAR

Oleh: Farikhahul Izzah
(Santri Pondok Pesantren KHAS Kempek Cirebon asal Sulawesi Tengah)

Farikhahul Izzah. IKHBAR/FSJ

SUARA riuh mulai terdengar di sekitar asrama. Matahari perlahan tenggelam di ufuk barat. Cahaya senja yang kian memudar menandai waktu berbuka puasa segera tiba.

Para santri pun segera berkumpul lalu duduk melingkar. Di tengahnya, terdapat sebuah nampan berisi lauk-pauk sederhana, ditemani segelas es teh manis yang menyegarkan. Bagi perut yang menahan lapar dan dahaga sejak pagi, hidangan sederhana itu sudah cukup membuat “cacing-cacing” di perut terasa bergejolak.

Di pesantren, bukber (buka bersama) seperti ini sebenarnya bukan sesuatu yang istimewa. Hampir setiap hari, bahkan di luar bulan Ramadan, para santri sudah terbiasa makan bersama dari satu wadah yang sama.

Satu nampan lazimnya dimakan sekitar delapan sampai sepuluh orang santri. Banyaknya tangan yang mengambil makanan dari satu tempat inilah yang sering disebut dengan istilah “seribu tangan.” Gambaran sederhana tentang kebersamaan yang tumbuh dalam kehidupan para santri.

Setiap santri tentu memiliki kebiasaan makan yang berbeda. Ada yang sangat lapar karena berpuasa seharian. Ada yang makan seperti biasa. Ada yang porsinya paling banyak, ada juga yang masih merasa kurang.

Meskipun makanan yang disediakan tidak terlalu banyak, ketika dimakan bersama, entah kenapa tetap terasa nikmat dan cukup. Kebersamaan itu selalu membuat hidangan yang seadanya terasa lebih mengenyangkan.

Baca: Serunya Ramadan di Pesantren, Cerita Santri KHAS Kempek Cirebon Asal Sulteng

Begitulah kehidupan di pondok pesantren. Banyak kegiatan dilakukan bersama, mulai dari belajar, mengaji, beribadah, hingga makan.

Dari kebiasaan sederhana inilah, para santri belajar berbagi, memahami teman, serta saling menghargai.

Kebersamaan seperti ini mengingatkan pada sabda Rasulullah Muhammad Saw:

الْمُؤْمِنُ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا

“Seorang mukmin dengan mukmin lainnya seperti sebuah bangunan, sebagian menopang sebagian yang lain.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis tersebut menggambarkan bahwa sesama orang beriman harus saling menguatkan. Seperti bangunan yang tersusun dari bagian-bagian yang saling menopang, kehidupan bersama menjadi kokoh ketika setiap orang saling mendukung dan menjaga satu sama lain.

Baca: Kiai Ahmad: Ramadan Momentum Terbaik untuk Melatih Keikhlasan

Semangat berjemaah ini juga ditegaskan dalam hadis lain. Rasulullah Saw bersabda:

اَلْجَمَاعَةُ رَحْمَةٌ وَالْفُرْقَةُ عَذَابٌ

“Kebersamaan adalah rahmat, sedangkan berpecah-belah adalah azab.” (HR. Ahmad)

Pesan ini mengingatkan bahwa persatuan membawa rahmat dan kebaikan, sedangkan perpecahan justru menghadirkan kesulitan. Kehidupan pesantren yang dipenuhi kebersamaan menjadi sarana merawat persaudaraan sekaligus menumbuhkan kepedulian.

Rasulullah Saw juga menganjurkan umat Islam makan bersama.

Nabi Saw bersabda:

كُلُوا جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا فَإِنَّ الْبَرَكَةَ مَعَ الْجَمَاعَةِ

“Makanlah bersama-sama dan jangan berpisah, karena keberkahan ada pada kebersamaan.” (HR. Ibnu Majah)

Anjuran ini sangat dekat dengan kehidupan para santri. Dari satu nampan sederhana yang dimakan bersama, mereka mengisi perut yang lapar sekaligus merasakan hangatnya kebersamaan. Makanan sedikit pun terasa cukup ketika dinikmati bersama.

Baca: Sambut Ramadan, Nyai Tho’ah Ja’far Soroti Kesiapan Ibadah dan Keluarga

Bagi sebagian orang, makan dari satu nampan mungkin terlihat biasa. Namun, bagi para santri, kebiasaan tersebut menyimpan banyak pelajaran. Melaluinya, para santri belajar kesabaran, berbagi, serta menjaga kebersamaan.

Kehidupan di pesantren mengajarkan satu hal sederhana, kebersamaan membuat hidup terasa lebih hangat. Rasa cukup tidak selalu ditentukan oleh banyaknya makanan, melainkan oleh hadirnya teman yang berbagi dalam satu lingkaran persaudaraan.

Makanan sederhana pun terasa lebih nikmat ketika disyukuri oleh banyak tangan yang saling berbagi.[]

Artikel ini merupakan karya peserta “Kelas Menulis Ramadan di Pesantren”, program literasi hasil kerja sama Ikhbar.com dan Asrama Putri Al-Nashir Al-Manshur Pondok Pesantren KHAS Kempek Cirebon. Melalui kelas ini, para santri menuliskan kisah dan pengalaman Ramadan mereka di pesantren. Serial “Ramadan di Pesantren” terbit secara berkala sepanjang bulan Ramadan 1447 H/2026 M.

Ikuti dan baca artikel kami lainnya di Google News.