Berinfak dan Berderma

Pada hakikatnya, zakat dan sedekah akan mengantarkan seseorang memperoleh rezeki yang berlimpah dengan disertai keberkahan.
Illustrasi infak. Foto: Shutterstock

Dr. KH. Zakky Mubarak, MA (Mustasyar PBNU

SALAH satu sikap terpuji yang harus dimiliki oleh setiap muslim adalah berinfak dan mencintai sesama dengan gemar membantu, baik secara lahir maupun batin. Sikap tersebut merupakan perwujudan kedermawanan yang bersumber dari hati yang bersih dan pemikiran yang sehat.

Setiap muslim tidak diperkenankan bersikap kikir atau enggan membantu orang lain, karena sikap demikian merupakan perilaku tercela yang bersumber dari jiwa yang kotor dan hati yang gelap.

Dengan meningkatkan iman dan amal saleh, jiwa seorang muslim akan menjadi suci dan hatinya menjadi terang benderang. Apabila sikap ini tertanam dengan baik, maka sifat-sifat tercela seperti kikir dan hasad akan tersingkir dari jiwa yang bersih dan hati yang suci.

Sikap kikir dan berbagai sifat tercela lainnya akan terus melekat pada diri seseorang apabila ia tidak berusaha secara sungguh-sungguh untuk menghilangkannya. Hanya orang-orang yang memiliki iman yang kuat dan rajin beramal saleh yang mampu memelihara dirinya dari sifat-sifat tercela tersebut.

Siapa saja yang berhasil menghilangkan sifat tercela dari dirinya dan menghiasinya dengan akhlak yang terpuji, maka ia akan memperoleh kebahagiaan yang tinggi, baik dalam kehidupan dunia maupun dalam kehidupan akhirat.

Untuk meraih jiwa yang bersih dan hati yang terang benderang, seorang muslim harus memelihara salatnya dengan baik, menunaikan zakat dan infak, serta membiasakan perilaku terpuji dalam kehidupan sehari-hari.

Baca: Jangan Terpaku pada Suatu Kebajikan

“Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah, dan apabila ia mendapat kebaikan ia amat kikir, kecuali orang-orang yang mengerjakan shalat, yang mereka itu tetap mengerjakan shalatnya, dan orang-orang yang dalam hartanya tersedia bagian tertentu, bagi orang (miskin) yang meminta dan orang yang tidak mempunyai apa-apa (yang tidak mau meminta)”. (QS. al-Ma’arij, 70:19-25).

Melaksanakan zakat, infak, dan berderma kepada mereka yang membutuhkan serta kepada orang-orang yang sedang menghadapi kesulitan merupakan perbuatan yang sangat terpuji, karena dapat menyucikan hati dari noda dan dosa.

Pada hakikatnya, zakat dan sedekah akan mengantarkan seseorang memperoleh rezeki yang berlimpah dengan disertai keberkahan. Harta dan kekayaan tidak akan berkurang karena dizakatkan dan disedekahkan, tetapi justru akan mengalami pertumbuhan dan perkembangan.

Zakat dan infak pada hakikatnya mampu menyucikan pelakunya dari dua penyakit tercela, yaitu sifat kikir dan kecenderungan melakukan dosa secara umum. Dengan demikian, seseorang akan terhindar dari perbuatan dosa dan kesalahan. Zakat dan infak juga dapat mewujudkan keberkahan dalam kehidupan bermasyarakat, karena keduanya mampu menghilangkan jurang pemisah antara kaum kaya dan kaum miskin.

“Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka dan berdoalah untuk mereka. Sesungguhnya doamu itu menentramkan mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”. (QS. al-Taubah, 09:103).

Orang-orang yang dijauhkan dari sikap kikir dan berbagai sifat tercela lainnya akan menjadi pribadi yang meraih kesuksesan secara maksimal. Kesuksesan tersebut mencakup seluruh aspek kehidupannya, baik pada masa kini maupun pada masa yang akan datang.

Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshor) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka (Anshor) ‘mencintai’ orang yang berhijrah kepada mereka (Muhajirin). Dan mereka (Anshor) tidak menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin) atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan. Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung. (QS. al-Hasyr, 59:09).

Akhlak dan budi pekerti yang mulia sebagaimana disebutkan di atas dapat diperoleh melalui riyadhah, yaitu latihan dan pendidikan yang berkesinambungan. Oleh karena itu, setiap muslim harus berusaha menumbuhkan akhlak mulia tersebut dalam kehidupan sehari-hari dengan cara menyucikan diri dan jiwanya dari hal-hal yang tercela. Seorang muslim harus senantiasa memiliki akhlak yang luhur dan menjauhkan diri dari akhlak yang tercela.

Dalam rangka menumbuhkan sifat kedermawanan dalam diri seorang muslim, hal tersebut antara lain disebutkan dalam ayat berikut ini:

وَأَنفِقُواْ مِن مَّا رَزَقۡنَٰكُم مِّن قَبۡلِ أَن يَأۡتِيَ أَحَدَكُمُ ٱلۡمَوۡتُ فَيَقُولَ رَبِّ لَوۡلَآ أَخَّرۡتَنِيٓ إِلَىٰٓ أَجَلٖ قَرِيبٖ فَأَصَّدَّقَ وَأَكُن مِّنَ ٱلصَّٰلِحِينَ

“Dan belanjakanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang kematian kepada salah seorang di antaramu; lalu ia berkata: “Wahai Tuhan-ku, mengapa Engkau tidak menangguhkan (kematian)ku sampai waktu yang dekat, yang menyebabkan aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang saleh?” (QS. al-Munafiqun, 63:10).

Kami mengundang para pembaca yang budiman untuk menyumbangkan buah pikirannya melalui kanal ‘Risalah.’ Kirimkan tulisan terbaik Anda melalui email redaksi@ikhbar.com.

Ikuti dan baca artikel kami lainnya di Google News.