Tips Bugar selama Ramadan ala Praktisi Pengobatan Cina

Pakar pengobatan timur, Arief Aditama atau suhu Tomy (tengah) saat berbincang dengan kliennya. Foto: Xinhua

Ikhbar.com: Praktisi pengobatan tradisional Cina, Arief Aditama, membagikan panduan menjaga kebugaran selama Ramadan melalui pendekatan traditional Chinese medicine (TCM) yang telah digunakan selama ribuan tahun.

Kehadiran Ramadan setiap tahun membawa perubahan ritme makan, tidur, dan aktivitas. Arief menjelaskan, pendekatan TCM dapat membantu menjaga keseimbangan tubuh selama menjalankan ibadah puasa.

“Puasa dengan pendekatan pengobatan Timur sangatlah berhubungan. Puasa memberi kesempatan kepada organ pencernaan untuk istirahat, jadiqi atau energi tubuh bisa digunakan untuk perbaikan. Dalam bahasa TCM, puasa bisa mengurangi lembap dan beban pencernaan, membuat mental dan sistem emosi lebih stabil,” ujar Arief yang juga pemilik Rumah Sehat Toms Hepi di Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta itu dikutip dari Antara pada Sabtu, 21 Februari 2026.

Terkait menu sahur, Arief menekankan pentingnya makanan yang bersifat hangat dan mudah dicerna. Pendekatan ini bertujuan menjaga keseimbangan energi pencernaan setelah tubuh berada dalam kondisi dingin saat tidur.

Baca: Daftar Negara dengan Durasi Puasa Terpendek di Dunia

“Prinsip makan sahur idealnya bersifat hangat dan mudah dicerna, kalau bahasa TCM-nya untuk menjagaqi atau ‘api’ pencernaan tetap hangat karena tubuh dalam kondisi cenderung dingin ketika kita tidur,” ujar Arief yang dikenal dengan nama Suhu Tomy.

Komposisi sahur dianjurkan seimbang antara karbohidrat, protein, serat, lemak, serta cukup cairan untuk menjaga elektrolit tubuh. Sumber karbohidrat seperti nasi, ketela, singkong, atau roti gandum dipadukan dengan protein dari telur dan daging, serta sayuran matang yang diberi rempah.

“Selain karbohidrat seperti nasi, ketela, singkong, atau roti gandum, juga dibutuhkan protein seperti telur, daging, serta serat dari sayur yang dimasak matang dengan menyertakan rempah agar energi masuk,” ujarnya.

Ia mengingatkan bahwa buah dan sayur di Indonesia cenderung bersifat lembap sehingga konsumsinya perlu diatur.

“Buah pun secukupnya saja dan jangan banyak-banyak karena sebagian besar buah-buahan kita sifatnya cenderung lembap dan dingin,” katanya.

Minuman saat sahur juga perlu diperhatikan. Konsumsi kopi dan teh tetap diperbolehkan, namun tidak dianjurkan berlebihan.

“Masyarakat kita suka sekali minum kopi. Kopi boleh tetapi secukupnya saja, karena terlalu banyakngopi saat sahur justru berpotensi membuat kita cepat haus ketika berpuasa karena sifatnya kering,” ujarnya.

“Teh pun jangan terlalu banyak gula, karena lonjakan gula tiba-tiba pun membuat cepat lapar karena dapat turun drastis pula,” tambah dia.

Saat berbuka puasa, Arief menekankan pentingnya mengembalikan cairan dan energi secara bertahap agar tubuh tidak mengalami lonjakan energi mendadak.

“Tujuan utama berbuka puasa adalah untuk mengembalikan cairan dan energi, namun pada prinsipnya proses pengembalian energi tidak boleh mengagetkan, sehingga qi-nya tidak melonjak,” jelasnya.

Air putih hangat dianjurkan sebagai pembuka, diikuti makanan ringan seperti kurma, lalu makanan utama berupa sup atau hidangan berkuah yang hangat.

“Kolak terkenal sebagai menu berbuka puasa, namun masyarakat harus paham juga bahwa kolak sifatnya lembap sehingga saya menyarankan untuk menambah kayu manis untuk unsur hangat,” jelasnya.

“Yang perlu sangat berhati-hati adalah konsumsi es yang sifatnya dingin ekstrem, yang berpotensi membuat stagnasi di dalam perut. Bukan tidak boleh, tetapi harus berhati-hati dan diperhatikan,” lanjut dia.

Kondisi musim hujan yang beriringan dengan Ramadan juga disebut berpotensi meningkatkan paparan patogen angin, air, dan kelembapan sehingga daya tahan tubuh perlu dijaga.

Arief juga membagikan terapi sederhana untuk menjaga kebugaran, seperti pijatan ringan pada bahu, leher, pinggul, dan betis untuk melancarkan sirkulasi darah.

“Ketika makanan berkurang di dalam tubuh, kaki dapat menjadi dingin. (Lakukan) pijat sederhana di area betis, antara lutut ke bawah di sekitar area betis sampai ke telapak kaki, karena banyak titik yang menaikkan energi,” ujarnya.

Pijatan pada telapak kaki dan perut juga dianjurkan untuk membantu meningkatkan energi pencernaan dan meredakan kembung.

“Bila perut kembung, bisa dipegang dan digosok berputar searah jarum jam dengan telapak tangan kanan hingga minimal lima menit sampai terasa hangat, yang berguna untuk membangkitkan energi pencernaan,” jelas Arief.

“Bila tubuh terindikasi masuk angin, bisa melakukan kerokan (guasha) dengan minyak hangat,” tambahnya.

Latihan pernapasan selama beberapa menit juga disarankan untuk menenangkan pikiran dan menjaga aliran energi tubuh.

Arief mengingatkan agar aktivitas harian tetap dijalankan secara wajar dan tidak terlalu banyak tidur di siang hari.

“Ketika berpuasa, jangan banyak tidur di siang hari yang justru berpotensi memunculkan lapar dan lemas, karena pembakaran hanya terjadi pada makanan di perut kita. Beraktivitaslah normal sehingga tubuh juga membakar lemak dibanding gula, sehingga lapar tidak muncul,” ujarnya.

Ia menilai Ramadan sebagai momentum menjaga keseimbangan tubuh melalui pola makan, ibadah, dan aktivitas fisik.

“Bulan puasa identik dengan ibadah yang bermanfaat sebagaimana aktivitas fisik. Salat Tarawih, baik yang dilakukan 11 hingga 23 rakaat, menjadi semacam olahraga yang membantu kebugaran tubuh dan mampu mengusir hawa lembap tubuh,” tuturnya.

Arief menekankan pentingnya menjaga ritme tubuh selama 24 jam, termasuk pola tidur, asupan makanan, dan aktivitas.

“Tidak bisa kita melihat puasa itu hanya sebatas aktivitas tidak makan dari subuh hingga magrib, tetapi harus dilihat secara holistik atau 24 jam dalam sehari, jadi antara fisik, pikiran, dan emosi wajib terkondisi dengan baik,” terang dia.

Ia juga mengingatkan untuk menghindari kebiasaan bergadang tanpa kebutuhan penting, konsumsi kopi berlebihan, makan malam terlalu banyak, serta olahraga berat yang berpotensi menyebabkan dehidrasi.

“Jangan sampai ada istilah ‘balas dendam’ setelah berbuka puasa yang justru merugikan siklus puasa tersebut secara keseluruhan,” tutupnya.

Ikuti dan baca artikel kami lainnya di Google News.