Ikhbar.com: Di tengah derasnya kritik terhadap pesantren, muncul pertanyaan penting mengenai cara santri tetap kritis tanpa meninggalkan adab.
Untuk menjawab hal itu, pendakwah muda, KH Rifqil Muslim Syuthi (Gus Rifqil) menyampaikan panduan berdasarkan pengalamannya berinteraksi dengan beragam kalangan, mulai dari lingkungan pesantren, nonpesantren, hingga nonmuslim.
“Pertama, santri perlu berani bertanya tanpa merendahkan,” ujarnya dalam program Sinikhbar | Siniar Ikhbar bertema Menilai Pesantren dengan Adil ala Gus Rifqil di Ikhbar TV, dikutip pada Selasa, 13 Januari 2026.

Baca: Pesantren Setia di Jalan Maqashid Syariah
Pengasuh Pondok Pesantren Manbaul Hikmah, Kaliwungu, Kendal, Jawa Tengah tersebut menegaskan bahwa adab selaras dengan nalar kritis. Kesadaran bahwa guru bisa khilaf, lupa, atau salah justru membuka ruang dialog yang sehat serta mencegah pembenaran perilaku keliru.
Kedua, Gus Rifqil menekankan pentingnya membedakan kritik dan penghinaan. Tokoh Muda NU Paling Berpengaruh Ikhbar.com (2023) itu mencontohkan maraknya framing (sudut pandang) negatif terhadap pesantren di berbagai media. Kritik yang bertujuan memperbaiki patut diterima dengan lapang, sementara penghinaan layak dihadapi dengan kesabaran.
“Karena saya meyakini bahwa pada akhirnya kualitas yang akan berbicara,” katanya.
Ketiga, menjaga niat saat menilai kesalahan. Gus Rifqil menyoroti kecenderungan sebagian generasi santri yang menganggap wajar bullying (perundungan) atau takzir (hukuman) berlebihan hanya karena pernah mengalami hal serupa.
“Ini kebanyakan dinormalisasi. ‘Ah, biasa kok.’ Itu salah,” tegasnya.
Keempat, memahami konteks sebelum mengambil kesimpulan. Gus Rifqil mencontohkan perdebatan mengenai mencium tangan kiai. Menurutnya, banyak penilaian muncul tanpa memahami latar budaya adab pesantren. Dalam banyak situasi, tindakan santri merupakan bentuk penghormatan terhadap ilmu yang dilakukan secara sukarela.
“(Mencium tangan kiai) Itu bukan paksaan, tetapi kemauan santri untuk menghormati gurunya,” ujar Gus Rifqil.
Baca: Kenapa Santri Mencium Tangan Kiai? Begini Dalil Gus Rifqil
Kelima, menempatkan adab lebih tinggi daripada ego intelektual. Gus Rifqil menjelaskan bahwa santri yang mampu “mengosongkan gelas” lebih mudah menyerap ilmu.
“Ibarat gelas, nolkan gelas kamu agar transfer ilmunya lebih mudah,” pesannya.
Bagi Gus Rifqil, rendah hati menjaga sikap kritis agar tidak berubah menjadi keangkuhan. Ia memandang bahwa sikap kritis yang dibingkai adab mencerminkan karakter santri sejati. Mampu menilai, namun tetap menjaga akhlak dan martabat.
“Pesan lainnya, santri harus terus belajar di manapun, sampai kapanpun,” pungkasnya.