Ikhbar.com: Bencana ekologis yang melanda wilayah Sumatra dalam beberapa waktu terakhir meninggalkan dampak serius, baik dari sisi kemanusiaan maupun ekonomi.
Dalam Webinar Nasional bertajuk “Ekolinguistik Bahasa, Lingkungan, dan Kesadaran Ekologis dalam Wacana Publik” yang diselenggarakan Universitas Muhammadiyah Cirebon (UMC) Press dan Kampung Inggris Purbalingga (KEEP), pakar kelautan Prof. Dr. H. Rokhmin Dahuri menyampaikan duka sekaligus peringatan tegas mengenai dampak konkret kerusakan lingkungan.
Prof. Rokhmin, sapaan akrabnya, mencatat dampak berat yang terjadi di wilayah Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat.
“Hingga Januari 2026, tercatat korban meninggal dunia sebanyak 1.189 jiwa, sementara ratusan ribu warga terpaksa mengungsi,” kata Menteri Kelautan dan Perikanan RI periode 2001–2004 tersebut, Sabtu, 17 Januari 2026.
Baca: Ini 3 Dinamika Global yang Harus Diwaspadai Indonesia menurut Prof. Rokhmin
Tragedi kemanusiaan ini menimbulkan beban ekonomi besar bagi negara. Prof. Rokhmin mengungkapkan estimasi kerugian berdasarkan perhitungan lembaga riset.
“Center of Economic and Law Studies (CELIOS) memperkirakan total kerugian ekonomi akibat bencana ini mencapai Rp68,6 hingga Rp68,7 triliun,” ujarnya.

Menurut Prof. Rokhmin, besarnya nilai kerugian tersebut menegaskan bahwa bencana lingkungan merupakan ancaman nyata terhadap stabilitas ekonomi masyarakat di wilayah terdampak.
Anggota Komisi IV DPR RI itu menjelaskan bahwa rangkaian bencana tersebut berkaitan erat dengan eksploitasi lahan yang tidak terkendali. Salah satu penyebab utamanya adalah penyusutan luas hutan secara signifikan di kawasan tersebut.
“Hutan di tiga provinsi ini berkurang sekitar 1,4 juta hektare akibat alih fungsi lahan sepanjang 2016–2024,” paparnya.
Baca: Ini 3 Dinamika Global yang Harus Diwaspadai Indonesia menurut Prof. Rokhmin
Selain itu, kerentanan lahan gambut di Indonesia terhadap banjir dan degradasi akibat eksploitasi, penurunan permukaan tanah, serta kebakaran turut memperparah kondisi bencana ekologis secara nasional.
Sebagai langkah jangka panjang, Prof. Rokhmin menekankan pentingnya perubahan paradigma menuju tata kelola lingkungan yang lebih baik. Ia menegaskan bahwa status negara maju mensyaratkan produktivitas dan daya saing yang tinggi, yang harus berjalan seiring dengan pengelolaan sumber daya alam secara bertanggung jawab.
“Pembangunan, termasuk pembangunan hotel, dapat dilakukan sepanjang tetap sesuai dengan prinsip Design and Construction with Nature (Perancangan dan Pembangunan yang Selaras dengan Alam),” pungkas Prof. Rokhmin.