Ikhbar.com: Anggota Komisi IV DPR RI, Prof. Dr. Ir. H. Rokhmin Dahuri menegaskan bahwa kemajuan sektor pertanian harus ditopang kebijakan kredit yang murah, pembangunan infrastruktur, peningkatan teknologi, serta jaminan sarana produksi dan harga pasar.
“Tanpa dukungan itu, produktivitas dan kesejahteraan petani sulit meningkat secara berkelanjutan,” ujarnya saat meninjau Kelompok Madu Tani II di Desa Gebang Udik dan Desa Gebang Kulon, Kecamatan Gebang, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, Ahad, 15 Februari 2026.
Dalam kunjungan tersebut, Prof. Rokhmin melihat langsung pemanfaatan bantuan alat dan mesin pertanian berupa traktor roda empat yang telah digunakan petani selama tiga bulan terakhir. Ia menilai alsintan itu berdampak nyata pada efisiensi kerja di lapangan.
“Bantuan yang sudah diberikan harus dirawat dengan baik, dan jika ada kendala segera berkoordinasi dengan Dinas Pertanian agar usaha tidak menurun tanpa pendampingan,” kata Prof. Rokhmin.
Baca: Prof. Rokhmin Bahas Transformasi Digital bersama Akademisi Eropa dan Asia
Kelompok Madu Tani II yang dipimpin Piroh mengelola sekitar 30 hektare lahan dengan komoditas utama padi, bawang merah, jagung, dan tebu. Produksi padi mencapai sekitar 7 ton gabah per hektare dengan harga Rp6.500 per kilogram, sementara usaha bawang merah membutuhkan modal sekitar Rp150 juta dengan potensi keuntungan hingga Rp50 juta per panen.
Pemanfaatan traktor roda empat mempercepat pengolahan lahan. Petani dapat menyelesaikan satu hektare lahan hanya dalam satu hari, dari pukul 07.00 hingga 13.00. Sebelumnya, pengolahan lahan dengan tenaga kerbau membutuhkan waktu hingga lima hari. Perawatan alsintan dilakukan secara rutin dan hingga kini belum mengalami kerusakan.
Di sisi lain, Prof. Rokhmin mengakui masih ada persoalan yang dihadapi petani. Ia menyoroti mekanisme pembelian solar bersubsidi yang menggunakan sistem barcode dan dinilai menyulitkan petani.
“Akibatnya petani membeli secara eceran dengan harga lebih mahal, padahal kebutuhan solar bisa mencapai 20 liter per hektare,” ungkapnya.
Selain itu, ia juga menyinggung kondisi jalan usaha tani di wilayah Gebang, Gebang Udik, dan Gebang Mekar yang rusak sehingga menghambat distribusi hasil panen. Prof. Rokhmin menyebut persoalan tersebut perlu segera ditangani agar rantai distribusi tidak mengurangi nilai jual produk pertanian.
Menanggapi berbagai aspirasi tersebut, Prof. Rokhmin memastikan akan menjadikannya sebagai bahan dalam penyusunan kebijakan. Ia menyebut dukungan alsintan akan terus diupayakan dengan kuota sekitar 40 unit per tahun meski belum semua petani dapat terfasilitasi.
“Kita ingin kebijakan yang hadir benar-benar menyentuh kebutuhan petani di lapangan,” katanya.
Ia juga menekankan pentingnya pencatatan data permodalan dan keuntungan kelompok tani secara tertulis agar menjadi dasar kebijakan yang lebih tepat sasaran. Dengan sinergi kebijakan yang kuat dan dukungan konkret, Prof. Rokhmin optimistis kesejahteraan petani dapat meningkat secara nyata.