Ikan Negara Tetangga Lebih Laris? Prof. Rokhmin Beri Tips KKP agar Produk Laut Indonesia Kuasai Dunia

Pekerja memindahkan ikan hasil tangkapan nelayan di Dermaga Pelabuhan Muara Angke, Jakarta, Jumat (25/10/2024). ANTARA FOTO/Muhammad Ramdan

Ikhbar.com: Indonesia menghadapi persaingan ketat dengan Vietnam serta Thailand dalam perebutan pasar perikanan global. Walaupun memiliki garis pantai sangat panjang dan kekayaan hayati laut tertinggi di dunia, daya saing produk perikanan nasional masih memerlukan pembenahan serius agar mampu tampil sebagai pemimpin pasar internasional.

Pernyataan tersebut disampaikan Pakar Kelautan dan Perikanan, Prof. Dr. Ir. H. Rokhmin Dahuri saat dimintai tanggapan dalam Forum Konsultasi Pemangku Kepentingan dalam Perumusan Kebijakan Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan yang diselenggarakan Direktorat Jenderal Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan (PDSPKP) Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) RI, Jumat, 23 Januari 2026.

Dalam forum tersebut, Prof. Rokhmin menyoroti posisi Indonesia yang kerap tertinggal dalam aspek sertifikasi serta kelayakan ekspor. Menurutnya, rendahnya jumlah approval number atau izin ekspor bagi unit pengolahan ikan nasional ke pasar Eropa menjadi salah satu penanda lemahnya daya saing.

“Kenapa approval number kita itu jauh lebih kecil daripada Vietnam dan Thailand? Sebagai senior (KKP), saya belum puas dengan kinerja semacam itu,” tegasnya.

Baca: Belajar dari Singapura, Prof. Rokhmin: Pemerintah Harus Dorong Ekonomi Rakyat lewat Sektor Kelautan

Untuk membalikkan kondisi tersebut, Guru Besar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB University itu menyampaikan sejumlah rekomendasi praktis kepada para direktur di lingkungan KKP. Langkah awal yang ditekankan adalah pembenahan manajemen rantai pasok agar berjalan lebih efisien.

Prof. Rokhmin mendorong peniruan praktik negara maju seperti China yang memiliki sistem rantai dingin terintegrasi secara menyeluruh, sejak pelabuhan pendaratan ikan hingga sampai ke konsumen akhir.

Salah satu aspek krusial yang perlu segera dibenahi berkaitan dengan efisiensi biaya logistik. Prof. Rokhmin menegaskan kualitas tinggi tidak akan efektif apabila harga jual produk perikanan nasional lebih mahal dibandingkan komoditas pesaing. Kondisi inilah yang membuat hasil laut dari negara tetangga lebih diminati di pasar global.

“Kalau mutu kita sama-sama unggul tapi harga kita lebih mahal, pembeli pasti lari ke Thailand. Jadi, efisiensi di seluruh lini adalah harga mati,” ungkap Prof. Rokhmin.

Pakar Kelautan dan Perikanan, Prof. Dr. Ir. H. Rokhmin Dahuri dalam Forum Konsultasi Pemangku Kepentingan dalam Perumusan Kebijakan Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan yang digelar Direktorat Jenderal Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan (PDSPKP) Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) RI, Jumat, 23 Januari 2026. Dok KKP

Baca: Prof. Rokhmin: Ekspor Ikan Mentah Sama Saja Buka ‘Loker’ buat Orang Asing

Di luar persoalan harga serta mutu, Prof. Rokhmin juga menekankan pentingnya kepatuhan terhadap standar internasional terkait keamanan pangan dan kelestarian lingkungan. Produk perikanan Indonesia kerap menghadapi hambatan akibat isu penggunaan antibiotik pada budidaya maupun praktik penangkapan yang merusak ekosistem.

“Oleh karena itu, harus ada kerja sama yang erat antara sektor hulu dan hilir untuk memastikan seluruh proses produksi memenuhi standar ketat yang ditetapkan oleh Uni Eropa maupun Amerika Serikat (AS),” ujar Anggota Komisi IV DPR RI tersebut.

Ikuti dan baca artikel kami lainnya di Google News.