5 Filosofi Zaitun ala Kiai Maman: Belajar Peradaban dari Iran

Pengasuh Pondok Pesantren Al-Mizan Majalengka sekaligus Anggota Komisi VIII DPR RI, Dr. KH Maman Imanulhaq saat menyampaikan orasi ilmiah bertajuk “Filosofi Zaitun: Belajar dari Iran” pada Sidang Senat Terbuka Dies Natalis ke-58 UIN Sunan Gunung Djati Bandung pada Rabu, 8 April 2026. Foto: IST

Ikhbar.com: Pengasuh Pondok Pesantren Al-Mizan Majalengka sekaligus Anggota Komisi VIII DPR RI, Dr. KH Maman Imanulhaq memaparkan lima filosofi zaitun sebagai landasan membangun peradaban Islam dengan mencontoh pengalaman Iran.

Gagasan tersebut disampaikan dalam orasi ilmiah bertajuk “Filosofi Zaitun: Belajar dari Iran” pada Sidang Senat Terbuka Dies Natalis ke-58 UIN Sunan Gunung Djati Bandung pada Rabu, 8 April 2026.

Dalam forum akademik itu, Kiai Maman menguraikan bagaimana Iran dinilainya mampu menyatukan kekuatan ilmu dan praktik kehidupan, sehingga arah pembangunan peradabannya tampak terstruktur.

Di awal paparannya, Kiai Maman menyinggung perjalanan akademiknya yang membawanya ke berbagai perguruan tinggi, mulai dari UIN Cirebon, UIN Ciputat, Sumatera Selatan hingga Ohio University. Pengalaman tersebut, menurutnya, memperkuat pandangan bahwa capaian akademik memiliki peran penting dalam membangun legitimasi intelektual.

Kiai Maman kemudian menguraikan lima pokok pikiran utama yang ia sebut sebagai filosofi zaitun.

Pertama, tauhid sebagai fondasi peradaban. Ia mengaitkan konsep kalimat thayyibah dalam Al-Qur’an sebagai gambaran pohon kokoh yang berakar kuat dan menjulang tinggi, sebagaimana tertuang dalam QS. Ibrahim ayat 24:

اَلَمْ تَرَ كَيْفَ ضَرَبَ اللّٰهُ مَثَلًا كَلِمَةً طَيِّبَةً كَشَجَرَةٍ طَيِّبَةٍ اَصْلُهَا ثَابِتٌ وَّفَرْعُهَا فِى السَّمَاۤءِۙ

“Tidakkah engkau memperhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimah ṭayyibah? (Perumpamaannya) seperti pohon yang baik, akarnya kuat, cabangnya (menjulang) ke langit.”

Ia menjelaskan bahwa tauhid melahirkan iman, kemudian berkembang menjadi amanah, hingga menghadirkan rasa aman dalam kehidupan sosial.

Pengalaman mendampingi KH Abdurrahman Wahid selama delapan tahun juga menjadi rujukan refleksi. Kiai Maman menyebut memiliki dokumentasi panjang bersama sosok yang karib disapa Gus Dur itu.

Dalam salah satu pernyataan yang ia kutip, Gus Dur menyebut Indonesia tidak runtuh karena perbedaan atau bencana, melainkan akibat moral elite yang rusak karena korupsi serta kebijakan yang menjauh dari kepentingan rakyat.

Kedua, tauhid yang berkembang menjadi ideologi. Dari interaksinya dengan tokoh-tokoh Iran, ia melihat bahwa pemikiran keagamaan dapat mendorong kemajuan teknologi, termasuk sektor energi strategis.

Kiai Maman mencontohkan pengembangan teknologi militer seperti rudal “Shahid” yang disebut lebih efisien dari sisi biaya dibandingkan rudal Amerika Serikat, dengan jangkauan sekitar 1.550 kilometer dari Teheran ke Tel Aviv.

Baca: Kiai Maman Ajak Ulama dan Santri Doakan Perdamaian Dunia

Kiai Maman mengutip pandangan Ali bin Abi Thalib tentang pentingnya kemerdekaan berpikir. Ia menilai perbedaan pendapat justru menjadi ruang bagi lahirnya inovasi.

Ketiga, kemandirian ekonomi dan teknologi. Ia menyebut Iran memiliki cadangan energi mencapai 208 miliar barel serta potensi tambang sekitar 70 miliar ton. Kondisi tersebut didukung oleh keberanian mengembangkan teknologi strategis, termasuk nuklir.

Ia juga menyinggung peran Ali Khamenei dalam menentukan arah kebijakan negara. Selain itu, ia menyoroti dinamika internal yang melibatkan figur militer seperti Esmail Qaani.

Menurutnya, polemik Suni dan Syiah sering muncul akibat keterbatasan pemahaman. Ia kembali mengutip pernyataan Gus Dur bahwa “NU adalah Syiah tanpa imamah” sebagai dorongan untuk membangun sikap saling menghargai.

Keempat, kepemimpinan sebagai faktor penentu peradaban. Ia menceritakan pertemuannya dengan Ali Larijani yang dikenal memiliki latar belakang militer, politik, sekaligus pemikiran filsafat.

Kiai Maman menjelaskan bahwa tradisi keilmuan di Qom membentuk karakter kepemimpinan melalui proses pendidikan panjang hingga satu dekade, disertai kewajiban menulis karya ilmiah.

“Kombinasi antara kekuatan intelektual, pengalaman strategis, dan kedalaman spiritual turut memperkuat kualitas kepemimpinan, termasuk melalui kajian filsafat Barat seperti pemikiran Immanuel Kant,” jelas Kiai Maman.

Kelima, daya tahan bangsa. Kiai Maman mengaitkan hal ini dengan pengalamannya saat terlibat dalam tim kampanye Presiden Joko Widodo.

Ia mengungkap pernah mendengar pandangan yang mengusulkan agar Indonesia meninggalkan agama dan meniru negara lain. Usulan tersebut ia tolak.

Baca: DNA Adidaya Iran: Dari Kejayaan Persia hingga Arsitek Peradaban Abbasiyah

Menurutnya, kemajuan Indonesia membutuhkan energi perubahan, perdamaian, serta ketahanan yang bersumber dari nilai keislaman.

“Islam hari ini harus menjadi energi untuk perdamaian dan perubahan,” tegasnya.

Kiai Maman menutup orasi dengan menyoroti peran perguruan tinggi, khususnya UIN Sunan Gunung Djati Bandung, dalam mencetak generasi yang mampu membangun peradaban berbasis nilai.

Ikuti dan baca artikel kami lainnya di Google News.