Ikhbar.com: Sebelum menjadi ucapan atau tindakan, kejujuran dan kebohongan lebih dulu melalui sebuah proses di dalam diri manusia. Mulai dari pesan yang ditanamkan sejak kecil hingga proses berpikir yang menentukan mana yang akan diikuti dan mana yang diabaikan.
Proses tersebut terungkap melalui tiga sudut pandang dalam Puncak Peringatan Haul Ke-37 KH Aqiel Siroj dan Sesepuh Pondok Pesantren KHAS Kempek Cirebon, Ahad, 20 September 2026.
Cicit ke-25 Syekh Abdul Qadir Al-Jilani, Syekh Muhammad Fadhil Al-Jilani, mengisahkan wasiat seorang ibu kepada putranya agar tidak berbohong. Pembina Pondok Pesantren KHAS Kempek Cirebon, Prof. Dr. KH Said Aqil Siroj, membedah tahapan manusia dalam mengenali dan memutuskan mana yang benar. Sementara itu, penceramah sekaligus Pengasuh Pondok Pesantren Almanar Azhari, Depok, Dr. KH Manarul Hidayat, menunjukkan apa yang terjadi ketika proses tersebut berhenti di tengah jalan dan ilmu tidak diikuti oleh akhlak.
Baca: Cucu Syekh Abdul Qadir Al Jailani Anggap Indonesia Rumah Kedua
Pesan yang ditanamkan sejak dini
Syekh Fadhil menyampaikan kisah masa muda Syekh Abdul Qadir Al-Jilani ketika hendak dikirim ke Baghdad untuk mendalami ilmu agama.
Menurutnya, Syekh Abdul Qadir dibimbing sejak kecil oleh ibunya, Sayyidah Fatimah binti Sayyid Abdullah Asshamai’i. Sang ibu disebut sebagai perempuan alimah yang menguasai tafsir, hadis, fikih, ilmu bahasa, ilmu alat, dan berbagai ilmu agama lainnya.
Ketika Syekh Abdul Qadir beranjak dewasa dan bersiap meninggalkan kampung halaman menuju Baghdad, ibunya memberikan satu pesan yang kemudian terus dipegangnya.
يَا ابْنِي لَا تَكْذِبْ
“Wahai putraku, jangan pernah berbohong.”

Syekh Fadhil menjelaskan, kebohongan disebutnya sebagai sifat yang mewarisi sifat setan. Sebaliknya, kejujuran merupakan warisan sifat para nabi. Karena itu, menurut dia, menjaga kejujuran berkaitan dengan keberkahan ilmu, martabat, umur, dan rezeki.
Syekh Fadhil mengajak para santri memperhatikan kembali pentingnya pesan orang tua dalam proses mencari ilmu. Bagi Syekh Fadhil, pesan singkat tersebut menjadi bagian dari perjalanan panjang Syekh Abdul Qadir dalam menuntut ilmu.
Menurut Syekh Fadhil, dengan menjaga wasiat ibunya tersebut, Syekh Abdul Qadir memperoleh berbagai kemuliaan dan kedudukan dalam tradisi keilmuan yang diwariskan kepadanya.
“Kejujuran harus ditanamkan lebih dulu, sebelum seorang anak menempuh perjalanan mencari ilmu ke tempat yang jauh,” pesannya.
Baca: Analogi Masuk Akal Ikhtiar dan Tawakal ala Buya Said Aqil
Mengenal hingga memutuskan
Jika Syekh Fadhil menunjukkan dari mana kejujuran itu berasal, Prof. Dr. KH Said Aqil Siroj menjelaskan apa yang terjadi selanjutnya dalam diri manusia.
Buya Said, sapaan masyhurnya, menjelaskan bahwa manusia sebagai khalifah di muka bumi memiliki sejumlah perangkat yang diberikan Allah. Salah satunya berkaitan dengan kemampuan mengenali kebenaran melalui akal. Namun, menurut Buya Said, manusia tidak berhenti pada kemampuan berpikir.
Menurut penjelasannya, terdapat “an-nafkhah ar-rabbaniyyah”, tiupan Allah yang menjadi bagian dari perangkat manusia. Dari sinilah, kemudian lahir “bashirah”, “dhamir”, dan “fu’ad“, tiga tahap yang berjalan berurutan di dalam benak manusia.
“Bashirah” membuat manusia mampu membedakan mana yang baik dan buruk, benar dan salah. Setelah mengetahui bahwa kejujuran itu baik dan korupsi itu salah, manusia memiliki “dhamir” atau hati nurani yang memberikan perintah untuk melakukan yang benar dan meninggalkan yang salah.
“Kalau sudah tahu jujur itu baik dan korupsi itu jahat, ia berlanjut ke bagian kedua, dhamir, conscience, hati nurani. Fungsinya mengeluarkan perintah ‘kamu tahu jujur itu baik, if’al, do it (lakukan). Kamu tahu korupsi dan melanggar undang-undang itu salah, la taf’al, don’t do it (jangan lakukan),” jelas Buya Said.

Setelah itu, Buya Said menjelaskan “fu’ad” sebagai bagian yang menjatuhkan vonis terhadap perilaku manusia, apakah benar atau salah. Pada tahap tersebut, menurut penjelasannya, proses dalam diri manusia berakhir dengan sebuah keputusan.
Buya Said kemudian mengutip Al-Qur’an:
مَا كَذَبَ الْفُؤَادُ مَا رَأَىٰ
“Hati (Muhammad) tidak mendustakan apa yang telah dilihatnya.”
Ayat tersebut terdapat dalam QS. An-Najm ayat 11. Dalam penjelasannya, Buya Said membedakan hati sebagai tempat penilaian dengan mulut yang dapat mengucapkan kebohongan.
“Fu’ad tidak mungkin bohong, tidak bisa disuap,” ujarnya.
Dengan penjelasan tersebut, proses lahirnya kejujuran dan kebohongan ditempatkan lebih luas daripada persoalan ucapan. Ada tahapan yang berlangsung dalam diri manusia, mulai dari mengetahui sesuatu sebagai benar lewat “bashirah“, mendengar perintah “dhamir” untuk melakukannya, hingga “fu’ad” mempertanggungjawabkan tindakan tersebut.
Buya Said memberi contoh sederhana. Seseorang yang mengetahui korupsi sebagai tindakan yang salah sebenarnya sudah memiliki pengetahuan tentang benar dan buruk.
“Persoalannya kemudian terletak pada apakah suara hati nurani tersebut diikuti atau diabaikan,” ungkap Buya Said.
Baca: Kiai Manarul Hidayat Ungkap Pentingnya Anak Bisa Berdoa
Ketika akhlak tak selaras dengan ilmu
Bila proses yang dijelaskan Buya Said berhenti pada keputusan untuk menaati atau mengabaikan suara hati, Dr. KH Manarul Hidayat menunjukkan bagaimana pilihan tersebut berwujud dalam kehidupan sosial.
Kiai Manarul menilai ilmu dan kemampuan intelektual tidak otomatis membuat seseorang memiliki perilaku yang baik. Dalam ceramahnya, beliau mengaitkan persoalan tersebut dengan korupsi.
“Moralitas, akhlak di atas ilmu,” ungkapnya.
Menurut Kiai Manarul, kerusakan yang terjadi bukan karena pelakunya tidak berpendidikan. Sebaliknya, beliau menilai banyak orang yang melakukan korupsi justru merupakan orang berilmu.
“Hancurnya Indonesia sekarang karena korupsi, dan pelakunya bukan orang bodoh, tetapi orang pintar yang akhlaknya rusak,” tegasnya.

Pernyataan tersebut disampaikan ketika Kiai Manarul menjelaskan tiga unsur pendidikan pesantren. Menurutnya, pesantren mengajarkan agama sekaligus pengetahuan umum dan membentuk moralitas.
Kiai Manarul menekankan bahwa kemampuan membaca Al-Qur’an, memahami kitab, menguasai ilmu pengetahuan, bahasa, matematika, teknologi, atau bidang lain perlu berjalan bersama akhlak. Sebab, menurut beliau, pengetahuan tanpa moral dapat digunakan tanpa mempertimbangkan benar dan salah.
Dalam alur yang dijelaskan Buya Said, korupsi yang disebut Kiai Manarul dapat dibaca sebagai contoh ketika “bashirah” dan “dhamir” sudah bekerja.
“Orang itu sebenarnya sudah tahu itu salah, tetapi keputusan yang diambil tidak mengikuti suara hati nurani tersebut,” pungkasnya.