Kiai Fahad: Puasa Bukan sekadar ‘Cosplay’ Jadi Orang Miskin, Tapi Latihan Bersyukur

Ilustrasi. PEXELS/David Tumpal

Ikhbar.com: Puasa Ramadan kerap dipahami sebagai aktivitas menahan lapar dan dahaga. Bagi Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) Buntet Pesantren Cirebon, Dr. KH Fahad Achmad Sadat, makna puasa jauh lebih dalam daripada pengalaman fisik semata.

Dalam program Sinikhbar | Siniar Ikhbar di Ikhbar TV edisi “Lebaran Hari Raya Keteladanan”, Kiai Fahad, sapaan masyhurnya, menegaskan bahwa puasa bukan simulasi menjadi orang miskin. Puasa merupakan proses pembelajaran untuk menumbuhkan rasa syukur.

“Jika tujuannya supaya bisa merasakan jadi orang miskin, ya, sudah tidak relevan. Karena mereka itu belum pasti mau makan apa hari ini, sementara kita saat puasa, menu untuk satu bulan pun telah terjadwal,” katanya, dikutip Selasa, 17 Maret 2026.

Ketua STIT Buntet Pesantren Cirebon, Dr. KH Fahad A. Sadat (kanan), saat menjadi narasumber dalam program Sinikhbar | Siniar Ikhbar bertema “Lebaran Hari Raya Keteladanan”, di Ikhbar TV. IKHBAR/FSJ

Baca: Fitrah Adalah Komitmen Moral Berkelanjutan

Menurut Kiai Fahad, pengalaman menahan lapar selama Ramadan perlu diarahkan untuk menyadari nikmat yang kerap dianggap biasa. Kesadaran tersebut kemudian mendorong kepedulian terhadap orang lain yang hidup dalam keterbatasan.

Puasa juga melatih pengendalian diri. Seseorang belajar menunda keinginan dan mengelola emosi. Nilai ini penting dalam kehidupan sosial dan kepemimpinan.

Pengasuh Pondok Pesantren Al-Murtadlo Buntet Cirebon itu menambahkan bahwa keberhasilan puasa tidak diukur dari lamanya menahan lapar, tetapi dari perubahan sikap setelah menjalankannya.

Dalam konteks tersebut, rasa syukur menjadi indikator penting. Orang yang menjalani puasa dengan baik akan lebih menghargai setiap nikmat, sekecil apa pun.

Baca: Tafsir QS. An-Nur Ayat 22: Hakikat Maaf di Hari Lebaran

Lebih jauh, ia menilai puasa berfungsi sebagai latihan mental untuk menghadapi berbagai tantangan hidup. Kesabaran yang terbentuk selama Ramadan menjadi bekal dalam mengambil keputusan.

Kiai Fahad mengingatkan bahwa jika puasa dipahami sebagai rutinitas tahunan, nilai pembentukannya akan berkurang.

“Puasa itu bukan sekadar menahan lapar, tapi bagaimana kita belajar merasakan dan kemudian bersyukur atas apa yang kita miliki,” pungkasnya.

Obrolan selengkapnya, bisa disimak di sini:

Ikuti dan baca artikel kami lainnya di Google News.