‘Cocogan’ Ramadan

Bahkan, para santri senior menyebut kebiasaan ini sudah ada sejak sekitar tahun 1936.
Ilustrasi. Olah Digital oleh IKHBAR

Oleh: Khoerotuz Zakiyah
(Santri Pondok Pesantren KHAS Kempek Cirebon asal Pemalang, Jawa Tengah)

Khoerotuz Zakiyah. IKHBAR/FSJ

SELEPAS salat Magrib berjemaah, asrama putri Al-Nashir Al-Manshur, Pondok Pesantren KHAS Kempek Cirebon tidak lantas menjadi lengang, terutama pada malam Ramadan. Di serambi dan kamar asrama, para santri duduk berkelompok sambil memegang mushaf Al-Qur’an. Lantunan ayat suci terdengar bersahutan dengan suara pelan dan penuh kehati-hatian. Sebagian membaca, sebagian lain menyimak sambil sesekali membetulkan bacaan temannya. Tradisi ini oleh para santri disebut “cocogan,” yaitu kegiatan membaca Al-Qur’an yang disimak oleh santri senior sebelum disetorkan kepada ustazah pada waktu subuh.

Tradisi cocogan telah lama berlangsung di pesantren ini. Bahkan, para santri senior menyebut kebiasaan ini sudah ada sejak sekitar tahun 1936. Kegiatan itu menjadi bagian dari metode pembelajaran Al-Qur’an yang diwariskan dari generasi ke generasi. Para santri membaca Al-Qur’an secara bergiliran di hadapan santri senior yang bertugas menyimak, membetulkan kesalahan tajwid, serta mengingatkan jika terdapat bacaan yang kurang tepat. Dengan cara itu, para santri dapat mengetahui dan memperbaiki kesalahan bacaannya lebih awal.

Ramadan dikenal sebagai bulan Al-Qur’an. Karena itu, malam hari di pesantren banyak diisi dengan tilawah, termasuk melalui melalui tradisi cocogan ini.

Baca: Hidangan ‘Seribu’ Tangan

Tujuan utama kegiatan ini agar para santri mampu membaca Al-Qur’an dengan benar sesuai kaidah tajwid. Melalui kegiatan saling menyimak dan memperbaiki bacaan, para santri belajar mengenali makhraj huruf, panjang-pendek bacaan, serta tempat berhenti yang tepat ketika membaca ayat-ayat Al-Qur’an.

Hal ini sejalan dengan perintah dalam QS. Al-Muzzammil: 4, Allah Swt berfirman:

وَرَتِّلِ ٱلْقُرْآنَ تَرْتِيلًا

“Dan bacalah Al-Qur’an itu dengan perlahan-lahan (tartil).”

Para ulama menafsirkan perintah tartil sebagai membaca Al-Qur’an dengan bacaan yang jelas, tenang, serta memperhatikan aturan tajwid. Dalam literatur ilmu qira’at juga dinukil penjelasan yang sering dikaitkan dengan sahabat Ali bin Abi Thalib Ra, salah satunya oleh Imam Abu al-Qasim al-Hudzali dalam Al-Waqf wa al-Ibtidā’.

التَّرْتِيلُ تَجْوِيدُ الْحُرُوفِ وَمَعْرِفَةُ الْوُقُوفِ

“Tartil adalah membaguskan (membaca dengan tepat) huruf-hurufnya dan mengetahui tempat-tempat berhentinya.”

Di sinilah tradisi cocogan menemukan relevansinya. Kegiatan ini menjadi latihan membaca sekaligus sarana memperbaiki bacaan agar sesuai dengan tuntunan tersebut. Santri yang membaca disimak dengan teliti oleh temannya. Jika terdapat kesalahan makhraj atau hukum tajwid, bacaan segera dibetulkan sebelum disetorkan kepada ustazah.

Menurut sebagian besar santri, kegiatan cocogan sangat membantu proses belajar membaca Al-Qur’an. Kesalahan kecil yang mungkin terlewat dapat diperbaiki lebih awal. Kegiatan ini juga membantu menjaga target bacaan agar tetap berjalan dengan baik, terutama selama Ramadan ketika semangat tilawah meningkat.

Di balik keseriusan membaca dan menyimak, malam-malam cocogan juga menghadirkan kebersamaan di antara para santri. Mereka saling mengingatkan, saling menyemangati, bahkan membantu teman yang masih kesulitan membaca. Dari kebiasaan ini, para santri belajar bahwa memperbaiki bacaan Al-Qur’an juga termasuk bentuk saling menolong dalam kebaikan.

Baca: Fajar Puasa dari Jendela Asrama

Tradisi cocogan juga mengajarkan satu pelajaran penting, yaitu pentingnya persiapan dalam menuntut ilmu. Bacaan yang dipersiapkan dengan baik tentu lebih pantas diperdengarkan daripada bacaan tanpa persiapan. Melalui kebiasaan tersebut, para santri belajar tentang kedisiplinan, ketekunan, dan tanggung jawab terhadap ilmu yang sedang dipelajari.

Malam Ramadan yang dipenuhi lantunan Al-Qur’an menyimpan banyak pelajaran berharga. Kegiatan tersebut melatih kesabaran, ketekunan, dan kebersamaan. Ketika masa belajar di pesantren telah selesai, pengalaman seperti ini sering menjadi kenangan yang dirindukan. Malam Ramadan yang hidup dengan bacaan Al-Qur’an serta kebersamaan para santri meninggalkan kesan mendalam.

Artikel ini merupakan karya peserta “Kelas Menulis Ramadan di Pesantren”, program literasi hasil kerja sama Ikhbar.com dan Asrama Putri Al-Nashir Al-Manshur Pondok Pesantren KHAS Kempek Cirebon. Melalui kelas ini, para santri menuliskan kisah dan pengalaman Ramadan mereka di pesantren. Serial “Ramadan di Pesantren” terbit secara berkala sepanjang bulan Ramadan 1447 H/2026 M.

Ikuti dan baca artikel kami lainnya di Google News.