Ikhbar.com: Besarnya sumber daya kelautan Indonesia menjadi modal penting dalam pengembangan ekonomi biru. Namun. kekayaan tersebut membutuhkan penguasaan sains, teknologi, inovasi, dan sumber daya manusia agar dapat diolah menjadi kegiatan ekonomi yang menghasilkan nilai tambah dan kesejahteraan.
Anggota Komisi IV DPR RI Prof. Dr. Ir. H. Rokhmin Dahuri, M.S. melihat kebutuhan tersebut saat mengunjungi Albany Shellfish Hatchery di Western Australia pada Rabu, 26 Agustus 2026. Kunjungan itu memperlihatkan secara langsung penerapan teknologi dalam pengembangan akuakultur, salah satu sektor yang memiliki peran penting dalam pemanfaatan sumber daya kelautan.
“Albany Shellfish Hatchery yang beroperasi sejak 2017 memproduksi benih tiram, kerang simping, dan kerang hijau. Proses produksi di fasilitas tersebut mengintegrasikan berbagai aspek teknologi, mulai dari pengelolaan kualitas air, budidaya mikroalga sebagai pakan alami, pembenihan, biosekuriti, pemantauan hingga penerapan standar produksi,” katanya, dikutip Selasa, 1 September 2026.

Baca: Di Australia, Prof. Rokhmin Kaji Teknologi Modern untuk Kemajuan Akuakultur Indonesia
Bagi Prof. Rokhmin, pendekatan tersebut memberikan gambaran mengenai pentingnya menempatkan sains sebagai dasar pengelolaan akuakultur. Teknologi berperan meningkatkan produktivitas dan efisiensi, sedangkan inovasi diperlukan agar kegiatan budi daya dapat berkembang mengikuti kebutuhan industri dan pasar.
Kebutuhan tersebut menjadi semakin penting ketika sumber daya laut tidak lagi dipandang sebatas bahan mentah. Pengembangan ekonomi biru membutuhkan kemampuan mengolah potensi kelautan menjadi produk dan kegiatan ekonomi bernilai tambah tinggi.
Prof. Rokhmin menekankan bahwa kekayaan sumber daya alam saja belum cukup untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Dalam catatan kunjungan tersebut disebutkan bahwa sumber daya kelautan Indonesia perlu didukung industrialisasi, modernisasi teknologi, investasi, serta penguatan rantai nilai dari hulu hingga hilir.
“Akuakultur menjadi salah satu contoh konkret kebutuhan tersebut. Peningkatan produksi perlu berjalan bersama dengan perbaikan produktivitas, efisiensi, mutu, keamanan produk, nilai tambah, dan keberlanjutan. Ukuran keberhasilan juga berkaitan dengan kemampuan sektor tersebut meningkatkan kesejahteraan pembudidaya dan masyarakat pesisir,” katanya.
Penguasaan teknologi pun tidak berhenti pada hatchery (tempat pembenihan). Sistem produksi membutuhkan dukungan pakan, pemantauan lingkungan, biosekuriti, pengolahan, logistik, serta akses pasar. Setiap mata rantai saling berkaitan dan menentukan daya saing produk yang dihasilkan.
Baca: Di Laos, Prof. Rokhmin Dorong Kerja Sama Ketahanan Air dan Iklim Asia-Pasifik
Dalam konteks itu, kualitas sumber daya manusia menjadi faktor penting. Teknologi modern membutuhkan tenaga kerja yang mampu memahami proses produksi, membaca perubahan lingkungan, mengelola risiko, sekaligus melakukan inovasi. Pengembangan kapasitas manusia perlu berjalan beriringan dengan investasi teknologi.
Kunjungan ke Albany Shellfish Hatchery juga menunjukkan pentingnya pertukaran pengetahuan internasional. Praktik yang berkembang di negara lain dapat menjadi referensi bagi Indonesia, dengan penyesuaian terhadap kondisi ekologi, sosial, dan ekonomi dalam negeri.
“Pengembangan ekonomi biru membutuhkan perubahan cara pandang dalam mengelola sumber daya laut. Potensi yang besar perlu diikuti kemampuan menghasilkan produk bernilai tambah, memperkuat industri, menciptakan lapangan kerja, dan menjaga keberlanjutan lingkungan,” pungkas Prof. Rokhmin.