Ikhbar.com: Menteri Agama (Menag) Prof. Dr. KH Nasaruddin Umar mengajak umat Islam di Indonesia mempersiapkan diri untuk mengambil peran yang lebih besar dalam membangun peradaban Islam dunia.
Ajakan tersebut disampaikan saat menutup Kongres Umat Islam Indonesia (KUII) ke-8 yang dirangkaikan dengan peringatan Milad ke-51 Majelis Ulama Indonesia (MUI) di Jakarta.
Menag menilai, Indonesia memiliki berbagai modal penting untuk menjadi salah satu pusat peradaban Islam pada masa mendatang. Menurutnya, kondisi ekonomi yang relatif stabil serta situasi sosial dan politik yang kondusif menjadi kekuatan yang tidak dimiliki sejumlah negara di kawasan Timur Tengah yang masih dilanda konflik.
Ia menjelaskan, Indonesia mampu menjaga stabilitas ekonomi di tengah ketidakpastian global. Inflasi nasional berada pada kisaran 1 hingga 2%, sementara pertumbuhan ekonomi mencapai sekitar 5,2%.
Baca: Menag: Kerukunan Jadi Modal Indonesia Hadapi Dinamika Global
“Di kawasan yang sibuk dengan konflik, tentu yang banyak lahir adalah para jenderal. Tetapi di tengah masyarakat yang menikmati ketenangan dan kedamaian, yang akan lahir adalah para profesor dan kiai. Oleh karena itu, mari kita merawat ketenangan dan keselamatan ini. Indonesia berpeluang besar menjadi episentrum peradaban dunia Islam yang akan datang,” ujar Menag, dikutip dari laman resmi Kemenag, Senin, 27 Juli 2026.
Selain menyoroti potensi Indonesia di tingkat global, Menag juga mengingatkan pentingnya memperkuat literasi ekonomi syariah. Ia menyebut tingkat kesadaran masyarakat terhadap ekonomi syariah masih tergolong rendah dibandingkan jumlah penduduk muslim di Indonesia.
Menurut Menag, dari sekitar 240 juta penduduk muslim, tingkat literasi dan partisipasi dalam ekonomi syariah baru mencapai sekitar 7,5%. Capaian tersebut masih berada di bawah Malaysia yang memiliki tingkat kesadaran ekonomi syariah sekitar 27% meskipun jumlah penduduk muslimnya jauh lebih sedikit.
“Kita sudah sekian lama, hampir dua dekade memperkenalkan perbankan syariah, tetapi pangsanya masih berputar di bawah angka 10 persen. Ada pendekatan non-ekonomi yang harus kita lakukan bersama dalam rangka meningkatkan kualitas ekonomi umat secara holistik,” tegasnya.
Menag menambahkan, peningkatan ekonomi syariah tidak cukup dilakukan melalui penguatan sektor perbankan. Upaya tersebut juga memerlukan pendekatan yang menyentuh aspek budaya, nilai-nilai keagamaan, serta penguatan edukasi melalui pesantren dan berbagai lembaga pendidikan.
Ia menegaskan, pengembangan ekonomi syariah yang didukung pemahaman keagamaan dan stabilitas nasional akan menjadi fondasi penting bagi Indonesia untuk memperkuat perannya di tingkat internasional.
Dengan potensi tersebut, kata dia, Indonesia diharapkan mampu menunjukkan kualitas dan kontribusi yang lebih besar dalam perkembangan peradaban Islam dunia.