Menyadari Kematian, Tirakat Paripurna Sayyidah Nafisah

Ilustrasi. PINTEREST/Carlos Santiago

Ikhbar.com: Kesadaran mendalam terhadap kematian menjadi bagian penting dalam kehidupan Sayyidah Nafisah. Hal tersebut disampaikan Pengasuh Pondok Pesantren KHAS Putri Kempek Cirebon, Ny. Hj. Tho’atillah Ja’far, dalam Ngaji Pasanan Pemikiran Islam (NPPI) II di Institut Studi Islam Fahmina (ISIF) Cirebon.

Menurut Nyai Tho’ah, sapaan karibnya, ketika sakit keras pada Ramadan 208 Hijriah, dokter menyarankan agar Sayyidah Nafisah berbuka puasa. Namun, permintaan itu ditolak.

“Sudah tiga puluh tahun aku memohon kepada Allah agar diwafatkan dalam keadaan berpuasa, apakah sekarang aku harus berbuka?” demikian jawab Sayyidah Nafisah, sebagaimana dikutip Nyai Tho’ah.

Baca: Nyai Tho’ah: Sayyidah Nafisah Teladan Kemandirian Muslimah

Menurut anggota Kongres Ulama Perempuan Indonesia (KUPI) tersebut, sikap Sayyidah Nafisah mencerminkan konsistensi doa dan laku spiritual jangka panjang. Tokoh tersebut mempersiapkan kematian dengan kesadaran penuh.

Disebutkan pula bahwa Sayyidah Nafisah menggali kuburnya sendiri di rumah dan menjadikannya tempat salat. Tokoh tersebut turun ke dalamnya untuk beribadah serta membaca Al-Qur’an berulang kali.

Menurut Nyai Tho’ah, tindakan itu bukan simbol dramatis, melainkan cara mendidik diri agar selalu mengingat akhir hayat.

“Beliau menjadikan kematian sebagai bagian dari kesadaran harian,” ujarnya.

Dalam riwayat juga disebutkan, saat ajal mendekat, Sayyidah Nafisah meminta agar dimasukkan ke dalam kubur yang telah dipersiapkan. Tokoh tersebut wafat dalam keadaan berpuasa pada 15 Ramadan 208 Hijriah dan dimakamkan di rumahnya di Mesir.

Nyai Tho’ah (tengah) saat membedah profil Sayyidah Nafisah dalam acara Ngaji Pasanan Pemikiran Islam (NPPI) II di Kampus Transformatif Institut Studi Islam Fahmina (ISIF) Cirebon, Kamis, 26 Februari 2026. Dok IST

Baca: Ngaji Pasanan ISIF: Sayyidah Nafisah dan Jejak Otoritas Keulamaan Perempuan

Kecintaan pada ibadah membentuk kedalaman spiritual yang menyatu dengan keluasan ilmu. Sayyidah Nafisah dikenal rajin berpuasa, qiyamullail, serta gemar membaca Al-Qur’an dengan penuh tangis. Salah satu ayat yang menjadi penutup hidupnya adalah firman Allah:

 لَهُمْ دَارُ السَّلٰمِ عِنْدَ رَبِّهِمْ وَهُوَ وَلِيُّهُمْ بِمَا كَانُوْا يَعْمَلُوْنَ

“Bagi mereka (disediakan) tempat yang damai (surga) di sisi Tuhannya. Dialah pelindung mereka karena apa (amal kebajikan) yang mereka kerjakan.” (QS. Al-An‘ām: 127)

Nyai Tho’ah menyimpulkan, tirakat panjang Sayyidah Nafisah mengajarkan konsistensi antara doa, laku hidup, dan akhir kehidupan.

“Itu bukan hanya kisah kesalehan pribadi, tetapi pelajaran tentang kesetiaan pada pilihan spiritual,” katanya.

Ikuti dan baca artikel kami lainnya di Google News.