Ikhbar.com: Kemandirian Sayyidah Nafisah menjadi sorotan dalam Ngaji Pasanan Pemikiran Islam (NPPI) II di Institut Studi Islam Fahmina (ISIF) Cirebon, Kamis, 26 Februari 2026. Pengasuh Pondok Pesantren KHAS Putri Kempek Cirebon, Ny. Hj. Tho’atillah Ja’far, menyebut cucu keturunan Sayyidina Hasan tersebut dikenal menjaga kehormatan diri dan tidak bergantung pada manusia.
“Dalam riwayat disebutkan beliau (Sayyidah Nafisah) tidak dikenal pernah meminta kepada makhluk. Ia menafkahi dirinya dari hartanya, dari harta suaminya, atau dari hasil yang dikerjakannya sendiri,” ujar Nyai Tho’ah, sapaan karibnya.
Baca: Ngaji Pasanan ISIF: Sayyidah Nafisah dan Jejak Otoritas Keulamaan Perempuan
Nyai Tho’ah menjelaskan bahwa Sayyidah Nafisah hidup dalam kecukupan, tetapi memilih jalan sederhana. Tokoh tersebut dikenal jarang makan dan tekun beribadah.
Anggota Kongres Ulama Perempuan Indonesia (KUPI) itu menceritakan bahwa keponakan Sayyidah Nafisah, Zainab, pernah bersaksi, “Aku melayani bibiku Nafisah selama empat puluh tahun. Aku tidak pernah melihatnya tidur di malam hari dan tidak pernah berbuka di siang hari kecuali pada hari raya dan hari-hari tasyrik.”
Bagi Nyai Tho’ah, kesaksian itu menunjukkan konsistensi laku spiritual jangka panjang, bukan semangat sesaat.
“Empat puluh tahun adalah waktu yang sangat lama untuk menjaga disiplin ibadah seperti itu,” katanya.

Baca: 20 Tokoh Pemikiran Islam bakal Dibedah di ‘Ngaji Pasanan’ ISIF Cirebon
Sayyidah Nafisah juga dikenal sebagai perempuan berilmu yang mempelajari hadis dan fikih sejak kecil. Tokoh tersebut berinteraksi dengan para ulama serta tumbuh dalam lingkungan diskusi keilmuan.
Kemandirian tersebut, menurut Nyai Tho’ah, relevan bagi perempuan Muslim masa kini.
“Ilmu, integritas, dan kemandirian ekonomi bisa berjalan seiring,” ujarnya.
“Figur Sayyidah Nafisah menunjukkan bahwa perempuan dapat berdiri kokoh secara spiritual sekaligus berperan dalam ruang sosial-keagamaan,” pungkas Nyai Tho’ah.