Ikhbar.com: Portal berita keislaman bersama Pondok Pesantren Ketitang, Cirebon menggelar launching buku “Peta Jalan Ramadan” dan Munggahan Puasa 1447 H pada Sabtu, 14 Februari 2026.
Pemimpin Redaksi Ikhbar.com, Ustaz Sofhal Adnan, menyampaikan bahwa pengembangan konten siniar menjadi buku merupakan langkah strategis untuk memperluas jangkauan dakwah dan literasi.
Ia menjelaskan, Program Sinikhbar | Siniar Ikhbar yang selama ini tayang di kanal YouTube Ikhbar TV dihimpun kembali agar gagasan dan pengalaman para narasumber tidak berhenti sebagai tayangan sesaat.
Ustaz Sofhal menuturkan bahwa proses pembukuan tidak dilakukan dengan menyalin percakapan secara mentah. Tim redaksi terlebih dahulu melakukan pencatatan, pengolahan makna, penelusuran referensi, riset tambahan, hingga penulisan ulang agar menjadi karya yang utuh dan sistematis.
“Buku ini lahir melalui proses pencatatan, pemahaman, pemaknaan, penelusuran rujukan, riset pendukung, penerjemahan gagasan, lalu penulisan ulang secara utuh dan sistematis,” ujarnya.
Baca: Hadirkan Kiai dan Nyai Inspiratif, Buku ‘Peta Jalan Ramadan’ bakal Dilaunching 14 Februari 2026
Dalam penyusunannya, Ikhbar.com menyampaikan penghargaan kepada para narasumber yang telah berbagi ilmu dan pengalaman. Mereka antara lain KH Marzuki Wahid, KH Lukman Hakim, KH Ahmad Zaini Dahlan, Ny. Hj. Tho’atillah Ja’far, Ning Ivana Amelia, KH M. Kholilurrahman, serta Ustaz Abudzar Alghiffari.
Dukungan juga datang dari berbagai tokoh nasional dan pesantren. Ucapan terima kasih secara khusus disampaikan kepada Menteri Agama (Menag), Prof. Dr. KH Nasaruddin Umar, tokoh Cirebon Prof. Dr. Ir. H. Rokhmin Dahuri, serta anggota Komisi VIII DPR RI Dr. KH Maman Imanulhaq yang turut memberi dukungan dalam proses penyusunan buku tersebut.
Sementara itu, Dewan Pengasuh Pondok Pesantren KHAS Kempek, Cirebon, KH Ahmad Zaini Dahlan mengapresiasi terbitnya buku Peta Jalan Ramadan. Ia mengatakan bahwa buku tersebut sangat baik dan dapat menjadi petunjuk dalam menghadapi bulan suci.
“Kami mengapresiasi terbitnya buku ini. Menurut saya, ini buku yang sangat baik dan bisa menjadi petunjuk dalam menghadapi bulan Ramadan. Ibarat menyetir tanpa Google Maps, tentu sulit. Buku ini bisa menjadi pegangan dan sumber panduan tentang bagaimana mengisi Ramadan dengan lebih terarah,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa buku tersebut penting sebagai panduan menjalani Ramadan secara ringan namun mendalam.
Menurutnya, kewajiban puasa diawali dengan seruan “yaa ayyuhalladzina amanu” yang ditujukan kepada orang-orang beriman, dengan tujuan la‘allakum tattaqun agar menjadi pribadi bertakwa.
Ia memaknai takwa sebagai kesadaran akan kehadiran Allah Swt dalam kehidupan. Kiai Ahmad menjelaskan bahwa orang yang berpuasa sebenarnya tidak diawasi manusia, tetapi keyakinan bahwa Allah selalu mengawasi membuat seseorang tetap menjaga puasanya.
“Di situlah, letak hakikat takwa sebagai inti dari kewajiban puasa bagi orang-orang mukmin,” tegasnya.
Dalam kesempatan yang sama, Nyai Hj. Tho’atillah Ja’far yang juga Dewan Pengasuh Pondok Pesantren KHAS Kempek, mengungkapkan bahwa Ramadan selalu menghadirkan perasaan campur aduk bagi seorang ibu. Ia mengaku merasakan kebahagiaan sekaligus tanggung jawab besar dalam menyiapkan kebutuhan keluarga selama bulan puasa.
“Bagi saya sebagai seorang ibu, Ramadan itu selalu menghadirkan rasa dagdigdug. Ada rasa bahagia, tapi juga tanggung jawab besar. Setiap tahun muncul perasaan, ‘Ya Allah, saya ingin menjalani puasa Ramadan lagi dan melaksanakannya dengan sempurna,” ujarnya.
Ia menuturkan bahwa perhatian ibu tidak hanya pada rasa makanan saat sahur dan berbuka, tetapi juga kelancaran seluruh aktivitas keluarga. Ia menilai sistem yang diterapkan di pesantren sangat membantu membangun kedisiplinan selama Ramadan.
Menurutnya, orang tua perlu hadir dan mendampingi anak-anak agar waktu puasa tidak terbuang sia-sia. Ia mengingatkan bahwa waktu luang sering kali diisi dengan penggunaan gawai, sehingga diperlukan peran orang tua untuk mengarahkan anak membangun kebiasaan baik dan disiplin selama Ramadan.
Pengasuh Pondok Pesantren Luhur Manhajiy Fahmina dan Rektor Institut Studi Islam Fahmina (ISIF), KH Marzuki Wahid mengingatkan bahwa Ramadan tidak cukup dipahami hanya sebagai ritual keagamaan. Ia mempertanyakan apakah kemuliaan Ramadan benar-benar dimuliakan oleh umat Islam.
“Saya sering berpikir, Ramadan jangan hanya dipahami sebatas pendekatan ritual keagamaan. Pertanyaannya, apakah Ramadan yang begitu mulia itu benar-benar kita muliakan, atau justru sebaliknya?,” ucapnya.
Ia menjelaskan bahwa ajaran puasa memiliki dimensi universal karena juga dikenal dalam agama lain. Menurutnya, esensi utama puasa adalah pengendalian diri.
“Ajaran puasa itu sangat luar biasa. Menariknya, puasa ada di semua agama. Dalam Katolik ada puasa 40 hari dengan pengurangan konsumsi, sementara dalam Islam satu bulan penuh. Intinya sama: self control, pengendalian diri,” katanya.
Ia mempertanyakan apakah umat benar-benar mampu mengendalikan diri saat berpuasa. Ia menilai jika semangat pengendalian diri dijalankan secara utuh, maka dampaknya besar bagi kesehatan mental, fisik, dan spiritual. Ia menambahkan bahwa Ramadan merupakan bulan refleksi untuk kembali kepada kesucian diri.
Namun, ia mengingatkan bahwa praktik puasa sering berhenti hanya di bulan Ramadan dan tidak berlanjut dalam kehidupan sehari-hari. Ia menegaskan pentingnya keberlanjutan amal sebagai bagian dari ajaran Islam.
Menurutnya, Ramadan juga memiliki dimensi kesehatan, ekonomi, dan sosial, karena Islam mengajarkan keseimbangan antara hubungan dengan Allah dan hubungan dengan sesama manusia. Ia menilai Ramadan seharusnya menjadi momentum perbaikan diri dan sosial yang berdampak luas dalam kehidupan.