Ikhbar.com: Sebuah universitas di Amerika Serikat (AS) dijatuhi denda hingga miliaran rupiah setelah salah seorang staf menyebut makanan mahasiswa asal India beraroma sangat menyengat. Komentar yang dibarengi dengan gestur menunjukkan ekspresi jijik itu kemudian digugat sebagai pelanggaran hak sipil.
Penggugat, Aditya Prakash, merupakan mahasiswa program doktor antropologi di kampus bernama University of Colorado Boulder tersebut. Insiden terjadi pada 5 September 2023. Saat itu, Prakash memanaskan bekal makan siang berupa palak paneer, hidangan bayam dan keju khas India, di microwave dapur kampus. Seorang staf universitas kemudian memasuki ruangan dan langsung berkomentar bahwa makanan itu berbau “pungent” atau menyengat. Staf tersebut juga meminta Prakash menghentikan penggunaan microwave dengan alasan adanya aturan yang melarang pemanasan makanan beraroma kuat.
Prakash yang merasa keberatan menanggapi bahwa perkara makanan tidak perlu disikapi dengan komentar dan gerak tubuh yang bernada merendahkan. Ia mengaku sangat tersinggung karena menilai perlakuan itu berbeda dibanding mahasiswa lain.
“Saya menilai komentar itu sebagai bentuk pelecehan bernuansa rasial,” katanya, dikutip dari The Independent, Selasa, 27 Januari 2026.
Baca: 3 Resep Rahasia Dapur Istana Era Kekhalifahan Islam
Namun, beberapa bulan kemudian, Prakash dan pasangannya, Urmi Bhattacheryya, yang juga mahasiswa doktoral sekaligus asisten pengajar di departemen yang sama, kehilangan pembimbing akademik serta pendanaan riset. Situasi tersebut menghentikan kelangsungan studi doktoral mereka.
Pada September 2025, keduanya menggugat pihak kampus atas dugaan diskriminasi dan tindakan balasan. Empat bulan setelah gugatan diajukan, universitas menyepakati penyelesaian perkara dengan membayar kompensasi sebesar USD200.000 atau setara Rp3.353.940.000 (Rp16.769 per dolar AS). Kendati demikian, pihak kampus menegaskan tidak mengakui adanya kesalahan hukum.
Selain kompensasi finansial, kampus memberikan gelar magister kepada keduanya, akan tetapi melarang mereka mendaftar kembali atau bekerja di lingkungan universitas tersebut.
Prakash menyebut komentar soal bau makanan mengingatkannya pada pengalaman masa kecil di Eropa, ketika bekal rumahan khas India kerap menjadi bahan ejekan dan sarana eksklusi sosial.
“Saya pernah mengalaminya saat tumbuh besar. Saya langsung memahami maksudnya,” ujarnya.
Menurut dia, persoalan tersebut tidak berhenti pada satu peristiwa makan siang, tetapi berkembang menjadi tekanan untuk membatasi pilihan makanan serta lokasi makan.

Upaya Prakash menyelesaikan persoalan secara langsung justru memicu ketegangan lanjutan. Ketika Prakash menyampaikan keberatan kepada staf terkait, seorang administrator lain ikut terlibat dan menyatakan ingin menjaga agar kantor tetap nyaman dan terbebas dari benda-benda kotor berbau menyengat. Administrator tersebut bahkan mencontohkan dan menunjukkan apa yang sampah di hadapan Prakash yang ternyata wadah palak paneer miliknya.
Saat Prakash menanyakan jenis makanan yang dianggap layak, ia memperoleh jawaban bahwa “sandwich” diperbolehkan, sedangkan “kari” tidak. Prakash menilai jawaban tersebut bermasalah karena dalam pemahaman umum di AS, istilah kari merujuk pada hampir seluruh kuliner khas India.
Ia juga mempertanyakan mengapa hidangan beef chili yang pernah dibawa administrator itu sebelumnya tidak dipersoalkan, padahal juga memiliki aroma kuat. Pertanyaan tersebut, menurut gugatan, tidak segera mendapat tanggapan.
Dua hari berselang, Prakash kembali memanaskan makanan India bersama empat mahasiswa antropologi lain sebagai bentuk solidaritas. Ia mengeklaim, seorang staf lain mengejek mereka dan menutup pintu dapur dengan gestur yang ditafsirkan sebagai ekspresi jijik.
Dalam gugatan disebutkan bahwa saat kejadian tidak terdapat kebijakan resmi yang melarang mahasiswa menggunakan dapur kantor utama. Namun, departemen kemudian menuding para mahasiswa memicu keributan dan melaporkan peristiwa itu ke kantor etik mahasiswa, meskipun tidak ditemukan pelanggaran secara formal.
Baca: Kuliner Islam Pelopor Makanan Sehat Dunia
Bhattacheryya sempat mengundang Prakash untuk berbicara di kelas mengenai etnosentrisme dan relativisme budaya. Prakash menyampaikan pengalaman secara umum tanpa menyebut identitas staf. Beberapa hari setelah kegiatan tersebut, Bhattacheryya mendapati aksesnya sebagai pengajar dicabut tanpa pemberitahuan.
“Saya membuka laptop untuk mengakses daftar kelas, lalu akses saya terkunci. Tidak ada peringatan dan tidak ada pembicaraan sebelumnya,” katanya.
Situasi semakin memburuk setelah departemen mengedarkan email yang kembali membatasi penggunaan dapur serta menganjurkan agar tidak menyiapkan makanan beraroma tajam atau menyengat. Prakash dan Bhattacheryya menilai kebijakan tersebut bersifat diskriminatif dan menyampaikan keberatan secara terbuka kepada seluruh departemen.
Sejak itu, menurut keduanya, persoalan tidak lagi diposisikan sebagai isu perlakuan rasial, melainkan diarahkan pada persoalan sikap dan profesionalisme. Prakash bahkan dipanggil dalam beberapa pertemuan dengan pimpinan fakultas dan diberi tahu bahwa sebagian staf merasa terancam olehnya.
“Mereka menyampaikan bahwa saya dianggap sebagai ancaman fisik. Saya diminta selalu didampingi penasihat saat berada di area tersebut. Bagi saya, permintaan itu tidak dapat diterima,” kata Prakash.