Ikhbar.com: Bagi Robert Martin, Palestina bukan isu politik semata. Palestina menjadi ruang perjumpaan dengan ketidakadilan, rasa takut, dan pada akhirnya, keyakinan yang mengubah arah hidupnya.
Aktivis pro-Palestina asal Australia itu mengenang awal keterlibatannya dalam isu Palestina berangkat dari pertemanan. Bertahun-tahun lalu, Martin berkenalan dengan seorang warga Palestina. Dari percakapan itulah kisah tentang pendudukan, blokade, dan kekerasan mulai ia dengar. Namun, pada fase itu, Martin belum sepenuhnya percaya.
Seperti banyak warga Barat lain, ia mengakui masih memegang kuat narasi media arus utama serta pernyataan resmi pemerintah. Kesaksian mengenai kekerasan Israel terdengar berlebihan baginya, sampai sebuah pengalaman langsung meruntuhkan keraguan tersebut.
Baca: Masuk Masjid, Bintang Porno Jepang Nyatakan Mualaf
Pada Oktober 2025 lalu, Martin bergabung dengan Freedom Flotilla, misi internasional yang menentang blokade Israel atas Gaza. Armada sipil tersebut membawa pesan kemanusiaan, penolakan terhadap pengepungan, serta tuntutan keadilan. Di tengah laut, jauh dari ruang redaksi dan konferensi pers, Martin menyaksikan realitas lain dari konflik Palestina-Israel.
Kapal yang ditumpanginya dikepung puluhan armada Israel. Tidak lama berselang, pasukan bersenjata mengambil alih kapal dan memaksa seluruh awak menuju Pelabuhan Ashdod. Dari titik itu, proses penahanan dimulai.
Martin menggambarkan kejadian tersebut sebagai pengalaman agresif dan menakutkan. Ia turun dari kapal dalam todongan senjata. Selama penahanan, ia mengaku mengalami kekerasan fisik, seksual, dan psikologis. Penggeledahan tubuh dilakukan berulang kali dengan cara yang, menurutnya, merendahkan martabat manusia.
“Pengalaman ini mungkin hanya berlangsung singkat,” ujar Martin, dikutip dari Anadolu Agency, Kamis, 8 Januari 2026.
Baca: Ahli Gizi Inggris Putuskan Mualaf usai Terkesima Keajaiban Puasa
“Tetapi inilah yang dialami warga Palestina setiap hari,” katanya.
Sebagai pemegang paspor Australia, ia sempat mengira akan mendapat perlakuan berbeda. Harapan tersebut tidak terwujud. Ia tidak memperoleh keistimewaan apa pun. Kekecewaan juga tertuju pada pemerintah negaranya.
Martin menilai pemerintah Australia tidak melakukan langkah berarti, bahkan sekadar menyampaikan protes resmi. Menurutnya, pertimbangan politik terkait Israel membuat banyak negara memilih bersikap diam. Ia juga menyampaikan pengakuan staf konsuler yang mendampinginya, bahwa Israel termasuk negara yang paling sulit dimintai pertanggungjawaban karena kerap bertindak di luar norma internasional.
Di tengah pengalaman pahit itu, perjalanan hidup Martin bergerak ke arah yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya, pencarian spiritual yang berujung pada Islam.
Selama sekitar 15 tahun, Martin hidup berdampingan dengan komunitas Muslim. Ia menyebut interaksi tersebut sebagai pengalaman hangat yang membentuk pandangannya tentang iman dan kemanusiaan. Sekitar satu dekade lalu, ia mulai membaca Al-Qur’an, bukan sebagai penganut, melainkan sebagai pencari makna.
Bagi Martin, Al-Qur’an merupakan salah satu kitab paling mendalam yang pernah ia baca. Dalam beberapa bulan terakhir, melalui pembelajaran mandiri dan pendampingan, ia merasa semakin dekat dengan ajaran Islam.
“Proses inilah yang mengantarkan saya pada keputusan untuk memeluk Islam,” tegas Martin.
Baca: Peneliti Bosnia Bongkar Biang Kerok Diamnya Pakar Genosida Dunia soal Gaza
Martin menuturkan bahwa keindahan bahasa serta kedalaman makna Al-Qur’an memberinya keyakinan yang tenang tanpa paksaan. Ia memandang Islam sebagai ajaran terbuka, inklusif, dan menjunjung keadilan, nilai-nilai yang juga ia temukan dalam perjuangan rakyat Palestina.
Kini, setelah penahanan dan hijrah keyakinan, Martin menegaskan satu sikap. Diam tidak lagi menjadi pilihan. Ia berkomitmen terus menyuarakan isu Palestina dan pengalamannya mengenal Islam, meskipun risiko selalu ada.
Menurut Martin, dunia sedang bergerak. Dukungan global terhadap Palestina terus menguat, melampaui batas agama dan kebangsaan. Baginya, keberpihakan tersebut bukan persoalan ideologi, melainkan panggilan nurani.