Filantropi Islam dan Banjir Sumatera: Bagaimana Zakat Menjadi ‘Energi Terbarukan’ Sosial? 

Zakat adalah “energi terbarukan” dalam sistem keuangan sosial Islam, dengan potensi global yang belum tergarap sepenuhnya riset menunjukkan zakat global seharusnya mencapai setidaknya 350 miliar dolar AS per tahun.
Ilustrasi zakat. Foto: Shutterstock

Oleh: Alfina (Anggota Bidang Media, Komunikasi, dan Informasi KOPRI PB PMII) 

SELAMA ini, zakat kerap dipersepsikan sebatas kewajiban ibadah yang ditunaikan setahun sekali, terutama menjelang Ramadan. Padahal, dalam sejarah awal Islam, zakat dirancang sebagai instrumen sosial yang memiliki fungsi strategis untuk menjaga keadilan, menekan kesenjangan ekonomi, serta melindungi kelompok masyarakat paling rentan.

Sejak awal Islam, zakat dirancang sebagai instrumen sosial strategis seperti menjaga keadilan, mengentaskan kemiskinan, dan memperkuat kelompok masyarakat rentan. Di Indonesia, potensi zakat nasional sangat besar, diperkirakan mencapai Rp230–327 triliun per tahun. Sayangnya, potensi ini belum optimal karena literasi zakat masih rendah, terutama di kalangan Generasi Z.

Generasi Z yang menyumbang sekitar 28% populasi Indonesia memiliki peran penting dalam mengubah paradigma ini. Gerakan Generasi Zakat hadir untuk menjadikan zakat bukan sekadar ritual, tetapi instrumen perubahan sosial. Ada tiga pilar utama gerakan ini:

  1. Zakat for Change: Dana zakat diarahkan untuk pemberdayaan sosial, yakni mengentaskan kemiskinan, menguatkan UMKM, memperluas akses kesehatan, hingga meningkatkan kemandirian ekonomi masyarakat rentan.
  2. Zakat Harus Tepat: Distribusi zakat harus berbasis data, transparan, dan akuntabel, agar manfaatnya benar-benar dirasakan mustahik yang berhak.
  3. Zakat Watch: Anak muda didorong menjadi pengawas ekosistem zakat, menjaga amanah publik agar tetap bersih dan terpercaya.

Pentingnya gerakan ini menjadi semakin nyata ketika bencana melanda, seperti banjir yang beberapa waktu lalu terjadi di Sumatera. Dalam situasi darurat, filantropi Islam melalui zakat, infak, sedekah, dan wakaf menjadi kekuatan sosial yang cepat dan efektif menolong korban.

Baca: Generasi Zakat, Gerakan Baru Gen Z Merawat Perubahan Sosial

Sebagai contoh konkret, PBNU meluncurkan gerakan “Solidaritas 1 Juta Keluarga NU untuk Korban Bencana Alam” yang menyalurkan bantuan langsung kepada masyarakat terdampak.

Selain itu, Badan Pengungsi Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNHCR) menilai zakat dan wakaf memiliki potensi besar untuk menjadi sumber pendanaan utama dalam penanganan bencana di negara mayoritas Muslim seperti Indonesia.

Senior Advisor to the High Commissioner for UNHCR (GCC), Dr. Khaled Khalifa, menyampaikan hal tersebut di ajang Momentum 2025 di Riyadh, Arab Saudi. Ia menekankan bahwa respons bencana tidak cukup hanya bersifat reaktif. Pemerintah dan masyarakat perlu memperkuat kesiapsiagaan jangka panjang dengan memanfaatkan instrumen keuangan sosial Islam seperti zakat, wakaf, qard al-hasan, dan sadaqah jariyah.

Menurut Khaled, zakat adalah “energi terbarukan” dalam sistem keuangan sosial Islam, dengan potensi global yang belum tergarap sepenuhnya riset menunjukkan zakat global seharusnya mencapai setidaknya 350 miliar dolar AS per tahun.

UNHCR bahkan telah menguji efektivitas pendekatan ini melalui Dana Zakat UNHCR yang dibentuk pada 2017 dan mulai beroperasi pada 2019, menunjukkan bahwa jika dikelola dan disalurkan tepat, zakat dapat menutup sebagian besar kebutuhan sosial masyarakat, termasuk saat terjadi bencana besar.

Gen Z dapat memperkuat peran ini, bukan hanya sebagai donatur, tetapi juga sebagai penggerak edukasi, inovator distribusi, dan pengawas transparansi. Dengan literasi digital dan kesadaran sosial yang tinggi, anak muda menjadi jembatan antara potensi zakat yang besar dan kebutuhan riil masyarakat terdampak bencana.

Zakat bukan sekadar kewajiban ritual. Ia adalah fondasi solidaritas sosial dan alat perubahan yang bisa merespons tantangan kemiskinan dan bencana secara bersamaan. Melalui gerakan seperti Generasi Zakat, kekuatan filantropi Islam dapat dioptimalkan untuk membangun masyarakat yang lebih adil, tangguh, dan berkeadaban.

Kami mengundang para pembaca yang budiman untuk menyumbangkan buah pikirannya melalui kanal ‘Risalah.’ Kirimkan tulisan terbaik Anda melalui email redaksi@ikhbar.com.

Ikuti dan baca artikel kami lainnya di Google News.