Ikhbar.com: Tradisi pesantren menempatkan adab sebagai dasar utama. Ilmu dapat dicari, kitab dapat dipelajari, hafalan dapat dituntaskan. Tanpa adab, semuanya kehilangan arah dan tujuan.
Pesan itu ditekankan Pengasuh Pondok Pesantren Al-Mizan Majalengka, Dr. KH Maman Imanulhaq, dalam “Serial Kajian Kitab Adabul ‘Alim wal Muta’allim karya Hadaratussyeikh KH. Hasyim Asy’ari (Season 4)” di Aula Lantai 1 Kantor DPP PKB, Jakarta.
Dalam pengajian yang disiarkan melalui kanal YouTube DPP PKB tersebut, Kiai Maman mengingatkan bahwa pesantren tidak memisahkan ilmu dari tata krama.
“Ilmu itu tidak akan masuk kalau adabnya tidak beres,” tegas Kiai Maman, dikutip pada Selasa, 3 Maret 2026.

Tonton: Sinikhbar: Menapaki Suluk Al-Mizan Kiai Maman
Adab sebagai fondasi keilmuan
Kiai Maman menjelaskan bahwa dalam konstruksi pendidikan pesantren, adab menjadi pintu masuk ilmu. Santri tidak langsung dibebani target hafalan atau pendalaman analisis. Mereka lebih dahulu dibimbing tentang cara duduk, cara bertanya, cara berbicara, serta cara memosisikan diri di hadapan guru.
Ia merujuk pada semangat kitab Adabul ‘Alim wal Muta’allim yang menempatkan hubungan guru dan murid sebagai relasi sakral. Guru dihormati karena perannya sebagai pewaris ilmu para nabi.
Dalam konteks itu, Kiai Maman mengingatkan hadis yang kerap menjadi landasan penghormatan terhadap ulama:
إِنَّ الْعُلَمَاءَ وَرَثَةُ الْأَنْبِيَاءِ، وَإِنَّ الْأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوا دِينَارًا وَلَا دِرْهَمًا، إِنَّمَا وَرَّثُوا الْعِلْمَ، فَمَنْ أَخَذَهُ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ
“Sesungguhnya ulama adalah pewaris para nabi. Sesungguhnya nabi tidak mewariskan dinar dan dirham, tetapi mewariskan ilmu. Maka barangsiapa mengambilnya, maka ia telah mengambil bagian yang banyak.” (HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi)
Menurut Kiai Maman, jika ulama adalah pewaris nabi, adab kepada mereka merupakan konsekuensi dari keyakinan tersebut.
Ia juga menggarisbawahi pentingnya niat dalam belajar. Ilmu tidak boleh dikejar demi kebanggaan pribadi atau pengakuan sosial.
“Tanpa niat yang lurus, ilmu kehilangan keberkahannya,” katanya.
Baca: 3 Ciri ‘Gus’ Sejati menurut Kiai Maman
Menata niat dan posisi diri di hadapan ilmu
Selain relasi lahiriah antara murid dan guru, Kiai Maman menekankan penataan niat sebagai aspek mendasar. Niat menentukan arah seluruh proses belajar.
Belajar, menurut Anggota Komisi VIII DPR RI itu, bukan untuk mencari popularitas atau memperkaya argumen dalam perdebatan. Ilmu harus ditempatkan sebagai jalan ibadah. Ia mengingatkan pesan dasar dalam tradisi Islam bahwa kualitas amal ditentukan oleh niat.
Nabi Muhammad Saw bersabda:
إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ
“Sesungguhnya setiap amal tergantung pada niatnya.” (HR. Bukhari)
Kiai Maman menjelaskan bahwa kaidah ini berlaku dalam menuntut ilmu. Niat yang keliru membuat ilmu berubah menjadi alat pembenaran diri atau sarana menyerang orang lain. Sebaliknya, niat yang lurus menjaga seseorang tetap rendah hati meski pengetahuan bertambah.
Ia juga mengingatkan bahwa dalam tradisi pesantren, santri dididik agar tidak merasa lebih cepat paham daripada gurunya. Sikap tergesa dalam menyimpulkan atau merasa cukup dengan membaca satu atau dua referensi dipandang sebagai tanda kurangnya adab terhadap ilmu.
Menurut Kiai Maman, posisi murid harus tegas, datang untuk belajar, bukan untuk menguji atau mempertontonkan kecakapan. Kesadaran atas posisi ini menjaga hubungan guru dan murid tetap sehat serta produktif.
Dalam penjelasannya, Kiai Maman menautkan prinsip tersebut dengan firman Allah:
يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ
“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.” (QS. Al-Mujadilah: 11)
Ayat itu, kata Kiai Maman, kerap dikutip untuk menegaskan keutamaan ilmu. Namun, yang disebut lebih dahulu adalah keimanan. Ilmu harus berdiri di atas fondasi iman dan akhlak.
“Dari fondasi inilah karakter santri dibentuk, cakap dalam berpikir, tetapi tetap tahu batas dan tanggung jawabnya,” katanya.
Baca: Penting dan Inspiratif! Kiai Maman Bagikan 20 Kunci Sukses Ini
Ilmu harus melahirkan kerendahan hati
Kiai Maman juga menyoroti fenomena era digital yang membuka akses informasi secara luas. Banyak orang merasa cukup membaca potongan dalil atau cuplikan ceramah untuk mengklaim pemahaman.
“Sekarang orang mudah mengutip, mudah berkomentar. Tapi adabnya sering hilang,” ucapnya.
Ia membedakan informasi dan ilmu. Informasi dapat diperoleh dengan cepat, sedangkan ilmu menuntut proses, bimbingan, serta akhlak. Pesantren menjaga sanad dalam arti transmisi teks sekaligus transmisi adab.
Kiai Maman kembali menekankan bahwa ilmu sejati menumbuhkan kerendahan hati. Orang berilmu seharusnya semakin sadar akan keterbatasan diri dan tidak menjadikan pengetahuan sebagai alat untuk merasa lebih tinggi.
Menurut Kiai Maman, derajat yang dijanjikan Allah kepada orang beriman dan berilmu adalah amanah. Peninggian derajat itu tidak boleh dijadikan legitimasi kesombongan atau alasan merendahkan orang lain.
“Ilmu itu harus membuat kita semakin rendah hati, bukan semakin tinggi hati,” katanya.
Baca: 3 Jalan Keselamatan menurut Kiai Maman
Husnuzan dan kunci keberkahan
Kiai Maman menegaskan bahwa keberkahan ilmu bertumpu pada ketakziman. Murid bisa dimarahi, diabaikan, bahkan diuji. Sikap yang diambil tetap harus baik sangka.
“Kalau kita pernah dimarahi, dicaci, jangan sedikit pun ada rasa benci terhadap guru kita. Jangan ada sedikit pun… Itu enggak boleh. Kenapa? Karena guru kita walaupun kita hanya sehari dipesanin itu, itu akan memberi dampak manfaat yang lebih besar kepada kita,” katanya.
Baginya, “adab dulu, baru ilmu” adalah sistem nilai yang menjaga tradisi pesantren tetap kokoh.
“Ilmu tanpa adab melahirkan kesombongan. Adab tanpa ilmu membuat langkah tak terarah. Pesantren menjaga keduanya tetap berjalan beriringan,” pungkasnya.