Ikhbar.com: Ramadan di pesantren tidak berhenti pada praktik menahan lapar dan dahaga. Bulan suci ini menjadi momentum strategis untuk membentuk karakter sekaligus mengasah intelektualitas santri agar tumbuh matang. Puasa menjadi fondasi moral, sedangkan tradisi keilmuan memperkuat nalar dan ketajaman berpikir.
Hal itu disampaikan Pengasuh Pondok Pesantren Ketitang Cirebon, KH Ahmad Zuhri Adnan, saat memberikan sambutan dalam acara Launching Buku ‘Peta Jalan Ramadan’ dan Munggahan Puasa 1447 H pada Sabtu, 14 Februari 2026.
Menurut Kiai Zuhri, pesantren berdiri di atas empat pilar utama, yakni sanad (mata rantai) keilmuan, kajian kitab kuning, integrasi ilmu dan akhlak, serta kemandirian dan kesederhanaan hidup. Keempat pilar tersebut menjaga kesinambungan tradisi sekaligus membentuk watak santri.
“Sanad keilmuan sangat penting dalam tradisi pesantren, khususnya di lingkungan Nahdlatul Ulama (NU). Setiap pengajian kitab memiliki mata rantai yang jelas,” ujarnya.
Baca: Ikhbar.com Rilis Buku Panduan Ramadan Berbasis Keluarga dan Sosial
Menguatkan kecerdasan
Puasa melatih disiplin waktu, ketahanan mental, dan konsistensi. Sedangkan santri terbiasa bangun sebelum fajar, menahan diri sepanjang hari, lalu menghidupkan malam dengan ibadah dan belajar. Ritme ini membentuk pribadi yang lebih tenang dan tidak gegabah dalam mengambil keputusan.
“Ilmu tidak boleh berhenti di kepala. Ilmu harus turun menjadi sikap dan perilaku,” ujar Kiai Zuhri.
Di pesantren, Ramadan menjadi ruang penerapan prinsip tersebut secara lebih terarah. Melalui tradisi Ngaji Pasaran Ramadan, misalnya, kajian kitab kuning berlangsung dengan durasi lebih ringkas dan target capaian yang jelas. Sedangkan sebelumnya, santri sudah dibekali pemahaman bahwa mengaji kitab kuning menuntut kemampuan membaca teks secara utuh, menelaah struktur bahasa, memahami konteks sejarah, serta mencermati perbedaan pandangan ulama.
“Mengaji kitab itu memahami nahwu-sharaf, konteks, hingga perbedaan pendapat para ulama. Tidak bisa sepotong-sepotong. Saat ngaji pasaran, mereka diuji secara praktiknya,” kata Kiai Zuhri.
Baca: Kiai Marzuki Wahid: Ramadan Harus Jadi Sarana Refleksi dan Introspeksi Diri
Selain pengajian kitab, tradisi geberan atau kejar target bacaan Al-Qur’an menjadi ciri Ramadan di pesantren. Santri berlomba menuntaskan bacaan dengan disiplin tinggi. Latihan ini menumbuhkan konsistensi, daya tahan, serta kedekatan dengan wahyu sebagai sumber nilai dan rujukan ilmu.
Banyak pesantren tidak meliburkan kegiatan selama Ramadan. Bulan tersebut dimanfaatkan sebagai fase pembelajaran intensif. Secara historis, Ramadan dikenal sebagai musim ilmu karena para ulama terdahulu mengisinya dengan pengajian khusus dan pembacaan kitab secara maraton. Tradisi tersebut berlanjut di pesantren melalui ngaji pasaran, tadarus terjadwal, serta pendalaman materi meski berjalan lebih longgar.
“Saat Ramadan, karakter dan intelektualitas santri ditempa dan tumbuh dalam satu tarikan napas,” ungkap kiai lulusan Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, Jawa Timur itu.

Baca: Kiai Ahmad Zaini Dahlan: Buku ‘Peta Jalan Ramadan’ Bekal Literasi selama Bulan Suci
Sanad dan literasi pesantren
Kiai Zuhri menegaskan, meski ditargetkan selesai dalam waktu sebulan atau bahkan separuhnya, seluruh proses tetap berpijak pada sanad keilmuan. Setiap kitab yang diajarkan memiliki mata rantai transmisi yang jelas dari guru ke guru hingga kepada penulisnya. Sanad menjadi penanda otoritas sekaligus etika dalam belajar.
“Sanad keilmuan sangat penting dalam tradisi pesantren. Tanpa sanad, ilmu bisa kehilangan arah dan pijakan,” ujarnya.
Sanad mengajarkan bahwa ilmu bukan sekadar informasi yang diambil bebas, melainkan amanah yang harus dijaga. Di dalamnya terdapat adab, tanggung jawab, serta kesadaran atas dampak sosial dari setiap pendapat.
Baca: Sambut Ramadan, Nyai Tho’ah Ja’far Soroti Kesiapan Ibadah dan Keluarga
Dalam konteks kekinian, prinsip tersebut berkaitan dengan literasi. Pesantren melatih kemampuan membaca teks sekaligus memahami situasi. Di era digital, ketika opini kerap menyebar lebih cepat dibandingkan fakta, tradisi ketelitian dan kehati-hatian semakin dibutuhkan.
Karena itu, Kiai Zuhri mengapresiasi terbitnya buku “Peta Jalan Ramadan Menata Ibadah, Keluarga, hingga Kepedulian terhadap Sesama” yang diterbitkan Ikhbar.com. Menurutnya, buku tersebut menjadi ikhtiar memperluas tradisi literasi pesantren ke ruang publik.
“Kalau ingin nilai itu bertahan, ia harus dituliskan,” tuturnya.
Buku menjadi perpanjangan majelis ilmu yang menjaga kesinambungan gagasan, membuka akses lintas generasi, serta memastikan pengalaman Ramadan tidak berhenti sebagai kenangan.
“Buku menjadi panduan yang bisa dirujuk dan dikembangkan,” pungkasnya.