Ikhbar.com: Isu pesantren yang dianggap feodal dan sarat kultus individu masih kerap muncul di ruang publik. Menanggapi hal tersebut, Pengasuh Pondok Pesantren Al-Murtadlo Buntet Cirebon, Dr. KH Fahad Achmad Sadat, memberikan penjelasan yang lebih kontekstual.
Dalam Sinikhbar | Siniar Ikhbar di Ikhbar TV bertema “Lebaran Hari Raya Keteladanan”, Kiai Fahad menilai anggapan itu tidak dapat digeneralisasi. Pesantren memiliki sistem nilai dan tradisi yang berbeda dari institusi lain.
“Apa bedanya dengan di dunia kerja, karyawan menghormati bosnya karena karier dan gajinya. Santri menghormati kiai dan gurunya karena ilmunya,” ujar sosok yang juga mengemban amanat sebagai Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) Buntet Pesantren Cirebon tersebut, dikutip pada Selasa, 17 Maret 2026.

Baca: Ini Makna Penting ‘Adab Dulu, Baru Ilmu’, Pakem Ketakziman Pesantren terhadap Guru
Menurut Kiai Fahad, relasi antara kiai dan santri memang dilandasi penghormatan. Namun, hal itu tidak bisa disamakan dengan feodalisme. Di dalamnya terdapat nilai pendidikan karakter yang kuat.
Ia menjelaskan, penghormatan kepada guru merupakan bagian dari adab dalam tradisi keilmuan Islam. Adab ini menjadi fondasi dalam proses belajar.
Di sisi lain, pesantren terus berkembang. Banyak lembaga melakukan pembaruan dalam sistem pendidikan tanpa meninggalkan nilai dasar.
Baca: Kenapa Santri Mencium Tangan Kiai? Begini Dalil Gus Rifqil
Kiai Fahad menegaskan pentingnya melihat pesantren secara utuh, bukan dari satu sudut pandang. Generalisasi justru berpotensi menimbulkan kesalahpahaman.
Menurutnya, pesantren tetap relevan sebagai ruang pendidikan yang membentuk karakter sekaligus intelektualitas santri.
“Pesantren itu punya tradisi penghormatan, tapi bukan berarti itu kultus. Itu bagian dari adab dalam belajar,” tegas Kiai Fahad.