Ikhbar.com: Tidak semua orang yang menjalankan puasa memperoleh pahala sebagaimana yang diharapkan. Dalam sejumlah keadaan, seseorang hanya merasakan lapar dan dahaga tanpa nilai ibadah yang berarti.
Anggota Dewan Pengasuh Pondok Pesantren KHAS Kempek Cirebon, KH Ahmad Zaeni Dahlan, Lc., M.Phil., M.Si., menjelaskan bahwa kondisi tersebut berkaitan dengan niat yang tidak lurus ketika menjalankan ibadah.
Hal itu disampaikan Kiai Ahmad, sapaan masyhurnya, dalam program Cirebon Mengaji bertema “Keikhlasan didalam beribadah” yang disiarkan melalui kanal YouTube BAZNAS Kabupaten Cirebon, Rabu, 11 Maret 2026.
Baca: Kiai Ahmad: Ramadan Momentum Terbaik untuk Melatih Keikhlasan
Menurut Kiai Ahmad, puasa yang dijalankan dengan motivasi duniawi dapat kehilangan nilai ibadahnya. Akibatnya, puasa berubah menjadi kegiatan menahan lapar dan dahaga tanpa makna ibadah.
“Kalau misalnya pamrih-pamrihnya hanya bersifat duniawi, maka kita termasuk golongan yang berpuasa tidak mendapatkan apa-apa kecuali hanya rasa haus dan lapar,” kata Kiai Ahmad.
Karena itu, ia menekankan pentingnya menjaga niat sejak awal menjalankan ibadah. Puasa merupakan bentuk penghambaan kepada Allah yang menuntut ketulusan hati.
Untuk menjelaskan makna keikhlasan dalam beribadah, Kiai Ahmad menyinggung teladan Nabi Muhammad Saw yang dikenal sangat tekun melaksanakan salat malam hingga kakinya membengkak.
Ketika Sayyidah Aisyah bertanya mengapa Nabi tetap bersungguh-sungguh beribadah padahal telah dijamin masuk surga, Rasulullah Saw menjawab:
أَفَلَا أَكُونُ عَبْدًا شَكُورًا
“Bukankah aku ingin menjadi hamba yang bersyukur?” (HR. Bukhari dan Muslim)
Baca: Kiai Ahmad Ungkap Tiga Tingkatan Ikhlas dalam Ibadah
Jawaban tersebut menunjukkan bahwa ibadah Nabi tidak didorong oleh kepentingan dunia ataupun sekadar mengharap pahala. Ibadah dilakukan sebagai wujud rasa syukur atas nikmat Allah.
Kiai Ahmad menilai teladan tersebut penting dijadikan pelajaran oleh umat Islam ketika menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadan. Nilai ibadah tidak hanya terletak pada aktivitas lahiriah, tetapi juga pada niat yang menyertainya.
Karena itu, menjaga keikhlasan menjadi kunci agar puasa tetap bernilai sebagai ibadah yang mendekatkan manusia kepada Allah.
“Puasa seharusnya menjadi sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah. Kalau niatnya keliru, yang tersisa hanya lapar dan dahaga,” pungkas Ketua Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Kabupaten Cirebon tersebut.