Oleh: Nurhidayah
(Santri Pondok Pesantren KHAS Kempek Cirebon asal Indramayu, Jawa Barat)

SETIAP menjelang pagi di bulan Ramadan, sekitar pukul 03.00 WIB, bel Asrama Al-Nashir Al-Manshur, Pondok Pesantren KHAS Kempek Cirebon berbunyi nyaring. Suara itu menjadi tanda bagi para santri untuk bangun dan bersiap menyantap sahur, momen yang sebenarnya biasa sajam tapi justru terasa paling berat dijalani.
Para santri yang sedang terlelap sontak terbangun. Sebagian tampak kaget, sebagian lain masih berusaha membuka mata yang berat. Ada yang duduk termangu, ada pula yang kembali menarik selimut untuk mencuri waktu beberapa menit. Rasa kantuk pada waktu itu sering kali lebih kuat daripada dorongan untuk bangkit.
Baca: Detik-detik Meraih Kemenangan Kecil
Santri yang telah benar-benar terjaga biasanya segera membangunkan teman-temannya. Mereka saling memanggil, menggoyang bahu, bahkan sesekali dengan nada setengah memaksa. Suasana asrama pun perlahan berubah dari tenang menjadi riuh oleh langkah kaki, percakapan pelan, dan keluhan kecil karena masih mengantuk.
Di pesantren, sahur tidak berhenti pada urusan makan sebelum imsak. Kegiatan ini menjadi latihan disiplin. Tidak ada orang tua yang membangunkan, juga tidak ada ruang untuk menunda. Semua berjalan dalam urutan bangun, berwudu, makan secukupnya, lalu bersiap menjalani rangkaian ibadah berikutnya. Dari situ para santri belajar bahwa melawan diri sendiri sering kali lebih berat daripada menjalankan perintah.
Meski begitu, para santri tetap berusaha melawan kantuk demi melaksanakan sahur.
Santri memahami bahwa sahur memang tidak wajib, tetapi memiliki keutamaan dan keberkahan sebagaimana dijelaskan dalam ajaran Islam.
Allah Swt. berfirman:
كَانُوا قَلِيلًا مِّنَ ٱلَّيْلِ مَا يَهْجَعُونَ . وَبِٱلْأَسْحَارِ هُمْ يَسْتَغْفِرُونَ
“Mereka sedikit sekali tidur pada waktu malam; dan pada waktu sahur mereka memohon ampun (kepada Allah).” (QS. Adz-Dzariyat: 17–18)
Ayat ini menunjukkan bahwa waktu sahur tidak hanya terkait makan, tetapi juga menjadi saat yang dekat dengan ampunan. Ketika sebagian besar orang masih terlelap, para santri justru diajak bangun, mengingat Allah, dan menata niat.
Selain itu, Rasulullah Muhammad Saw bersabda:
تَسَحَّرُوا فَإِنَّ فِي السَّحُورِ بَرَكَةً
“Bersahurlah kalian, karena sesungguhnya dalam sahur terdapat keberkahan.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Dalam riwayat lain, Rasulullah saw juga bersabda:
فَصْلُ مَا بَيْنَ صِيَامِنَا وَصِيَامِ أَهْلِ الْكِتَابِ أَكْلَةُ السَّحَرِ
“Perbedaan antara puasa kita dengan puasa Ahli Kitab adalah makan sahur.” (HR. Muslim)
Hadis ini menegaskan bahwa sahur merupakan bagian penting dalam pelaksanaan ibadah puasa.
Baca: Nasihat Sabar dari ‘Ayah’ dan ‘Bunda’
Bagi santri, pengalaman sahur di pesantren meninggalkan kesan yang sulit dilupakan. Makan dengan menu apa adanya, duduk berdesakan, dan dalam kondisi setengah sadar justru menghadirkan kebersamaan yang kuat. Hidangannya biasa saja, tetapi suasananya membuat semuanya terasa berbeda.
Ramadan di pesantren juga mempertemukan sahur dengan rangkaian ibadah lain yang saling terhubung. Setelah makan, sebagian santri melanjutkan dengan membaca Al-Qur’an, sebagian lain berzikir atau duduk menahan kantuk sambil menunggu azan Subuh. Waktu sahur menjadi awal dari hari yang diisi ibadah, mulai dari salat Subuh berjamaah, mengaji kitab, hingga aktivitas harian lainnya.
Sahur mengajarkan hal mendasar tentang kesungguhan. Melawan kantuk terlihat sepele, tetapi dari situ tumbuh kebiasaan bangun malam, kedisiplinan, dan kesadaran bahwa ibadah tidak selalu mudah dijalani. Justru dalam kondisi yang tidak nyaman, nilai keberkahan sering hadir.
Dengan demikian, sahur menjadi bagian dari proses membentuk diri. Di balik rasa kantuk, terdapat latihan keikhlasan, kebersamaan, dan harapan akan keberkahan Ramadan yang terus tumbuh dalam kehidupan para santri.