Oleh: Nurul Fadilah
(Santri Pondok Pesantren KHAS Kempek Cirebon asal Subang, Jawa Barat)

MENTARI siang Ramadan memancar terik. Panasnya menyengat, tetapi langkah ini tetap diarahkan menuju tempat pengajian. Kami membawa kitab Nabiyurrahmah untuk dikaji bersama ibu nyai yang sangat kami cintai, Ny. Hj. Tho’atillah Ja’far.
Pelataran pesantren terasa panas hingga seakan membakar telapak kaki. Dengan langkah tergesa, sesekali disertai lari kecil, kami menuju Tajug Nyai Mu’minah di Komplek Asrama Putri Al-Nashir Al-Manshur, Pondok Pesantren KHAS Kempek Cirebon. Terik matahari kian terasa, tetapi semangat mengikuti pengajian membuat langkah tetap terasa ringan.
Para santri telah berkumpul lebih dahulu. Sebagian melantunkan ayat-ayat Al-Qur’an, sebagian lain membuka kitab sambil menunggu ibu nyai rawuh (datang). Lantunan tilawah terdengar perlahan dan menghadirkan suasana khusyuk. Tak lama kemudian, Bunda Tho’ah, begitu kami menyapanya, hadir dan memulai pengajian. Para santri menyimak dengan penuh perhatian sambil mencatat penjelasan yang disampaikan.
Baca: Hidangan ‘Seribu’ Tangan
Dalam pengajian itu, Bunda Tho’ah mengingatkan bahwa kesabaran harus dilatih melalui kebiasaan kecil dalam kehidupan santri. Menahan rasa lelah, tetap hadir di majelis ilmu, serta menjaga adab ketika belajar menjadi bagian dari latihan tersebut. Menurut Bunda Tho’ah, kesabaran bukan sekadar menunggu sesuatu yang diinginkan, melainkan kesungguhan menjaga ketekunan dalam setiap amal.
Setelah pengajian selesai, kegiatan ditutup dengan pembacaan Selawat Mubadalah, pujian kepada Nabi Muhammad Saw yang sarat dengan semangat keadilan dan penghormatan terhadap perempuan, sebuah ciri pemikiran Bunda Tho’ah. Lantunan selawat menggema di ruang tajug dan disambut para santri dengan penuh kekhusyukan.
Menjelang sore, waktu di pesantren berjalan dengan ritme yang khas. Para santri menunggu azan Asar dengan beragam kegiatan. Ada yang mencuci pakaian di belakang asrama, ada yang kembali bertadarus Al-Qur’an, ada pula yang berbincang ringan dengan teman sekamar. Sebagian santri memilih berbaring sejenak untuk memulihkan tenaga hingga waktu berbuka tiba.
Salat Asar berjemaah pun dilaksanakan. Setelah itu, kegiatan dilanjutkan dengan mengaji pasaran bersama KH Ahmad Zaeni Dahlan, yang biasa kami sapa Ayah Ahmad. Dalam pengajian tersebut, kami kembali diingatkan bahwa Ramadan tidak berhenti pada menahan lapar dan dahaga. Bulan ini juga menjadi waktu untuk bersungguh-sungguh menimba ilmu dan memperbaiki diri.
Baca: Fajar Puasa dari Jendela Asrama
Ayah Ahmad sering menegaskan bahwa kesabaran santri tampak dari kesungguhan menjaga waktu belajar. Walaupun tubuh terasa lelah dan tenggorokan kering karena puasa, pengajian tetap harus diikuti dengan penuh perhatian. Ayah Ahmad mengingatkan bahwa orang yang tekun menuntut ilmu akan memperoleh keberkahan dari kesabaran yang dijaga sepanjang proses belajar.
Setelah cukup lama meneguk ilmu, keinginan untuk segera berbuka mulai terasa. Tenggorokan kering menahan dahaga. Namun, kami tetap melanjutkan kegiatan sambil menanti kumandang azan Magrib yang sebentar lagi tiba.
Di bulan Ramadan, azan Magrib menjadi kumandang yang paling dinanti. Kedatangannya ditunggu melalui berbagai kegiatan yang bernilai ibadah. Setiap detik menjelang berbuka menghadirkan pelajaran tentang kesabaran dan keteguhan hati.
Bagi para santri, Ramadan di pesantren menghadirkan pengalaman yang sangat berharga. Puasa dijalani bersamaan dengan kegiatan belajar, mengaji, dan beribadah sepanjang hari. Kebersamaan tersebut juga menumbuhkan sikap saling menguatkan di antara sesama santri.
Nasihat tentang kesabaran yang sering disampaikan oleh Ayah Ahmad dan Bunda Tho’ah perlahan terasa maknanya dalam kehidupan sehari-hari. Rasa lelah, panas, dan dahaga menjadi bagian dari proses menempa diri.
Baca: ‘Cocogan’ Ramadan
Sebagaimana dalam sebuah riwayat, Nabi Muhammad Saw bersabda:
وَمَنْ يَتَصَبَّرْ يُصَبِّرْهُ اللَّهُ، وَمَا أُعْطِيَ أَحَدٌ عَطَاءً خَيْرًا وَأَوْسَعَ مِنَ الصَّبْرِ
“Barang siapa berusaha bersabar, maka Allah akan menjadikannya sabar. Tidaklah seseorang diberi suatu pemberian yang lebih baik dan lebih luas daripada kesabaran.” (HR. Bukhari)
Hadis tersebut terasa sangat dekat dengan kehidupan kami di pesantren. Panasnya siang hari, panjangnya waktu menunggu berbuka, serta kesungguhan mengikuti pengajian menjadi latihan kesabaran yang diajarkan oleh ‘Ayah’ dan ‘Bunda’. Dari pengalaman itu kami memahami bahwa kesabaran merupakan bekal berharga dalam menjalani perjalanan hidup.