Menanti Azan, Menemukan Makna Ramadan

Setiap menit terasa panjang, seolah menguji kesabaran yang dilatih sepanjang hari.
Ilustrasi. Olah Digital oleh IKHBAR

Oleh: Nisa Nurfitria
(Santri Pondok Pesantren KHAS Kempek Cirebon asal Cirebon, Jawa Barat)

Nisa Nurfitria. IKHBAR/FSJ

SEORANG santri duduk di kamar sambil menatap jam dinding. Jarumnya bergerak perlahan, tetapi terasa lambat sekali. Jam menunjukkan pukul 17.50 WIB, hanya sekitar sepuluh menit sebelum azan magrib berkumandang. Namun, entah mengapa, waktu terasa berjalan lebih lama dari biasanya.

Suasana seperti itu kerap dirasakan santri ketika menjalani puasa Ramadan di pesantren. Menjelang berbuka, kamar-kamar asrama mulai ramai. Sebagian membaca Al-Qur’an, sebagian mengulang pelajaran, dan ada pula yang duduk menunggu azan. Dalam keadaan seperti itu, setiap menit terasa panjang, seolah menguji kesabaran yang dilatih sepanjang hari.

Baca: Nasihat Sabar dari ‘Ayah’ dan ‘Bunda’

Selama berpuasa di pesantren, santri belajar memahami makna sabar secara lebih nyata. Sejak sahur hingga menjelang magrib, kegiatan tetap berjalan seperti hari biasa. Para santri mengaji kitab, mengikuti pelajaran, serta melaksanakan ibadah berjemaah. Lapar dan haus tentu terasa, tetapi keadaan itu menjadi bagian dari latihan menahan diri.

“Sebentar lagi azan magrib!”

Kalimat itu sering terdengar di antara para santri ketika waktu berbuka semakin dekat. Harapan mulai tumbuh, tetapi penantian tetap harus dijalani dengan tenang.

Waktu terus berjalan hingga akhirnya suara azan berkumandang dari masjid. Seorang santri tersenyum lalu mengucapkan, “Alhamdulillah.” Dia pun segera bangkit dari tempat duduk. Rasa lega muncul ketika waktu berbuka tiba. Penantian yang terasa panjang ternyata membawa pelajaran yang berharga.

Menunggu azan beberapa menit saja terasa sangat lama. Dari pengalaman singkat itu, santri belajar menahan diri serta melatih kesabaran.

Allah Swt berfirman:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اسْتَعِيْنُوْا بِالصَّبْرِ وَالصَّلٰوةِ ۗ اِنَّ اللّٰهَ مَعَ الصّٰبِرِيْنَ

“Wahai orang-orang yang beriman, mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan salat. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 153)

Baca: Hidangan ‘Seribu’ Tangan

Ketika azan terdengar dan para santri mengucapkan syukur, perasaan menjadi lebih lapang. Ungkapan itu mengingatkan bahwa nikmat kecil pun patut disadari.

Allah Swt juga berfirman:

وَاِذْ تَاَذَّنَ رَبُّكُمْ لَىِٕنْ شَكَرْتُمْ لَاَزِيْدَنَّكُمْ وَلَىِٕنْ كَفَرْتُمْ اِنَّ عَذَابِيْ لَشَدِيْدٌ

“(Ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), sesungguhnya azab-Ku benar-benar sangat keras.” (QS. Ibrahim: 7)

Suasana berbuka di pesantren juga memiliki kehangatan tersendiri. Para santri berkumpul di serambi asrama atau tempat makan seadanya. Kurma, air putih, dan makanan yang disediakan terasa sangat nikmat setelah seharian berpuasa. Kebersamaan tersebut membuat Ramadan di pesantren terasa berbeda. Hidup berjalan apa adanya, tetapi penuh arti.

Setelah berbuka dan melaksanakan salat magrib berjemaah, kegiatan Ramadan belum selesai. Para santri kembali berkumpul untuk salat tarawih, tadarus Al-Qur’an, atau mengikuti pengajian malam. Hari-hari Ramadan di pesantren dipenuhi aktivitas ibadah. Melalui rutinitas itu, para santri belajar menggunakan waktu secara lebih terarah.

Baca: ‘Cocogan’ Ramadan

Dari penantian sederhana menjelang azan magrib, santri memahami bahwa pengalaman kecil sering membawa pelajaran penting. Menunggu waktu berbuka mengajarkan kesabaran, ketenangan, dan rasa syukur kepada Allah.

Di pesantren, Ramadan tidak berhenti pada pelaksanaan puasa. Bulan ini menjadi masa pendidikan yang membentuk sikap hidup santri. Kesabaran dilatih, rasa syukur dipupuk, dan kedekatan kepada Allah Swt terus diperkuat melalui kegiatan sehari-hari.

Artikel ini merupakan karya peserta “Kelas Menulis Ramadan di Pesantren”, program literasi hasil kerja sama Ikhbar.com dan Asrama Putri Al-Nashir Al-Manshur Pondok Pesantren KHAS Kempek Cirebon. Melalui kelas ini, para santri menuliskan kisah dan pengalaman Ramadan mereka di pesantren. Serial “Ramadan di Pesantren” terbit secara berkala sepanjang bulan Ramadan 1447 H/2026 M.

Ikuti dan baca artikel kami lainnya di Google News.