Oleh: Dr. KH Zakky Mubarak, MA (Mustasyar PBNU)
SALAH satu tujuan dari dilaksanakannya ibadah puasa dan ibadah-ibadah lain, diharapkan agar manusia menjadi orang-orang yang bertakwa, baik lahir maupun batin. Ibadah dan muamalah yang kita kerjakan akan melatih diri kita agar meningkatkan ketakwaan, rajin mencari ilmu, dan mampu mengendalikan hawa nafsu.
Perintah yang diarahkan kepada manusia agar melaksanakan ibadah dan amal saleh merupakan suatu kegiatan yang akan mengarahkan umat manusia agar mengikuti petunjuk para nabi dan rasul. Tujuannya mengarah kepada keimanan dan ketakwaan yang paripurna.
Segala perwujudan dari ibadah yang diperintahkan kepada umat akhir zaman merupakan ibadah yang sangat sempurna. Karena semua itu dibimbing dalam syariat nabi akhir zaman. Nabi dan rasul itu kedatangannya menyempurnakan syariat nabi-nabi terdahulu.
Dengan demikian, ibadah yang kita Jalani akan terlihat jelas, realitas, dan relevansinya dalam kehidupan manusia modern. Manfaat dan dampak positifnya terlihat secara nyata dalam kehidupan sosial, ekonomi, politik, peradaban, dan kebudayaan.
Baca: Hak dan Kewajiban Sesama Muslim
Keimanan dan ketakwaan merupakan wujud dari pelaksanaan ibadah dan amal shaleh seseorang. Dengan demikian, setiap orang mukmin akan mengarakahkan ibadahnya untuk meningkatkan iman dan takwa kepada Allah Swt dalam segala aspek kehidupannya.
Takwa merupakan kalimat dan perkataan yang sering diungkapkan, dibahas dan dibicarakan dalam berbagai diskusi, ceramah dan khutbah. Namun demikian, hakikat maknanya belum banyak dipahami secara utuh.
Takwa pengertiannya secara etimologis adalah memelihara diri, takut kepada azab Allah, dan menjaga diri dari perbuatan yang tercela. Pengertiannya menurut terminologis adalah mengerjakan segala perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya dengan penuh keikhlasan dan kesadaran.
Manusia yang bertakwa senantiasa menjalin hubungan yang baik dengan Allah Swt dalam ibadah-ibadah yang mereka lakukan. Dilanjutkan dengan hubungan yang serasi dan seimbang dengan sesamanya dalam berbagai kegiatan sosial, ekonomi, politik, dan peradaban.
Manusia yang bertakwa adalah mereka yang memperoleh keridhaan Allah Swt dalam segala kehidupannya. Dengan demikian, mereka itu akan memperoleh kesuksesan lahir dan batin, baik pada masa kini, maupun pada masa yang akan datang.
Para ulama dan para ahli dalam berbagai disiplin ilmu keislaman, menggambarkan manusia takwa sebagai manusia yang ideal, yaitu seseorang yang teguh dalam keyakinannya, tekun dalam menuntut ilmu, dan senantiasa bersyukur terhadap karunia Allah, baik lahir maupun batin. Ia senantiasa hidup sederhana, meskipun memiliki kekayaan yang melimpah. Ia juga bersikap murah hati, tidak menghina orang lain atau merendahkannya. Apabila ia diberitahu mengenai kekeliruannya, ia segera menyadari hal itu, kemudian memperbaikinya dengan sungguh-sungguh.
Betapa indah dan mulianya manusia yang memiliki sifat-sifat tersebut, ia mengenakan pakaian takwa, pakaian yang menghiasi orang-orang yang beriman. Ia senantiasa menegakkan shalat dengan baik, dengan gerak ragawi dan diikuti oleh gerakan jiwanya yang bersih. Mereka senantiasa melaksanakan ibadah dan amal yang terpuji, sesuai dengan tuntunan Allah dan rasulnya.
Ibadah-ibadah yang dilakukan oleh manusia takwa tidak hanya bersifat lahiriah. Ibadah itu diikuti dengan jiwa rohaniahnya, sehingga orang itu digambarkan sebagai manusia yang senantiasa diliputi dengan ketenangan dalam zikir dan taqarrub.
يٰبَنِيْٓ اٰدَمَ قَدْ اَنْزَلْنَا عَلَيْكُمْ لِبَاسًا يُّوَارِيْ سَوْءٰتِكُمْ وَرِيْشًاۗ وَلِبَاسُ التَّقْوٰى ذٰلِكَ خَيْرٌۗ ذٰلِكَ مِنْ اٰيٰتِ اللّٰهِ لَعَلَّهُمْ يَذَّكَّرُوْنَ
“Wahai anak cucu Adam, sungguh Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutupi auratmu dan bulu (sebagai bahan pakaian untuk menghias diri). (Akan tetapi,) pakaian takwa itulah yang paling baik. Yang demikian itu merupakan sebagian tanda-tanda (kekuasaan) Allah agar mereka selalu ingat.” (QS Al-A’raf: 26).