Oleh: Siti Nurfauziyah
(Santri Pondok Pesantren KHAS Kempek Cirebon asal Brebes, Jawa Tengah)

SEKITAR pukul 03.00 WIB, suasana di Asrama Putri Al-Nashir Al-Manshur, Pondok Pesantren KHAS Kempek Cirebon masih tenang. Sebagian santri terlelap setelah menjalani berbagai aktivitas sepanjang hari, mulai dari mengaji, sekolah, hingga kegiatan padat lainnya. Ketenangan tersebut pecah ketika bel sahur berbunyi nyaring dan menggema di balik dinding asrama.
Suara itu pun perlahan membangunkan para santri. Bunyi tersebut menjadi penanda yang akrab selama bulan Ramadan, seperti alarm bersama yang membangunkan tubuh sekaligus mengingatkan datangnya waktu istimewa di sepertiga malam terakhir.
Baca: Kumandang Azan yang Dirindukan
Setelah bel berhenti, beberapa santri melanjutkan dengan memanggil teman-temannya. Panggilan sahur bersahutan dari kamar ke kamar, mengubah suasana yang semula tenang menjadi ramai. Ada yang segera bangun dan bersiap, ada pula yang masih diliputi kantuk sehingga harus dipanggil berulang kali. Bahkan, tidak jarang ada yang tetap tertidur hingga akhirnya dibangunkan bersama-sama oleh teman sekamar.
Di tengah suasana tersebut, tampak wajah-wajah yang belum sepenuhnya sadar. Mereka berjalan pelan sambil merapikan selimut atau mengambil air wudu. Sebagian tersenyum, sebagian lain menggerutu pelan. Semua bergerak dalam satu kebiasaan yang sama, bersiap menjalani sahur sebagai bagian dari ibadah Ramadan di pesantren.
Ketika beberapa santri telah bangun, petugas piket mengambil makanan dari dapur asrama. Makanan sahur telah disiapkan dengan menu sederhana, tetapi cukup mengenyangkan. Hidangan itu dibawa ke kamar lalu dibagikan kepada teman-teman yang telah berkumpul.
Momen ini menjadi ruang kebersamaan, makan dalam satu nampan, berbagi lauk, dan bercanda untuk mengusir kantuk.
Baca: Antara Kantuk dan Berkah Ngaji Pasaran
Dalam ajaran Islam, sahur memiliki keutamaan tersendiri. Hal ini sebagaimana firman Allah Swt:
وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّىٰ يَتَبَيَّنَ لَكُمُ ٱلْخَيْطُ ٱلْأَبْيَضُ مِنَ ٱلْخَيْطِ ٱلْأَسْوَدِ مِنَ ٱلْفَجْرِ
“Dan makan serta minumlah hingga jelas bagimu (perbedaan) antara benang putih dan benang hitam, yaitu fajar.” (QS. Al-Baqarah: 187)
Ayat tersebut menunjukkan bahwa sahur menjadi bagian penting dalam ibadah puasa. Sahur juga merupakan bentuk mengikuti sunah Rasulullah Muhammad Saw serta sarana meraih keberkahan.
Rasulullah Saw bersabda:
تَسَحَّرُوا فَإِنَّ فِي السُّحُورِ بَرَكَةً
“Bersahurlah kalian, karena sesungguhnya dalam sahur terdapat keberkahan.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Bagi para santri, sahur bukan sekadar rutinitas makan dini hari. Kegiatan ini melatih kedisiplinan dan kebersamaan. Bangun pada waktu yang sama, makan bersama dalam kesederhanaan, serta saling mengingatkan agar tidak melewatkan sahur menjadi bagian dari pembentukan karakter yang tidak selalu diperoleh di ruang kelas. Ramadan di pesantren terasa hidup sejak dini hari.
Baca: Nasihat Sabar dari ‘Ayah’ dan ‘Bunda’
Selepas sahur, suasana tidak langsung kembali tenang. Sebagian santri membaca Al-Qur’an, berzikir, atau duduk menanti waktu Subuh. Ada pula yang beristirahat sejenak untuk mengumpulkan tenaga sebelum memulai aktivitas pagi. Waktu setelah sahur terasa lebih khusyuk dan memberi kesempatan untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt.
Dini hari di pesantren selama Ramadan tidak lagi sepi. Waktu ini berubah menjadi ruang yang penuh makna, tempat tumbuhnya kebersamaan, keikhlasan, dan kesadaran beribadah. Dari bunyi bel hingga kebersamaan dalam satu hidangan, semuanya menjadi pengalaman yang membekas dan membentuk diri. Ramadan di pesantren menghadirkan pelajaran bahwa keindahan ibadah sering lahir dari kebiasaan sederhana yang dijalani dengan sungguh-sungguh.