Oleh: Merry Rahma
(Santri Pondok Pesantren KHAS Kempek Cirebon asal Tegal, Jawa Tengah)

SUASANA sore di pesantren memiliki iramanya sendiri, terutama ketika Ramadan tiba. Waktu menjelang Salat Magrib terasa berjalan lebih lambat dari hari biasa. Di serambi asrama atau ruang pengajian, para santri duduk bersila mengikuti mengaji pasaran bersama kiai, nyai, ustaz, maupun ustazah. Jari-jemari mereka menelusuri baris demi baris kitab gundul, berusaha memahami huruf-huruf Arab yang belum berharakat. Kesungguhan belajar membuat rasa lapar terasa tertunda.
Sesekali terdengar batuk kecil, desiran halaman kitab yang dibalik, atau gumaman santri yang mengulang penjelasan pengajian pasaran. Ramadan di pesantren menjadi latihan menahan lapar dan dahaga sekaligus menjaga ketekunan belajar ketika tubuh mulai lelah. Para santri menyadari bahwa ibadah juga tumbuh dari keseriusan menjalani pekerjaan yang sederhana.
Baca: Menanti Azan, Menemukan Makna Ramadan
Setelah mengaji selesai, halaman pesantren menjadi lebih ramai. Sebagian santri bergegas membeli jajanan di warung kecil sekitar pondok. Sebagian lain kembali ke asrama, duduk melingkar dengan baki di tengah yang sudah berisi berbagai makanan. Ada kurma, gorengan hangat, atau segelas air putih yang tampak sangat menggoda setelah seharian berpuasa.
Tidak ada tangan yang lebih dulu mengambil. Semua menunggu waktu berbuka. Baki di tengah lingkaran menjadi pengingat bahwa kesabaran sedang dipraktikkan bersama. Obrolan ringan mengalir tentang pelajaran siang tadi, kisah lucu di kelas, atau rencana kegiatan setelah tarawih. Tawa kecil terdengar, sementara mata sesekali melirik jam dan telinga menunggu suara beduk.
Menjelang magrib, waktu terasa kian melambat. Ketika beduk akhirnya berdentang dan azan berkumandang, suasana segera berubah. Senyum lega muncul di wajah para santri, disertai seruan kecil yang spontan terdengar. Seteguk air putih terasa sangat nikmat. Rasa syukur sederhana memenuhi suasana kebersamaan.
Di pesantren, berbuka menjadi penanda berakhirnya latihan menahan diri sepanjang hari. Para santri merasakan kegembiraan yang lahir dari hal-hal sederhana. Duduk melingkar bersama teman, menunggu azan dengan sabar, lalu berbagi makanan dengan rasa syukur.
Suasana Ramadan di pesantren tidak berhenti setelah berbuka. Seusai salat magrib dan makan sederhana, para santri kembali bersiap mengikuti Salat Tarawih berjemaah. Malam-malam Ramadan terasa lebih panjang dengan lantunan ayat-ayat Al-Qur’an yang dibaca perlahan oleh imam. Tubuh memang lelah, tetapi hari terasa penuh karena diisi dengan ibadah dan belajar.
Baca: Nasihat Sabar dari ‘Ayah’ dan ‘Bunda’
Hal ini sejalan dengan sebuah hadis qudsi, Allah berfirman:
لِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ: فَرْحَةٌ حِينَ يُفْطِرُ، وَفَرْحَةٌ حِينَ يَلْقَى رَبَّهُ
“Bagi orang yang berpuasa ada dua kegembiraan: kegembiraan ketika berbuka dan kegembiraan ketika bertemu dengan Rabbnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Bagi para santri, kegembiraan pertama terasa nyata setiap hari. Menunggu azan magrib di pesantren juga menyimpan pelajaran berharga. Kesabaran, kebersamaan, dan rasa syukur tumbuh dari kehidupan yang sederhana. Proses menanti menjadi bagian dari ibadah.
Dari pengalaman kecil itu, para santri memahami arti kemenangan yang datang setelah menahan diri.