Berebut Saf Keberkahan

Bulan Ramadan menjadi waktu yang tepat untuk memperdalam ilmu.
Ilustrasi. Olah Digital oleh IKHBAR

Oleh: Izyqiyah Kinanti
(Santri Pondok Pesantren KHAS Kempek Cirebon asal Cirebon, Jawa Barat)

SETIAP hari sepanjang Ramadan, para santri asrama putri Asrama Al-Nashir Al-Manshur, Pondok Pesantren KHAS Kempek Cirebon menjalani rutinitas Ngaji Pasaran tanpa mengenal lelah. Sejak pagi hingga malam, waktu dipenuhi jadwal ibadah dan belajar.

Semangat menimba ilmu agama terasa semakin kuat. Ada dorongan yang membuat para santri menantikan momen ini dengan penuh antusias. Ramadan menghadirkan suasana berbeda, lebih khusyuk dan lebih hidup. Setiap langkah menuju majelis ilmu terasa sarat harapan.

Izyqiyah Kinanti. IKHBAR/FSJ

Dalam QS. Az-Zumar: 9, Allah Swt berfirman:

اَمَّنْ هُوَ قَانِتٌ اٰنَاۤءَ الَّيْلِ سَاجِدًا وَّقَاۤىِٕمًا يَّحْذَرُ الْاٰخِرَةَ وَيَرْجُوْا رَحْمَةَ رَبِّهٖۗ قُلْ هَلْ يَسْتَوِى الَّذِيْنَ يَعْلَمُوْنَ وَالَّذِيْنَ لَا يَعْلَمُوْنَ ۗ اِنَّمَا يَتَذَكَّرُ اُولُوا الْاَلْبَابِ

“(Apakah orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadah pada waktu malam dalam keadaan bersujud, berdiri, takut pada (azab) akhirat, dan mengharapkan rahmat Tuhannya? Katakanlah (Nabi Muhammad), ‘Apakah sama orang-orang yang mengetahui (hak-hak Allah) dengan orang-orang yang tidak mengetahui (hak-hak Allah)?’ Sesungguhnya hanya ululalbab (orang yang berakal sehat) yang dapat menerima pelajaran.” 

Baca: Berburu Posisi Terbaik saat Ngaji Pasaran

Ayat ini menjadi penguat semangat para santri untuk terus hadir dan bersungguh-sungguh dalam majelis ilmu. Tumbuh kesadaran bahwa kelelahan dalam belajar tidak pernah sia-sia.

Bulan Ramadan menjadi waktu yang tepat untuk memperdalam ilmu. Para santri bergegas menuju tempat pengajian dengan tujuan mendapatkan posisi duduk terbaik agar dapat menyimak pemaparan kiai, nyai, ustaz, maupun ustazah dengan jelas. Suasana kerap riuh oleh langkah cepat mereka yang ingin menempati barisan depan.

Usai melaksanakan salat berjemaah, para santri segera bergerak menuju tempat pengajian. Ada yang masih membawa mushaf, ada yang merapikan mukena, bahkan ada yang berlari kecil agar tidak kehabisan tempat. Pemandangan ini menjadi rutinitas khas Ramadan di pesantren yang penuh makna.

Rasulullah Muhammad Saw bersabda:

مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ

“Barang siapa menempuh suatu jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR. Muslim).

Duduk di bagian depan memberi peluang lebih besar untuk mendengar keterangan dari para guru dengan lebih jelas. Di sisi lain, ada dorongan untuk mendekat kepada ilmu dan keberkahannya melalui kesungguhan belajar.

Dalam suasana majelis ilmu seperti ini, keberkahan hadir. Sebagaimana sabda Nabi Saw:

وَمَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِي بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللَّهِ، يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَيَتَدَارَسُونَهُ بَيْنَهُمْ، إِلَّا نَزَلَتْ عَلَيْهِمُ السَّكِينَةُ، وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ، وَحَفَّتْهُمُ الْمَلَائِكَةُ

“Tidaklah suatu kaum berkumpul di rumah Allah untuk membaca dan mempelajari Al-Qur’an, melainkan turun ketenangan, diliputi rahmat, dan dikelilingi para malaikat.” (HR. Muslim).

Fenomena ini menunjukkan besarnya kecintaan para santri terhadap ilmu. Mereka hadir dengan kesungguhan dan berusaha maksimal dalam proses belajar. Hal ini sejalan dengan QS. At-Taubah ayat 122. Allah Swt berfirman:

وَمَا كَانَ الْمُؤْمِنُوْنَ لِيَنْفِرُوْا كَاۤفَّةًۗ فَلَوْلَا نَفَرَ مِنْ كُلِّ فِرْقَةٍ مِّنْهُمْ طَاۤىِٕفَةٌ لِّيَتَفَقَّهُوْا فِى الدِّيْنِ وَلِيُنْذِرُوْا قَوْمَهُمْ اِذَا رَجَعُوْٓا اِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُوْنَ

“Tidak sepatutnya orang-orang mukmin pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa sebagian dari setiap golongan di antara mereka tidak pergi (tinggal bersama Rasulullah) untuk memperdalam pengetahuan agama mereka dan memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali, agar mereka dapat menjaga dirinya?”

Di balik semangat rebutan saf depan, para santri belajar hal penting bahwa keberkahan ilmu tidak ditentukan oleh posisi duduk. Ada yang duduk di belakang, tetapi lebih fokus, lebih rajin mencatat, dan lebih bersungguh-sungguh dalam memahami. Di situlah pelajaran adab, bahwa kedekatan dengan ilmu ditentukan oleh sikap.

Ramadan di pesantren juga melatih ketahanan diri. Mengaji dalam keadaan berpuasa, menahan kantuk setelah sahur, hingga tetap mengikuti pengajian saat tubuh lelah menjadi latihan kesungguhan. Para santri memahami bahwa ilmu harus diperjuangkan dengan kesabaran.

Baca: Nasihat Sabar dari ‘Ayah’ dan ‘Bunda’

Kebersamaan selama Ramadan menghadirkan kehangatan. Saling berbagi tempat duduk, meminjamkan kitab, hingga mengingatkan teman yang mulai mengantuk menjadi bagian yang mempererat ukhuwah. Perjalanan mencari ilmu pun terasa lebih ringan karena dijalani bersama.

Ngaji pasaran menjadi pengalaman yang berkesan, baik dari sisi ilmu maupun prosesnya. Ada lelah yang tetap dijalani, ada kebersamaan yang menguatkan, serta keberkahan yang terasa dalam keseharian.

Menjadi santri menghadirkan banyak kenangan yang akan terus diingat. Terlebih Ramadan di pesantren, bulan ini menjadi madrasah kehidupan. Oleh karena itu, tidak perlu ragu untuk mondok karena banyak pelajaran hidup yang tidak tergantikan.

Artikel ini merupakan karya peserta “Kelas Menulis Ramadan di Pesantren”, program literasi hasil kerja sama Ikhbar.com dan Asrama Putri Al-Nashir Al-Manshur Pondok Pesantren KHAS Kempek Cirebon. Melalui kelas ini, para santri menuliskan kisah dan pengalaman Ramadan mereka di pesantren. Serial “Ramadan di Pesantren” terbit secara berkala sepanjang bulan Ramadan 1447 H/2026 M.

Ikuti dan baca artikel kami lainnya di Google News.