Oleh: Desi Komalasari
(Santri Pondok Pesantren KHAS Kempek Cirebon asal Indramayu, Jawa Barat)

PADA suatu malam di bulan Ramadan, usai Salat Tarawih, bel Asrama Putri Al-Nashir Al-Manshur, Pondok Pesantren KHAS Kempek Cirebon berbunyi nyaring sebagai tanda dimulainya ngaji pasaran. Para santri di lingkungan asrama segera bersiap. Sebagian masih merapikan mukena, sebagian lain langsung bergegas menuju ruang pengajian.
Untuk mendapatkan tempat di dalam ruangan, para santri saling berlomba. Dorong-dorongan kecil kerap terjadi demi memperoleh posisi yang dianggap paling strategis. Dalam momen seperti ini, suasana menjadi riuh, penuh semangat, dan sedikit tegang. Antusiasme mengikuti pengajian Ramadan terlihat jelas, sebuah tradisi yang selalu dinanti setiap tahun.
Santri yang berhasil masuk ke dalam ruangan biasanya merasa lega. Suasana yang lebih sejuk dan kondusif membantu mereka lebih fokus menyimak penjelasan. Posisi yang dekat dengan kiai, nyai, ustaz, atau ustazah juga memudahkan pendengaran.
Baca: Antara Kantuk dan Berkah Ngaji Pasaran
Sebaliknya, santri yang tidak kebagian tempat di dalam ruangan harus duduk di serambi atau halaman. Mereka tetap bertahan dan mengikuti pengajian dengan segala keterbatasan. Hal ini menunjukkan bahwa semangat mencari ilmu tidak sepenuhnya ditentukan oleh posisi, melainkan oleh kesungguhan masing-masing.
Fenomena ini berkaitan dengan pemahaman yang berkembang di kalangan santri, yang terinspirasi dari kajian kitab-kitab hadis tentang keutamaan menghadiri majelis ilmu.
Sejumlah riwayat menjelaskan keutamaan orang yang datang lebih awal dan menempati posisi dekat dengan guru.
Allah Swt. berfirman:
يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ
“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.” (QS. Al-Mujādilah: 11)
Ayat ini menegaskan kemuliaan orang yang menuntut ilmu dan menghadiri majelis ilmu dengan sungguh-sungguh, terlebih pada bulan Ramadan.
Rasulullah Muhamamd Saw juga bersabda:
مَنْ غَدَا إِلَى الْمَسْجِدِ لَا يُرِيدُ إِلَّا أَنْ يَتَعَلَّمَ خَيْرًا أَوْ يُعَلِّمَهُ، كَانَ لَهُ كَأَجْرِ حَاجٍّ تَامًّا حَجَّتُهُ
“Barang siapa pergi ke masjid dengan tujuan untuk mempelajari kebaikan atau mengajarkannya, maka ia mendapatkan pahala seperti orang yang berhaji dengan haji yang sempurna.” (HR. Thabrani)
Dalam hadis lain disebutkan:
مَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِي بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللَّهِ، يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَيَتَدَارَسُونَهُ بَيْنَهُمْ، إِلَّا نَزَلَتْ عَلَيْهِمُ السَّكِينَةُ
“Tidaklah suatu kaum berkumpul di salah satu rumah Allah untuk membaca Kitab-Nya dan mempelajarinya bersama-sama, melainkan turun kepada mereka ketenangan…” (HR. Muslim)
Ramadan di pesantren menghadirkan suasana yang berbeda. Malam terasa lebih hidup oleh lantunan tarawih dan kegiatan pengajian yang berlangsung hingga larut. Rasa lelah setelah seharian berpuasa seolah terbayar ketika duduk di majelis ilmu, meski harus berdesakan atau duduk di lantai tanpa alas.
Baca: Nasihat Sabar dari ‘Ayah’ dan ‘Bunda’
Bagi sebagian santri, momen “berebut tempat” ini bukan sekadar soal posisi fisik. Ada dorongan untuk lebih sigap dan lebih siap mengikuti pengajian. Duduk di barisan depan sering dianggap sebagai tanda kesungguhan dalam menuntut ilmu.
Ramadan juga mengajarkan hal yang lebih penting. Keberkahan ilmu tidak ditentukan oleh dekat atau jauhnya posisi duduk, melainkan oleh keikhlasan dan adab dalam belajar. Banyak santri yang berada di luar ruangan tetap memperoleh pemahaman yang baik karena kesabaran dan ketekunan mereka.
Dengan demikian, semangat para santri dalam “berburu” tempat di dalam ruangan tidak berhenti pada upaya mencari kenyamanan. Hal ini menjadi bagian dari ikhtiar mendekatkan diri kepada ilmu dan meraih keberkahan Ramadan. Dari ruang yang sempit dan penuh sesak, tumbuh harapan besar agar ilmu yang dipelajari dapat diamalkan dalam kehidupan sehari-hari.