Antara Kantuk dan Berkah Ngaji Pasaran

Pemandangan seperti ini sudah lazim dalam pengajian Ramadan di pesantren.
Ilustrasi. Olah Digital oleh IKHBAR

Oleh: Mutiara Agustin
(Santri Pondok Pesantren KHAS Kempek Cirebon asal Subang, Jawa Barat)

Mutiara Agustin. IKHBAR/FSJ

DI suatu malam bulan Ramadan, para santri putri Asrama Al-Nashir Al-Manshur, Pondok Pesantren KHAS Kempek Cirebon menjalani rutinitas “Ngaji Pasaran”. Majelis berlangsung khusyuk, meski tidak sepenuhnya ringan dijalani. Sebagian santri mengikuti pengajian dalam keadaan setengah terjaga. Kantuk datang perlahan. Mata terasa berat, sementara telinga tetap berusaha menangkap penjelasan kiai, nyai, ustaz, maupun ustazah.

Bahkan, di antara mereka ada yang tertidur. Kepala menunduk, mata terpejam, sementara pena masih bergerak di atas kitab kuning, menuliskan makna yang kadang sulit terbaca. Pemandangan seperti ini sudah lazim dalam pengajian Ramadan di pesantren. Rasa kantuk kerap muncul setelah hari panjang dijalani dengan berpuasa.

Baca: Nasihat Sabar dari ‘Ayah’ dan ‘Bunda’

Kondisi tersebut muncul karena beberapa hal. Ada santri yang tidak sempat tidur siang. Ada pula yang makan terlalu banyak saat berbuka sehingga tubuh mudah lunglai. Akibatnya, ketika ngaji pasaran dimulai, konsentrasi menurun dan sebagian penjelasan mungkin bisa terlewat. Karena itu pengurus kerap mengingatkan agar santri menjaga pola istirahat dan tidak berlebihan saat berbuka puasa.

Makanya, di pesantren, tidur siang memang sering dianjurkan selama Ramadan. Tujuannya, demi memberi tenaga agar santri mampu menjalani ibadah malam, termasuk mengikuti pengajian pasaran yang berlangsung cukup lama. Tubuh yang lebih segar diharapkan mampu membantu santri mengikuti pelajaran dengan baik sehingga pemahaman terhadap makna kitab tidak tertinggal.

Faktanya, tidak semua santri mampu menahan kantuk sepenuhnya.

Meskipun begitu, mereka tetap berusaha bertahan di majelis, membuka kitab, dan mengikuti pengajian meskipun mata terasa berat.

Hal tersebut sejalan dengan keutamaan menuntut ilmu dalam Islam. Nabi Muhammad Saw bersabda:

مَا مِنْ غَدْوَةٍ وَلَا خُطْوَةٍ يَخْطُوهَا عَبْدٌ فِي طَلَبِ الْعِلْمِ إِلَّا كَانَتْ لَهُ خَيْرًا

“Tidaklah seorang hamba melangkahkan kaki di waktu pagi ataupun petang untuk menuntut ilmu, kecuali langkah itu menjadi kebaikan baginya.” (HR. Ibnu Majah)

Baca: ‘Cocogan’ Ramadan

Hadis tersebut mengingatkan bahwa setiap langkah menuju majelis ilmu bernilai kebaikan. Walau pemahaman belum sepenuhnya sempurna atau kantuk masih terasa, kehadiran dalam pengajian tetap tercatat sebagai amal.

Bagi para santri, pengalaman mengantuk saat ngaji pasaran merupakan bagian dari proses belajar. Dari situ mereka belajar mengatur waktu, menjaga niat, dan melatih kesungguhan. Ramadan menjadi waktu penting untuk menempa semua itu. Puasa, kesabaran, dan semangat menuntut ilmu bertemu dalam satu rangkaian pengalaman di pesantren.

Yang paling utama bukan jumlah makna kitab yang berhasil dicatat, melainkan kesungguhan dalam menuntut ilmu. Selama niat terjaga dan langkah tetap menuju majelis pengajian, kantuk pada malam Ramadan dapat menjadi bagian dari berkah belajar di pesantren.

Artikel ini merupakan karya peserta “Kelas Menulis Ramadan di Pesantren”, program literasi hasil kerja sama Ikhbar.com dan Asrama Putri Al-Nashir Al-Manshur Pondok Pesantren KHAS Kempek Cirebon. Melalui kelas ini, para santri menuliskan kisah dan pengalaman Ramadan mereka di pesantren. Serial “Ramadan di Pesantren” terbit secara berkala sepanjang bulan Ramadan 1447 H/2026 M.

Ikuti dan baca artikel kami lainnya di Google News.