Trump Klaim AS-Iran Siap Setop Perang

Ilustrasi: Seorang perempuan berjalan di antara reruntuhan dekat Lapangan Risalat setelah serangan Israel dan AS menyebabkan kerusakan parah di Teheran timur, Iran pada 12 Maret 2026. Setidaknya 40 orang dilaporkan tewas dalam serangan tersebut. Foto: Anadolu Agency

Ikhbar.com: Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengatakan bahwa negaranya dan Iran sedang mengarah pada penghentian konflik melalui jalur diplomasi. Ia menyebut adanya sinyal kuat dari Teheran untuk mencapai kesepakatan damai di tengah ketegangan yang masih berlangsung.

Trump mengungkapkan, komunikasi antara Washington dan Teheran terus berjalan. Bahkan, pemerintah AS telah menyiapkan sejumlah poin kesepakatan yang ditujukan untuk mengakhiri perang.

Pernyataan tersebut disampaikan di Gedung Putih, Selasa, 24 Maret 2026. Dalam kesempatan itu, Trump menjelaskan keputusannya menahan rencana serangan terhadap fasilitas energi Iran karena adanya proses negosiasi yang sedang berlangsung. Ia menilai langkah tersebut diambil karena situasi yang berkembang membuka ruang dialog.

“Mereka berbicara dengan kami, dan pembicaraan mereka masuk akal,” kata Trump.

Baca: Trump Mendadak Setop Serang Iran, Amerika Nyerah?

Laporan dari The New York Times menyebutkan bahwa AS telah mengirimkan sekitar 15 poin rencana perdamaian kepada Iran. Dokumen tersebut dilaporkan disalurkan melalui Pakistan, meski belum ada kepastian sejauh mana pihak Iran merespons proposal tersebut.

Dalam laporan yang sama, belum dapat dipastikan apakah Israel akan menyetujui rencana tersebut. Israel diketahui terlibat dalam serangan terhadap Iran bersama AS.

Trump sebelumnya juga menyampaikan bahwa pembahasan antara kedua negara mencakup sejumlah poin penting. Ia menegaskan isu kepemilikan senjata nuklir oleh Iran menjadi prioritas utama dalam negosiasi.

“Mencegah Iran mendapatkan senjata nuklir adalah nomor satu, dua, dan tiga,” ujarnya.

Sejumlah pejabat tinggi AS turut dilibatkan dalam proses ini, di antaranya Wakil Presiden JD Vance dan Menteri Luar Negeri Marco Rubio. Selain itu, utusan khusus Steve Witkoff dan penasihat Jared Kushner juga dilaporkan melakukan komunikasi dengan pihak Iran.

Di tengah perbedaan pernyataan antara Washington dan Teheran, sejumlah negara disebut ikut berperan dalam upaya diplomasi. Shehbaz Sharif menyatakan kesiapan negaranya untuk menjadi fasilitator dialog antara kedua pihak.

Pernyataan itu diunggah melalui platform X dan kemudian dibagikan kembali oleh Trump di akun Truth Social miliknya.

Sementara itu, Sekretaris Pers Gedung Putih Karoline Leavitt menegaskan bahwa pembicaraan tersebut bersifat sensitif dan tidak dilakukan secara terbuka.

“Ini adalah pembahasan diplomatik yang sensitif dan AS tidak akan bernegosiasi melalui media berita,” tuturnya.

Ia juga memastikan operasi militer tetap berjalan di tengah peluang diplomasi. Operasi yang dikenal dengan nama Operation Epic Fury disebut masih berlangsung sesuai arahan pemerintah dan Pentagon.

Dalam pernyataan lanjutan, Trump kembali menegaskan posisi AS dalam konflik tersebut. Ia mengklaim bahwa tujuan utama operasi militer adalah memastikan Iran tidak memiliki senjata nuklir.

“Kami sedang membicarakan hal itu, dan saya tidak ingin mengatakannya terlebih dahulu, tetapi mereka telah setuju bahwa mereka tidak akan pernah memiliki senjata nuklir. Mereka telah menyetujuinya,” katanya.

Di sisi lain, pemerintah AS tetap melanjutkan rencana pengajuan anggaran tambahan kepada Kongres untuk kebutuhan perang. Nilainya diperkirakan mencapai sekitar US$200 miliar atau setara kurang lebih Rp3.200 triliun, yang kini masih dalam proses pembahasan.

Ikuti dan baca artikel kami lainnya di Google News.