Tips Jaga Pola Makan Sehat usai Ramadan

Ilustrasi jaga pola makan. Foto: Freepik

Ikhbar.com: Pakar gizi dari IPB University, Prof. Hardinsyah, menyatakan kebiasaan berpuasa selama Ramadan dapat menjadi dasar untuk membangun pola makan sehat yang berkelanjutan setelah bulan suci berakhir.

Pengalaman menahan makan dan minum selama lebih dari 12 jam dinilai memberikan kesempatan bagi tubuh untuk beradaptasi dengan pengaturan asupan yang lebih terkontrol.

Momentum Ramadan, menurut Prof. Hardinsyah, dapat dimanfaatkan masyarakat untuk menata kembali gaya hidup, terutama dalam hal pengaturan makanan. Kebiasaan tersebut dinilai membantu tubuh belajar mengendalikan asupan energi sekaligus menjaga keseimbangan metabolisme.

Baca: Menanti Azan, Menemukan Makna Ramadan

“Puasa harus dijadikan momentum untuk melakukan detoksifikasi tubuh. Masyarakat dapat menjadikan puasa sebagai patokan pola makan ideal secara spiritual dan gizi,” kata Prof. Hardinsyah dalam keterangan tertulis pada Senin, 16 Maret 2026.

Ia menjelaskan, pengaturan pola makan setelah Ramadan dapat dilakukan dengan konsep yang mendekati pola intermittent fasting. Metode ini menekankan pembatasan asupan berdasarkan jumlah, jenis makanan, serta waktu makan yang lebih terkontrol.

Pola tersebut dinilai mampu membantu menekan penumpukan lemak tubuh sekaligus menurunkan potensi gangguan metabolik, termasuk diabetes. Namun, konsistensi dalam menjalankannya menjadi tantangan tersendiri ketika masyarakat kembali pada aktivitas rutin setelah Ramadan.

“Untuk mempertahankan pola makan ideal ini membutuhkan mindset dan tekad yang kuat. Setelah bulan puasa, ujiannya akan lebih serius untuk mengubah mindset. Biasakan diri dengan intermittent fasting dan mempraktikannya tanpa mengharapkan pahala,” kata dia.

Prof. Hardinsyah menyarankan masyarakat memulai kebiasaan makan sehat dengan sarapan pagi guna membantu mengendalikan kadar kolesterol. Sementara itu, makan siang dapat dikurangi porsinya atau bahkan dilewatkan jika kondisi tubuh memungkinkan.

Kebiasaan lain yang juga perlu dijaga adalah mencukupi kebutuhan air putih setiap hari serta rutin berolahraga pada sore hari untuk menjaga keseimbangan metabolisme tubuh.

Selain pengaturan waktu makan, jenis makanan juga perlu diperhatikan. Konsumsi makanan tinggi lemak, manis, serta produk instan dianjurkan untuk dikendalikan agar tidak menjadi kebiasaan setelah Ramadan.

“Nafsu untuk memakan makanan berlemak dan manis serta makanan instan juga dikurangi. Kebiasaan ini bisa dilatih saat puasa Syawal,” kata dia.

Sebagai pilihan yang lebih sehat, masyarakat dapat memperbanyak konsumsi buah-buahan segar. Buah mengandung serat, vitamin, serta energi yang cukup untuk membantu menahan keinginan mengonsumsi makanan tinggi gula maupun lemak.

Ia juga mengingatkan pentingnya mengatur komposisi makanan dengan menambah porsi protein dibandingkan karbohidrat, disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing individu, termasuk anak-anak dan ibu hamil.

“Kalau berat badan menurun menjadi berat badan normal maka harus dipertahankan. Ketika setelah dua minggu kemudian terasa lingkar pinggang bertambah maka pola makan harus kembali disesuaikan,” kata dia.

Perubahan pola makan setelah Ramadan juga menjadi perhatian kalangan medis. Konsumsi hidangan khas Lebaran yang kaya santan dan lemak dapat memicu gangguan kesehatan jika dikonsumsi secara berlebihan.

Mitra dokter spesialis Halodoc, dr. Waluyo Dwi Cahyono, SpPD-KEMD, FINASIM, mengingatkan masyarakat agar tetap memperhatikan keseimbangan gizi saat menikmati hidangan Idul Fitri bersama keluarga.

Menurut dia, porsi makan yang seimbang menjadi faktor penting untuk menjaga kesehatan pencernaan. Hidangan seperti opor ayam atau rendang masih dapat dinikmati selama diimbangi dengan konsumsi sayuran dan buah yang cukup.

Serat dari sayuran berperan membantu mengendalikan penyerapan lemak di dalam saluran pencernaan sehingga tubuh tidak menerima asupan lemak secara berlebihan.

Selain itu, tubuh juga memerlukan waktu beradaptasi setelah menjalani puasa selama satu bulan penuh.

“Tubuh membutuhkan adaptasi setelah sebulan berpuasa. Awali pagi Idul Fitri dengan asupan yang tidak terlalu iritatif, hindari terlalu pedas atau asam secara mendadak,” ujar dr Waluyo pada Selasa, 10 Maret 2026.

Ia juga mendorong masyarakat untuk lebih kreatif dalam memilih metode memasak makanan. Teknik memanggang atau menumis dengan sedikit minyak berkualitas dapat menjadi pilihan untuk menjaga cita rasa makanan tanpa meningkatkan kandungan lemak jenuh.

Kecukupan cairan dan waktu istirahat juga perlu diperhatikan, terutama di tengah aktivitas silaturahim yang biasanya berlangsung padat selama perayaan Idulfitri.

“Menjaga kesehatan di Hari Raya bukan berarti membatasi kesenangan dan perayaan. Dengan sedikit penyesuaian pada cara kita mengolah dan mengonsumsi makanan, kita bisa menjaga kesehatan pencernaan dan metabolisme tetap stabil, sehingga momen Idulfitri bisa dinikmati secara maksimal bersama keluarga,” ujarnya.

Ikuti dan baca artikel kami lainnya di Google News.