Tips Berburu dan Mengembangkan Ide Menulis ala Pemred Ikhbar.com

Pemred Ikhbar.com, Ustaz Sofhal Adnan saat mengisi pelatihan menulis bersama santri putri Asrama An-Nashir Al-Manshur Pondok Pesantren KHAS Kempek, Cirebon pada Rabiu, 11 Februari 2026. Foto: IST

Ikhbar.com: Pemimpin Redaksi (Pemred) Ikhbar.com, Ustaz Sofhal Adnan menyebut bahwa menulis merupakan bagian dari tradisi ilmu dalam Islam yang menguatkan peradaban pesantren.

Pernyataan tersebut ia sampaikan saat mengisi pelatihan menulis di Asrama Putri An-Nashir Al-Manshur, Pondok Pesantren KHAS Kempek, Cirebon, Rabu, 11 Februari 2026.

“Menulis bagian dari tradisi keislaman. Pesantren kuat karena budaya baca dan tulis. Santri adalah penjaga tradisi pena,” ujarnya di hadapan santri putri.

Ia menjelaskan bahwa landasan teologis tentang pentingnya menulis telah tertanam kuat dalam ajaran Islam. Ustaz Sofhal mengutip QS. Al-‘Alaq: 4, serta QS. Al-Qalam: 1.

Menurutnya, rangkaian ayat tersebut meneguhkan posisi pena sebagai simbol ilmu, sarana transmisi pengetahuan, dan fondasi peradaban yang menjaga warisan keilmuan umat sepanjang zaman.

Baca: Gandeng Ikhbar.com, Santri Putri KHAS Kempek Cirebon Diasah Keterampilan Menulis

“Pena bukan sekadar alat, tetapi simbol penjaga ilmu. Dengan menulis, ilmu terawat dan bisa diwariskan,” katanya.

Dalam pemaparannya, ia mencontohkan para ulama besar yang dikenal melalui karya tulis. Imam Al-Bukhari dengan Shahih Bukhari, Imam Nawawi melalui Riyadhus Shalihin, Imam Al-Ghazali dengan Ihya Ulumuddin, serta KH Hasyim Asy’ari melalui Adabul ‘Alim wal Muta’allim.

Ustaz Sofhal menegaskan bahwa karya tulis membuat gagasan dan pemikiran ulama tetap hidup lintas generasi.

“Ulama dikenal karena karya tulisnya. Tulisan menjadikan ilmu itu abadi,” tuturnya.

Ustaz Sofhal juga mengarahkan santri untuk menggali ide dari lingkungan pesantren. Ia menyebut sosok kiai, bu nyai, ustaz, serta aktivitas seperti pengajian kitab, bahtsul masail, ro’an, dan haflah akhirussanah sebagai sumber tulisan yang kaya nilai.

“Semua hal positif di pesantren layak ditulis. Jangan merasa kekurangan ide,” ujarnya.

Ia memaparkan langkah teknis menulis, mulai dari menentukan topik, mengumpulkan bahan, menyusun kerangka, hingga menulis draf awal. Kerangka tulisan dinilai penting agar gagasan tersusun runtut dan tidak melebar. Selain itu, ia menyarankan setiap paragraf memuat satu ide utama dengan bahasa yang sederhana.

“Kerangka menjaga tulisan tetap fokus. Tulis dulu, perbaiki kemudian,” katanya.

Pada bagian akhir, Ustaz Sofhal mengingatkan pentingnya revisi dan etika dalam menulis. Santri perlu memeriksa alur, ejaan, dan tanda baca, serta memastikan tulisan berbasis fakta. Ia juga mengingatkan agar tulisan tetap menjaga adab kepada guru dan tidak berlebihan dalam menggambarkan sesuatu.

“Ilmu yang bermanfaat adalah amal jariyah. Tulisan yang menginspirasi akan terus dibaca meski penulisnya sudah tiada,” ujarnya.

Ikuti dan baca artikel kami lainnya di Google News.