Ikhbar.com: Banyak komunitas anak muda lahir dengan semangat besar, tetapi berhenti di tengah jalan. Setelah ditelusuri, sumber persoalan tersebut bukan kekurangan ide, melainkan kesalahan dalam mengelola kebiasaan dan relasi antaranggota.
Konsultan sekaligus pengamat isu kepemudaan, Wildanshah, membagikan tiga prinsip agar komunitas, perkumpulan, atau organisasi yang digawangi anak muda dapat bertahan dan tetap produktif.
“Pertama, ubah nongkrong konsumtif menjadi produktif. Nongkrong itu enggak salah. Yang salah kalau isinya cuma menghabiskan uang,” ujar Wildan, sapaan akrabnya, dalam program Sinikhbar | Siniar Ikhbar bertajuk “Anak Muda dan Santri di Era AI” di Ikhbar TV, dikutip pada Senin, 2 Februari 2026.
Baca: Tantangan dan Peluang Santri di Era AI
Inisiator Perkumpulan WargaMuda tersebut mendorong komunitas memanfaatkan pertemuan sebagai ruang menghasilkan gagasan, karya, maupun usaha bersama.
“Kedua, kelola kebutuhan pengakuan anggota,” lanjutnya.
Menurut Wildan, Generasi Z memiliki kebutuhan tinggi terhadap apresiasi. Dokumentasi kegiatan dipandang sebagai bentuk penghargaan atas keterlibatan anggota, bukan sekadar ajang pamer.
“Yang paling penting itu mengelola rasa ingin diakui,” katanya.
Ketiga, lanjut Dewan Pakar Indonesian Consortium for Cooperatives Innovation (ICCI) itu, komunitas perlu membedakan hal yang dapat dilakukan secara instan dengan proses yang membutuhkan waktu.

Baca: Yang Berubah dari Wajah Keislaman Anak Muda
Wildan menilai budaya instan tidak selalu membawa dampak negatif. Pada urusan teknis, pendekatan cepat dinilai efisien. Namun, untuk nilai, visi, serta arah gerakan, komunitas perlu membangun proses yang matang.
“Instan untuk teknis, tapi soal nilai jangan instan,” tegasnya.
Menurut Wildan, banyak komunitas gagal bukan karena kehilangan semangat, melainkan karena tidak memiliki arah yang jelas.
“Tanpa pengelolaan yang sadar, komunitas hanya akan jalan di tempat—atau pelan-pelan bubar,” pungkasnya.