Ikhbar.com: Menolak makanan saat bersilaturahmi di hari Lebaran kerap menjadi dilema. Di satu sisi, menjaga kesehatan penting. Di sisi lain, ada norma sosial yang mendorong tamu untuk menghargai suguhan tuan rumah.
Situasi ini sering membuat seseorang makan berlebihan demi menjaga perasaan. Padahal, ada cara tetap sopan tanpa harus mengorbankan kesehatan.
Ahli gizi, Ustazah Yuswati, S.KM., M.Kes., menyebut menghargai tuan rumah tidak selalu berarti menghabiskan semua makanan yang disajikan.
“Dalam budaya kita, menerima makanan dari tuan rumah adalah bentuk penghargaan, tetapi menghargai tidak selalu berarti harus menghabiskan semuanya,” ujar Ustazah Yuswati kepada Ikhbar.com, Jumat, 20 Maret 2026.
Baca: Hati-hati! Tubuh Bisa ‘Kaget’ saat Transisi Puasa ke Lebaran
Menurutnya, langkah paling sederhana adalah mengambil porsi kecil. Cara ini menunjukkan tamu tetap menerima suguhan tanpa harus makan berlebihan. Selain itu, tamu bisa memilih satu atau dua jenis makanan yang benar-benar ingin dinikmati.
Pendekatan ini dinilai lebih realistis dibanding mencoba semua hidangan yang tersedia. Apalagi, meja Lebaran biasanya dipenuhi berbagai menu dengan kandungan gula, lemak, dan karbohidrat tinggi.
“Tidak semua makanan yang tersedia kita ambil, kita makan,” kata Wakil Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKes) KHAS Kempek Cirebon tersebut.
Selain mengatur pilihan, cara makan juga berpengaruh. Menikmati makanan secara perlahan sambil berbincang dapat membantu mengalihkan perhatian dari aktivitas makan. Dalam banyak situasi, percakapan menjadi inti silaturahmi.
Baca: Ingin Lebaran Lebih Sehat? Ini Rekomendasi Menu dari Ahli Gizi Ustazah Yuswati
Dengan cara ini, interaksi sosial tetap terjaga tanpa membebani tubuh dengan asupan berlebih. Konsumsi gula tinggi dalam waktu singkat dapat memicu lonjakan gula darah dan membuat tubuh cepat lelah.
Minuman manis seperti sirup juga sering luput dari perhatian. Konsumsi berulang dalam sehari dapat membuat kadar gula darah terus meningkat. Jika berlangsung terus-menerus, kebiasaan ini berpotensi memicu gangguan metabolik.
Karena itu, pengaturan pola konsumsi selama berkunjung menjadi penting. Membatasi frekuensi makan serta memilih minuman yang lebih sehat seperti air putih dapat menjadi langkah sederhana yang efektif.
Di sisi lain, tuan rumah juga memiliki peran dalam menyediakan pilihan yang lebih sehat. Buah atau minuman tanpa tambahan gula dapat menjadi alternatif yang tetap menarik bagi tamu.
Baca: Masak Lebih Awal untuk Lebaran? Ini Tips Aman Menyimpannya
Pendekatan ini tetap menjaga suasana khas Lebaran sekaligus memberi pilihan yang lebih ramah bagi kesehatan. Dengan begitu, tamu dapat menikmati kunjungan tanpa rasa khawatir.
Ustazah Yuswati menegaskan, menjaga keseimbangan menjadi kunci dalam menghadapi situasi seperti ini. Tidak ada larangan mutlak terhadap makanan tertentu selama porsinya terkendali.
“Dengan cara ini, kita tetap menghargai tuan rumah tanpa memberi beban berlebihan pada tubuh,” ujarnya.