Ikhbar.com: Media pesantren dinilai memiliki potensi besar di ruang digital. Namun, media ini masih menghadapi tantangan serius dalam menghadirkan jurnalisme yang relevan dengan konteks sosial dan isu kebangsaan hari ini. Tantangan tersebut bukan terletak pada ketersediaan konten, melainkan pada cara media pesantren membaca dan mengolah realitas.
Hal itu disampaikan pemerhati media sekaligus CEO PT Aneka Media Raya (BUMA GP Ansor), Coki Lubis, dalam program Sinikhbar | Siniar Ikhbar bertajuk “BUMA & Media, Arah Baru Gerakan Ansor dan Pesantren” di Ikhbar TV.
Menurut Coki, keterlibatan pesantren dalam dunia media digital tidak dapat disebut terlambat. Prinsip dasar jurnalistik tetap sama, sementara perubahan terjadi pada cara penyajian agar selaras dengan kebiasaan konsumsi publik saat ini.
“Kontennya itu berita saja, dari dulu sampai sekarang. Yang penting kemasannya,” ujarnya, dikutip Selasa, 20 Januari 2026.

Baca: Membangun Kelas Menengah Baru: Menilik Strategi Kemandirian Ekonomi GP Ansor dan Pesantren
Namun, Coki menilai persoalan utama media pesantren bukan pada aspek teknis produksi, melainkan pada pendekatan editorial. Jurnalis yang telah berpengalaman lebih dari dua dekade itu menyebut masih banyak media pesantren terjebak pada pola pemberitaan internal dan belum optimal mengaitkan isu nasional dengan sudut pandang pesantren.
“Padahal, isu nasional merupakan ruang penting untuk diolah dengan sudut pandang khas pesantren,” kata Coki.
Dalam pandangannya, jurnalisme kontekstual berarti kemampuan media mengaitkan peristiwa aktual dengan latar sosial, sejarah, nilai, serta pengalaman pesantren. Isu politik, ekonomi, hukum, hingga kebijakan publik tidak cukup disajikan sebagai rangkaian fakta, tetapi perlu diterjemahkan melalui perspektif yang hidup di lingkungan pesantren. Dengan pendekatan ini, pesantren hadir sebagai pihak yang memberi makna, bukan sekadar objek pemberitaan.
Secara praktis, jurnalisme kontekstual dapat diwujudkan dengan menempatkan pengalaman santri, tradisi keilmuan pesantren, serta rekam jejak sejarah Islam sebagai bingkai analisis. Misalnya, saat membahas isu intoleransi, media pesantren dapat menghadirkan narasi berbasis praktik keseharian pesantren yang plural dan moderat. Dalam isu ekonomi, pengalaman kemandirian pesantren dapat menjadi sudut pandang alternatif yang jarang muncul di media arus utama.
Coki menekankan bahwa pendekatan tersebut menuntut media pesantren keluar dari asumsi lama yang menganggap audiensnya terbatas pada santri atau warga pondok. Di ruang digital, pembacanya jauh lebih beragam. Karena itu, bahasa yang digunakan perlu egaliter dan komunikatif.
“Tantangannya adalah menerjemahkan pengalaman pesantren ke bahasa publik tanpa kehilangan makna,” ungkap Coki.
Baca: BUMA Jadi Agregator Usaha Kader, Ini Model Bisnis yang Sedang Dikembangkan GP Ansor
Menurut Coki, jurnalisme kontekstual juga berperan penting dalam menjaga relevansi media pesantren di tengah banjir informasi. Media yang mampu memberi konteks cenderung lebih dipercaya karena membantu pembaca memahami persoalan secara utuh. Kepercayaan publik tersebut menjadi fondasi bagi keberlanjutan media.
Dari sisi ekonomi, relevansi dan kepercayaan publik berkaitan langsung dengan peluang bisnis media. Media pesantren yang konsisten, kontekstual, dan kredibel berpeluang membangun audiens yang loyal. Basis audiens ini menjadi modal utama dalam pengembangan industri media pesantren, baik melalui iklan, kolaborasi konten, maupun pengembangan unit usaha kreatif lainnya.
Dalam konteks kemandirian pesantren, Coki memandang industri media sebagai salah satu jalur strategis. Media yang dikelola secara profesional berfungsi sebagai sarana dakwah dan informasi, sekaligus entitas ekonomi yang dapat menopang operasional pesantren. Peluang tersebut terbuka jika media pesantren mampu bersaing dari sisi kualitas, termasuk kedalaman konteks pemberitaan.
Menurutnya, peran media pesantren ke depan tidak cukup berhenti pada promosi lembaga. Media perlu hadir sebagai ruang klarifikasi, penyaji sudut pandang alternatif, dan penyeimbang wacana publik, terutama ketika pesantren kerap disorot secara negatif.
“Sebagai penyaji keberimbangan bagi publik, terutama di tengah banyaknya tudingan miring terhadap pesantren saat ini,” pungkas Coki.