Survei: Gen Z kian Sulit Dapat Kerja

Ilustrasi Gen Z kerja. Foto: Freepik

Ikhbar.com: Kantor Statistik Nasional Inggris melaporkan bahwa kesulitan mendapatkan pekerjaan pertama kini menjadi persoalan serius yang dihadapi Generasi Z (Gen Z).

Kondisi pasar kerja yang semakin ketat membuat kelompok usia muda menghadapi hambatan berlapis, mulai dari minimnya lowongan hingga tuntutan kompetensi yang kian tinggi.

Laporan Office for National Statistics (ONS) mencatat peningkatan pengangguran di kalangan Gen Z. Lebih dari satu juta pemuda Inggris berusia 16–24 tahun tercatat berada dalam kategori tidak bersekolah, tidak bekerja, dan tidak mengikuti pelatihan hingga periode September 2025.

Tekanan di pasar kerja dinilai semakin berat akibat perkembangan kecerdasan buatan yang menggerus posisi tingkat pemula, bersamaan dengan melonjaknya persaingan antarpelamar. Data menunjukkan, pada tahun lalu terdapat lebih dari 1,2 juta lamaran yang masuk untuk hanya sekitar 17.000 posisi lulusan di Inggris.

Baca: Waktu Kumpul Keluarga Terancam Punah Gegara Gen Z Sibuk Main Medsos

Situasi tersebut diperparah dengan menurunnya jumlah lowongan kerja. ONS mencatat, lowongan pekerjaan menyusut hampir 10 persen dibandingkan tahun sebelumnya menjadi 729.000 pada periode September hingga November.

Rasio persaingan juga meningkat, dengan sekitar 2,5 orang pengangguran memperebutkan satu lowongan antara Agustus dan Oktober, naik dari 1,8 pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Di sisi lain, hampir 600.000 pemuda yang menganggur dilaporkan tidak aktif mencari pekerjaan. Sejumlah pemberi kerja dan pengamat menilai, persoalan kesiapan kerja turut memengaruhi kondisi ini, bukan semata faktor ekonomi.

Anggota Parlemen Inggris, Milburn, menyebut banyak pemberi kerja menemukan bahwa lulusan muda belum sepenuhnya siap memasuki dunia kerja penuh waktu.

“Kaum muda tidak selalu memiliki pengalaman kerja, dan apa yang mereka pelajari di sekolah belum tentu relevan dengan dunia kerja,” ujarnya.

Meski demikian, Milburn menegaskan bahwa generasi muda tidak bisa sepenuhnya disalahkan. Ia menyoroti berkurangnya peluang kerja paruh waktu bagi remaja.

“Terjadi penurunan yang sudah berlangsung lama dalam jumlah remaja berusia 16 dan 17 tahun yang mendapatkan pekerjaan paruh waktu di hari Sabtu,” katanya.

Pandemi Covid-19 juga dinilai meninggalkan dampak jangka panjang. Lembaga amal ketenagakerjaan Shaw Trust menilai pembelajaran daring dan kebijakan tinggal di rumah selama lockdown tahun 2020 menciptakan kesenjangan sosialisasi, terutama pada kelompok usia 20–24 tahun.

Kepala Bagian Dampak Shaw Trust, Julie Leonard, menjelaskan bahwa banyak anak muda kehilangan kesempatan penting untuk memperoleh pendidikan tatap muka, pengalaman kerja, serta keterampilan interpersonal.

“Sekarang mereka mendapati diri mereka dewasa dan berada di pasar kerja yang sangat sulit, serta dalam lanskap perekrutan yang telah berubah sepenuhnya selama bertahun-tahun,” ujarnya.

Akibat kondisi tersebut, Gen Z dinilai tertinggal dalam penguasaan keterampilan lunak, seperti kepemimpinan, kolaborasi tim, dan kemampuan mengikuti arahan, yang selama ini menjadi fondasi utama kesiapan memasuki dunia kerja.

Ikuti dan baca artikel kami lainnya di Google News.