Ikhbar.com: Ledakan masih terdengar hingga hari ke-28 di Iran, Israel, dan sejumlah negara Timur Tengah sejak Amerika Serikat (AS) dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada 28 Februari 2026. Eskalasi konflik terus meluas setelah serangan Israel ke ladang gas South Pars di Iran memicu balasan dari Teheran, termasuk serangan ke fasilitas energi di Arab Saudi, Qatar, Kuwait, dan Uni Emirat Arab. Dampaknya, harga minyak dan gas global dilaporkan melonjak.
Iran merespons serangan tersebut dengan meluncurkan gelombang rudal dan drone ke Israel serta pangkalan militer AS di kawasan. Sebelumnya, Teheran telah memperingatkan akan menargetkan fasilitas militer AS di wilayah itu jika diserang.
Sejak akhir Februari, pasukan AS dan Israel menyerang berbagai target di Iran, termasuk fasilitas nuklir, militer, dan sipil. Sebagai balasan, Iran mengklaim telah melancarkan serangan ke sembilan negara di kawasan, yakni Bahrain, Irak, Yordania, Kuwait, Oman, Qatar, Arab Saudi, Uni Emirat Arab, serta wilayah Israel.
Baca: Kisah dari Timur Tengah: Lebaran Mencekam di Tengah Perang
“Sebuah drone Iran juga dilaporkan menghantam landasan pacu pangkalan militer Inggris di Siprus. Meski demikian, sebagian besar serangan berhasil dicegat oleh sistem pertahanan masing-masing negara,” dikutip dari laporan Al-Jazeera, Ahad, 29 Maret 2026.
Data terbaru hingga Kamis pukul 10.30 GMT menunjukkan jumlah korban terus bertambah dan berpotensi berubah seiring perkembangan situasi.
Di Iran, Kementerian Kesehatan mencatat sedikitnya 1.937 orang tewas dan lebih dari 24.800 lainnya luka-luka akibat serangan AS-Israel. Korban tewas mencakup usia delapan bulan hingga 88 tahun, termasuk 240 perempuan dan 212 anak-anak. Dari total korban luka, sekitar 4.000 perempuan dan 1.621 anak-anak turut terdampak.
Di Israel, sedikitnya 19 orang tewas dan lebih dari 5.492 terluka akibat serangan Iran. Kementerian Kesehatan Israel mengimbau warga menuju tempat perlindungan secara hati-hati setelah sejumlah warga terluka saat berlari ke bunker. Sekitar 180 orang terluka dalam serangan rudal Iran di Dimona dan Arad, wilayah dekat fasilitas nuklir utama Israel.
Baca: Israel Sibuk Tutupi Berita Dampak Kerusakan Serangan Iran
Televisi pemerintah Iran menyebut serangan tersebut sebagai “respons” atas serangan terhadap fasilitas pengayaan nuklir Natanz, yang menandai fase baru saling balas dalam konflik.
Militer AS mengonfirmasi 13 tentaranya tewas akibat serangan Iran di berbagai lokasi. Selain itu, satu personel meninggal akibat insiden kesehatan di Kuwait. Pada 13 Maret 2026, enam awak pesawat pengisian bahan bakar AS tewas dalam kecelakaan di Irak barat.
Di Bahrain, tiga orang tewas akibat serangan, termasuk seorang pekerja asal Asia dan seorang perempuan berusia 29 tahun. Di Irak, sedikitnya 96 orang tewas, sebagian besar anggota kelompok paramiliter Popular Mobilisation Forces.
Lebanon mencatat jumlah korban tewas tertinggi kedua setelah Iran, dengan 1.116 orang meninggal dan 3.229 luka-luka, termasuk sedikitnya 121 anak-anak. Lebih dari satu juta orang dilaporkan mengungsi akibat konflik.
Di Oman, tiga orang tewas dan 15 terluka. Kuwait mencatat enam orang tewas dan puluhan lainnya terluka. Qatar melaporkan 16 orang luka tanpa korban jiwa, sedangkan Arab Saudi mencatat dua orang meninggal dan 20 luka-luka.
Uni Emirat Arab melaporkan 11 orang tewas dan 169 luka-luka, termasuk warga negara asing dari Pakistan, Nepal, Palestina, India, dan Bangladesh.
“Secara keseluruhan, jumlah korban tewas akibat eskalasi konflik di kawasan mencapai 3.206 orang, dengan Iran dan Lebanon menjadi penyumbang terbesar, disusul Irak dan Israel, sementara korban di negara lain serta di pihak militer Amerika Serikat tercatat dalam jumlah lebih kecil,” tulis laporan tersebut.
Baca: Tentara AS Ramai-ramai Tolak Ditugaskan ke Iran
AS telah lama memiliki kehadiran militer di Timur Tengah. Berdasarkan data Council on Foreign Relations, negara itu mengoperasikan jaringan pangkalan militer di setidaknya 19 lokasi, termasuk delapan pangkalan permanen di Bahrain, Mesir, Irak, Yordania, Kuwait, Qatar, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab.
Pada pertengahan 2025, jumlah pasukan AS di kawasan diperkirakan mencapai 40.000 hingga 50.000 personel. Konsentrasi terbesar berada di Qatar, Bahrain, Kuwait, Uni Emirat Arab, dan Arab Saudi.
Pangkalan-pangkalan tersebut menjadi pusat penting untuk operasi udara dan laut, logistik regional, pengumpulan intelijen, serta proyeksi kekuatan militer AS di kawasan.