Ikhbar.com: Hilirisasi perikanan menjadi fokus Anggota Komisi IV DPR RI, Prof. Dr. Ir. H. Rokhmin Dahuri, dalam mendorong percepatan ekonomi daerah pesisir. Tanpa industrialisasi dan peningkatan nilai tambah, menurutnya, daerah penghasil ikan akan terus terjebak fluktuasi harga bahan mentah dengan marjin keuntungan yang tipis.
Dalam Seminar Pembangunan Agromaritim Aceh Jaya, pakar kelautan dan perikanan tersebut memaparkan kapasitas produksi nasional ikan segar mencapai 8.028.800 ton, ikan beku 1.541.729 ton, serta ikan kaleng 415.000 ton. Angka itu menunjukkan basis produksi yang kuat, namun belum sepenuhnya diimbangi pengembangan industri hilir yang memadai.
Prof. Rokhmin menjelaskan, satu komoditas ikan dapat diolah menjadi berbagai produk bernilai tambah, seperti tepung ikan, minyak ikan, gelatin, hingga bahan baku kosmetik dan farmasi. Limbah kulit serta cangkang pun dapat diproses menjadi khitin dan khitosan melalui konsep pengolahan tanpa limbah.
“Industri bioteknologi kelautan merupakan pasar yang sangat besar, sekitar empat kali lipat dibandingkan pasar industri semikonduktor atau teknologi informasi saat ini,” ujar Prof. Rokhmin, Rabu, 11 Februari 2026,
Baca: Prof. Rokhmin: Model Agro-maritim Aceh Jaya Bisa Jadi Blueprint Pembangunan Pesisir Nasional
Menurut Menteri Kelautan dan Perikanan RI periode 2001–2004 itu, hilirisasi perlu dibangun dengan jaminan kontinuitas pasokan bahan baku. Pemerintah daerah (Pemda) harus memastikan setiap unit pengolahan menjalin kemitraan kuat dengan nelayan serta pembudidaya agar rantai pasok tetap stabil dan efisien.
Saat ini nilai ekspor perikanan Indonesia sekitar 12,5 miliar dolar AS, dengan pasar utama Amerika Serikat (AS), Tiongkok, Jepang, dan Uni Eropa. Penguatan industri pengolahan di daerah akan menjaga nilai tambah tetap berada di dalam negeri sekaligus meningkatkan pendapatan masyarakat setempat.
Baca: Jadi Kunci Indonesia Emas 2045, Ini Definisi ‘Karbon Biru’ menurut Prof. Rokhmin Dahuri
Ia menegaskan pembangunan pelabuhan perikanan modern, kawasan industri terpadu, serta sistem distribusi berpendingin merupakan bagian penting dari strategi tersebut.
“Penjaminan kontinuitas pasokan bahan baku,” tegas Prof. Rokhmin.