Prof. Rokhmin: Tunda Rencana Ekspor Beras Indonesia!

Pekerja menata stok beras di gudang penyimpanan Bulog Cabang Batam, Kepulauan Riau, Senin (2/3/2026). ANTARA FOTO/Teguh Prihatna

Ikhbar.com: Rencana ekspor beras Indonesia menuai sorotan di tengah situasi global yang belum sepenuhnya stabil. Anggota Komisi IV DPR RI, Prof. Dr. Ir. H. Rokhmin Dahuri mengingatkan pemerintah agar tidak terburu-buru mengeksekusi kebijakan tersebut sebelum ketahanan pangan dalam negeri benar-benar terjamin.

Peringatan itu disampaikan dalam program Indonesia Bicara bertajuk “Menilik Pasokan Energi dan Pangan Indonesia di Tengah Gejolak Perang” di TVRI, Kamis, 5 Maret 2026. Menurut Prof. Rokhmin, rencana ekspor beras sebesar 4.500 ton sebaiknya ditunda karena Indonesia masih menghadapi sejumlah tantangan yang berpotensi memengaruhi pasokan pangan nasional.

“Jangan jumawa dulu untuk rencana ekspor beras sebesar 4.500 ton itu sebaiknya ditunda dulu,” kata Prof. Rokhmin.

Tangkapan layar saat Prof. Rokhmin Dahuri menjadi narasumber dalam program Indonesia Bicara bertajuk “Menilik Pasokan Energi dan Pangan Indonesia di Tengah Gejolak Perang” di TVRI, Kamis, 5 Maret 2026. Dok IKHBAR

Baca: Live di TVRI, Prof. Rokhmin Ungkap Tiga Tantangan Pangan Indonesia: Dari Perang hingga Cuaca

Ia menjelaskan bahwa ketahanan pangan tidak hanya ditentukan oleh angka produksi saat ini. Berbagai faktor eksternal juga berpengaruh terhadap ketersediaan pangan dalam waktu dekat.

Salah satu faktor yang perlu diperhatikan adalah perang yang masih berlangsung di sejumlah kawasan dunia. Konflik tersebut berdampak pada perdagangan pangan global, terutama bagi negara yang masih mengandalkan impor beberapa komoditas.

Selain itu, perubahan iklim juga menjadi ancaman serius. Musim kemarau yang lebih panjang akibat fenomena El Nino berpotensi menekan produksi pangan di dalam negeri.

Menurut Prof. Rokhmin, dua faktor tersebut dapat memberikan tekanan ganda terhadap ketahanan pangan nasional jika tidak diantisipasi dengan baik.

“Karena double impact (dampak ganda) dari perang dan global climate change (perubahan iklim global) itu jangan dianggap remeh,” ujarnya.

Ia juga mengingatkan agar kebijakan pangan tidak didorong oleh kepentingan pencitraan politik. Keputusan terkait ekspor pangan harus didasarkan pada perhitungan matang demi menjaga stabilitas pasokan dalam negeri.

“Kita enggak perlu lah politik pencitraan, seolah-olah gagah, sudah bisa ekspor, sedangkan di dalam negeri, semuanya harus serba dipertimbangkan secara penuh kehati-hatian,” tegasnya.

Baca: Selat Hormuz Ditutup, Ini Dampak dan Strategi Penting bagi Indonesia menurut Prof. Rokhmin

Menurut Prof. Rokhmin, pemerintah sebaiknya memprioritaskan penguatan cadangan pangan nasional. Stok beras yang saat ini tersimpan di gudang Bulog sekitar 3,7 juta ton perlu dimanfaatkan untuk menjaga stabilitas pasokan dan harga bagi masyarakat.

Ia menilai cadangan tersebut sangat penting, terutama menjelang Ramadan dan Idulfitri ketika kebutuhan pangan masyarakat biasanya meningkat tajam.

“Saya merekomendasi dengan sangat kuat, bahwa lebih baik kita jangan ekspor beras dulu,” kata Prof. Rokhmin.

Menurut dia, situasi global saat ini masih diliputi ketidakpastian. Jika cadangan pangan nasional tidak dijaga dengan baik, potensi kekurangan pangan dapat memicu persoalan sosial yang lebih luas.

“Karena kalau kita kekurangan pangan itu bisa bergeser ke politik,” ujarnya.

Ia juga mengingatkan pengalaman sejumlah negara pada masa krisis pangan global sebelumnya. Ketika pasokan pangan terganggu, dampaknya dapat memicu instabilitas politik.

“Pada 2008, banyak sekali presiden tumbang di Argentina hingga Pakistan, karena persoalan kekurangan pangan,” kata Prof. Rokhmin.

Karena itu, ia kembali menegaskan pentingnya kehati-hatian dalam mengambil kebijakan ekspor pangan di tengah situasi global yang belum stabil.

“Tunda dulu ekspor pangan kita. Saya terus terang dengan keamanan pangan di dalam negeri,” pungkasnya.

Ikuti dan baca artikel kami lainnya di Google News.