Prof. Rokhmin Salurkan Bantuan Bioflok, Pembudidaya Ikan Siap Naik Kelas

Pakar perikanan dan kelautan, Prof. Dr. Ir. H. Rokhmin Dahuri saat memberikan bantuan bioflok di Indramayu. Foto: IST

Ikhbar.com: Pakar perikanan dan kelautan, Prof. Dr. Ir. H. Rokhmin Dahuri menegaskan komitmennya dalam mendorong peningkatan kapasitas usaha pembudidaya ikan melalui penyaluran bantuan budidaya sistem bioflok di Desa Kenanga, Kecamatan Sindang, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat.

Program ini diarahkan untuk memperkuat produktivitas perikanan rakyat sekaligus meningkatkan kesejahteraan pembudidaya secara berkelanjutan.

Program bioflok tersebut menjadi langkah konkret pemerintah dalam menghadirkan pola budidaya ikan yang lebih modern dan efisien di tingkat desa. Melalui pendekatan berbasis kelompok, para pembudidaya didorong untuk bekerja lebih terorganisasi dengan pendampingan teknis dari penyuluh perikanan setempat.

Sebanyak delapan kolam bioflok saat ini dikelola oleh 10 orang pembudidaya ikan Desa Kenanga. Seluruh fasilitas tersebut dipersiapkan untuk mendukung satu siklus produksi penuh, dengan target panen perdana pada Februari mendatang. Sebagai bagian dari pengawasan dan evaluasi program, juga dijadwalkan kunjungan lapangan pada Sabtu, 11 Januari 2026.

Nilai bantuan yang disalurkan mencapai Rp200 juta. Anggaran tersebut digunakan untuk pembangunan atap kolam, pembuatan sarana bioflok, serta pengadaan pakan ikan selama satu periode budidaya. Bantuan ini diharapkan menjadi fondasi awal pengembangan usaha perikanan yang berorientasi jangka panjang.

Baca: 5 Indikator Ketahanan Pangan menurut Prof. Rokhmin

“Alhamdulillah, sebagai bentuk terima kasih kepada pemilih saya saat berjuang di DPR RI tahun lalu untuk Indramayu, Cirebon, dan Kabupaten Cirebon, saya berusaha membawa bantuan baik dari Kementerian Pertanian maupun Kementerian Kelautan dan Perikanan. Salah satunya adalah program bioflok ini senilai Rp200 juta,” ujar Anggota Komisi IV DPR RI itu dalam keterangannya, Ahad, 4 Januari 2026.

Sistem bioflok memungkinkan pembudidaya memanfaatkan peran bakteri baik yang mengolah sisa pakan menjadi sumber nutrisi alami bagi ikan. Pola ini dinilai mampu menekan biaya produksi, lebih ramah lingkungan, serta meningkatkan efisiensi pemeliharaan dibandingkan metode konvensional.

Dari perhitungan awal, setiap anggota kelompok diproyeksikan memperoleh pendapatan bersih sekitar Rp2,5 juta setelah panen perdana. Meski demikian, sebagian keuntungan tersebut diarahkan untuk ditabung sebagai modal pengembangan usaha berikutnya.

“Saya berpesan agar Rp2,5 juta itu dibagi, tetapi Rp500 ribu disimpan untuk menambah jumlah kolam. Dengan begitu, tahun depan bukan hanya Rp2,5 juta, melainkan bisa Rp4 juta dan seterusnya,” kata Menteri Kelautan dan Perikanan periode 2001–2004 tersebut.

Ia juga menekankan pentingnya etos kerja dan pemeliharaan fasilitas bantuan agar manfaat program dapat dirasakan dalam jangka panjang.

“Bekerjalah dengan rajin, jangan malas. Rawatlah fasilitas dari pemerintah dengan baik supaya bisa terus memberi manfaat,” tegasnya.

Letak Desa Kenanga yang berada di sentra industri kerupuk ikan menjadi keunggulan tersendiri. Hasil panen dari kolam bioflok berpeluang langsung diserap oleh pabrik-pabrik pengolahan di sekitar wilayah tersebut, sehingga rantai distribusi lebih singkat dan harga jual relatif stabil.

Melalui program bioflok ini, pembudidaya ikan Desa Kenanga diharapkan mampu meningkatkan profesionalisme usaha, menjaga kepercayaan atas bantuan pemerintah, serta mengembangkan skala produksi secara bertahap.

Dengan manajemen yang baik dan dukungan pasar yang jelas, bioflok di Indramayu berpotensi menjadi contoh sukses pemberdayaan ekonomi lokal berbasis perikanan.

Ikuti dan baca artikel kami lainnya di Google News.