Ikhbar.com: Kesadaran terhadap kelestarian lingkungan hidup kini menjadi keharusan mutlak jika Indonesia ingin menjaga keberlanjutan masa depan bangsa.
Pakar kelautan, Prof. Dr. H. Rokhmin Dahuri memaparkan fenomena yang ia sebut sebagai triple ecological crises (krisis ekologi rangkap tiga), meliputi polusi, hilangnya keanekaragaman hayati, dan pemanasan global atau krisis, beserta dampak negatif yang menyertainya. Ketiga krisis tersebut mulai terasa nyata dan mengancam keberlangsungan hidup manusia.
“Mengacu pada laporan NOAA (National Oceanic and Atmospheric Administration) 2025, suhu rata-rata Bumi meningkat hingga 1,47 derajat Celsius di atas era praindustri. Kondisi ini memicu gelombang panas ekstrem, kekeringan, dan banjir,” ujar Prof. Rokhmin, saat menjadi pembicara kunci dalam Webinar Nasional bertajuk Ekolinguistik: Bahasa, Lingkungan, dan Kesadaran Ekologis dalam Wacana Publik yang diselenggarakan Universitas Muhammadiyah Cirebon (UMC) Press dan Kampung Inggris Purbalingga (KEEP), Sabtu, 17 Januari 2026.

Baca: Ini 3 Dinamika Global yang Harus Diwaspadai Indonesia menurut Prof. Rokhmin
Kondisi tersebut diperparah oleh hilangnya jutaan hektare hutan primer dunia sepanjang 2024, dengan kebakaran hutan sebagai penyebab utama. Di Indonesia, Prof. Rokhmin menyebut deforestasi hingga Oktober 2025 telah mencapai tingkat yang mengkhawatirkan.
Menteri Kelautan dan Perikanan RI periode 2001–2004 itu juga menyoroti krisis keanekaragaman hayati yang tercermin dalam data Living Planet Report.
“Data tersebut menunjukkan populasi rata-rata satwa liar global menurun sebesar 73 persen sejak 1970. Angka ini menggambarkan kondisi keanekaragaman hayati yang semakin tertekan,” katanya.
Selain itu, hilangnya lahan basah dunia akibat alih fungsi lahan dan polusi berpotensi menimbulkan kerugian ekonomi global hingga 39 triliun dolar AS pada pertengahan abad ini.
Di tingkat nasional, kondisi sungai di Indonesia juga berada pada fase kritis. Berdasarkan laporan Kementerian Lingkungan Hidup tahun 2025, sekitar 70,7 persen sungai nasional tergolong tercemar sedang, sementara hanya 29,3 persen yang memenuhi standar kualitas air nasional.
“Masalah sampah juga menjadi perhatian serius. Indonesia tercatat sebagai kontributor terbesar kelima sampah plastik laut dunia. Situasi ini semakin berat karena lebih dari 60 persen limbah plastik tidak dikelola dengan baik,” ujar Anggota Komisi IV DPR RI tersebut.
Baca: Prof Rokhmin: Pembangunan di Indonesia Harus Didasari Prinsip ‘Taubatan Nasuha’
Menghadapi situasi tersebut, Prof. Rokhmin menegaskan bahwa pembangunan ramah lingkungan merupakan prasyarat utama bagi Indonesia untuk menjadi negara maju.
“Visi Indonesia Emas 2045 yang menargetkan kualitas lingkungan hidup pada kategori baik hingga sangat baik serta pembangunan berkelanjutan hanya dapat dicapai melalui pengendalian polusi yang ketat, konservasi keanekaragaman hayati, serta mitigasi dan adaptasi yang serius terhadap pemanasan global,” pungkas Prof. Rokhmin.