Ikhbar.com: Ketergantungan pada sektor tambang, terutama nikel, dinilai belum cukup kuat menopang pembangunan jangka panjang di Maluku Utara. Diperlukan arah baru yang lebih menyentuh basis ekonomi masyarakat serta memanfaatkan potensi wilayah secara menyeluruh.
Model pembangunan agro-maritim ditawarkan sebagai solusi. Pendekatan ini mengintegrasikan sektor pertanian, perikanan, kehutanan, hingga industri berbasis sumber daya lokal dalam satu kerangka yang saling terhubung.
Gagasan tersebut disampaikan Anggota Komisi IV DPR RI, Prof. Dr. Ir. H. Rokhmin Dahuri, dalam Talkshow Menatap Masa Depan Perikanan Maluku Utara bertema “Pembangunan Agro-maritim Berbasis Inovasi untuk Peningkatan Daya Saing, Pertumbuhan Ekonomi Inklusif, Kedaulatan Pangan, dan Kesejahteraan Masyarakat Maluku Utara secara Berkelanjutan”.
Menurut Prof. Rokhmin, karakter wilayah Maluku Utara sangat mendukung pendekatan tersebut. Ia menyebut wilayah ini memiliki luas perairan sekitar 75 persen dari total wilayah, dengan 975 pulau dan garis pantai yang panjang.
“Diperlukan strategi pembangunan yang lebih mensejahterakan rakyat dan berkelanjutan melalui pendekatan agro-maritim, yaitu integrasi pembangunan sektor pertanian dan kelautan berbasis inovasi, hilirisasi, dan penguatan ekonomi lokal,” ujarnya, di Halmahera Ballroom, Bela Hotel Ternate, Sabtu, 11 April 2026.

Baca: Prof. Rokhmin: Ekonomi Maluku Utara Melonjak, Ketimpangan kian Tampak
Prof. Rokhmin menjelaskan bahwa agro-maritim tidak terbatas sebagai konsep sektoral. Pendekatan ini mencakup berbagai aktivitas ekonomi, mulai dari tanaman pangan, hortikultura, perkebunan, peternakan, hingga perikanan tangkap dan budidaya. Seluruh sektor tersebut terhubung dengan industri pengolahan untuk menghasilkan nilai tambah.
Pendekatan ini juga menempatkan inovasi sebagai faktor utama. Teknologi, riset, dan pengembangan industri menjadi penopang agar produk lokal tidak berhenti pada tahap produksi primer.
Selain itu, hilirisasi menjadi strategi untuk meningkatkan daya saing. Produk pertanian dan perikanan tidak lagi dijual dalam bentuk mentah, melainkan diolah menjadi produk bernilai tinggi yang mampu bersaing di pasar nasional maupun global.
Prof. Rokhmin menilai, potensi besar Maluku Utara selama ini belum dimanfaatkan secara optimal karena pembangunan terlalu bertumpu pada sektor ekstraktif. Padahal, sumber daya di sektor agro-maritim lebih beragam dan berkelanjutan.
Ia juga menekankan pentingnya penguatan ekonomi lokal. Pengembangan sektor berbasis masyarakat diharapkan memberi dampak langsung bagi warga, terutama di wilayah pesisir dan pedesaan.
Target dari model ini mencakup pertumbuhan ekonomi, kedaulatan pangan, serta peningkatan kesejahteraan masyarakat. Dengan sistem yang terintegrasi, ketergantungan pada pasokan dari luar daerah dapat dikurangi.
Baca: Prof. Rokhmin Dorong Transformasi Ekonomi Agro-Maritim untuk Dongkrak Daya Saing Daerah
“Pembangunan agro-maritim berbasis inovasi untuk peningkatan daya saing, pertumbuhan ekonomi inklusif, kedaulatan pangan, dan kesejahteraan masyarakat Maluku Utara secara berkelanjutan,” tegasnya.
Guru Besar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB University itu menambahkan, arah pembangunan ini perlu didukung kebijakan yang konsisten serta kolaborasi antara pemerintah pusat, daerah, dan pelaku usaha.
“Dengan pendekatan tersebut, Maluku Utara tidak hanya bertumpu pada tambang, tetapi memiliki fondasi ekonomi yang lebih kuat dan tahan terhadap perubahan global,” pungkasnya.